Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Memaknai Isra Mi'raj: Lebih dari Sekadar Sejarah, Penguatan Iman Umat

Jabar · Oleh Tasya Oktaviani · · Diperbarui 2 Maret 2026

Isra Mi'raj lebih dari sekadar sejarah, ini adalah momen agung penguatan iman dan spiritualitas umat. Shalat menjadi fondasi utama yang menghubungkan hamba dengan Allah, membentuk akhlak, dan menjadi tiang peradaban.

Memaknai Isra Mi'raj: Lebih dari Sekadar Sejarah, Penguatan Iman Umat

Mengulas Isra Mi'raj: Jauh Lebih dari Sekadar Sejarah, Fondasi Penguatan Spiritual Umat

DEPOK – Perjalanan agung Isra dan Mi’raj Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar catatan sejarah lampau, melainkan sebuah momentum epik yang sarat akan makna keimanan, risalah kenabian, dan fondasi penguatan spiritual bagi seluruh umat Islam. Di tengah tantangan dan krisis iman serta moral yang kian kompleks, peristiwa ini hadir sebagai pengingat fundamental akan urgensi kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah shalat.

Hal ini merupakan inti dari kajian rutin yang disampaikan oleh Ust. H. Syahruddin El Fikri, Ketua Umum Yayasan Rumah Berkah Nusantara sekaligus pengasuh Majelis Taklim Rumah Berkah. Dalam forum yang berlangsung Kamis (15/1/2026) di Masjid Jauharatul Jannah, RS Permata Depok, Ust. Syahruddin menjelaskan bahwa Isra Mi’raj adalah ujian keimanan sejati.

"Peristiwa Isra Mi’raj ini tidak cukup dipahami dengan logika semata. Ia harus diterima dengan iman. Di sinilah Allah membedakan antara orang beriman dan orang yang ingkar," tegas Ust. Syahruddin.

Ujian Keimanan dan Kedalaman Makna Isra Mi’raj

Ust. Syahruddin menyoroti bagaimana kaum Quraisy, dengan keterbatasan logikanya, mendustakan kisah luar biasa ini. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu tampil sebagai teladan dengan seketika membenarkan tanpa keraguan sedikit pun, menjadikannya peraih gelar kehormatan 'Ash-Shiddiq' (yang selalu membenarkan).

Perjalanan Isra Mi’raj melintasi tiga dimensi alam yang berbeda:

Shalat: Mi'raj Orang Beriman dan Tiang Peradaban

"Mi’raj adalah perjalanan untuk menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT. Inilah yang menjadikan shalat sebagai ibadah paling istimewa dibandingkan ibadah lainnya," ungkap Ust. Syahruddin.

Beliau menegaskan bahwa shalat adalah 'mi'raj-nya' orang-orang beriman, sebuah kanal komunikasi langsung (direct connection) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Kualitas shalat seseorang menjadi barometer bagi kualitas amal dan kehidupannya secara keseluruhan. Shalat bukan hanya ritual, melainkan juga fondasi utama bagi:

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-‘Ankabut: 45)

"Jika shalat ditegakkan dengan benar, maka ia akan membentuk akhlak mulia, menjaga perilaku dari kerusakan, dan melindungi kehidupan seorang hamba dari berbagai keburukan," tegas Ust. Syahruddin.

Keaslian Isra Mi’raj: Jasad dan Ruh Bersatu

Mengenai hakikat terjadinya Isra Mi’raj, mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah sepakat bahwa peristiwa ini terjadi dengan jasad dan ruh secara bersamaan. Argumentasi ini diperkuat oleh frasa asrā bi‘abdihī dalam QS. Al-Isra ayat 1, yang mengacu pada keseluruhan wujud hamba, baik jasad maupun ruh Rasulullah ﷺ. Pandangan yang menyatakan Isra Mi’raj hanyalah mimpi merupakan pendapat minoritas yang lemah dalilnya.

Isra Mi’raj diyakini terjadi pada malam 27 Rajab, sebelum peristiwa hijrah ke Madinah, setelah Rasulullah ﷺ melewati periode yang sangat berat yang dikenal sebagai 'Amul Huzn (tahun kesedihan). Oleh karena itu, peristiwa ini juga berfungsi sebagai penghibur dan penguat risalah Nabi ﷺ di tengah beratnya perjuangan dakwah.

"Pesan Isra Mi’raj sangatlah jelas. Ia bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan sebuah penguat iman dan risalah fundamental. Shalat ditegaskan sebagai pilar utama ibadah, akhlak, dan peradaban. Siapa yang menjaga shalatnya, insyaAllah hidupnya akan senantiasa dijaga dan diberkahi oleh Allah SWT," pungkas Ust. Syahruddin.

Dengan demikian, peringatan Isra Mi’raj hendaknya tidak hanya menjadi seremoni belaka, melainkan sebuah momentum krusial untuk evaluasi dan perbaikan kualitas shalat, sekaligus menguatkan akar-akar keimanan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Belajar lebih lanjut tentang Isra Mi'raj.