Lonjakan Sampah Organik di Bandung Barat Selama Bulan Ramadan 2026
Produksi sampah organik di Kabupaten Bandung Barat meningkat 60% selama Ramadan 2026, disebabkan oleh sampah rumah tangga dan kuliner musiman. Pemerintah telah menyiapkan strategi pengelolaan untuk menangani puncak lonjakan di Hari Raya Idulfitri

Lonjakan Sampah Organik di Bandung Barat Selama Ramadan 2026
Kegiatan pengelolaan sampah organik di wilayah Kabupaten Bandung Barat selama bulan Ramadan. Foto: Dokumentasi Resmi
Produksi sampah organik di Kabupaten Bandung Barat mengalami peningkatan signifikan sepanjang bulan Ramadan tahun 2026, menurut data resmi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat. Lonjakan volume sampah ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu peningkatan sampah rumah tangga serta sampah dari pedagang kuliner dan pasar lokal.
Kepala UPT Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat, Imam Fauzi, mengkonfirmasi bahwa peningkatan produksi sampah organik mencapai sekitar 60% dari total 680 ton sampah yang dihasilkan setiap hari selama periode bulan suci. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar sampah organik rumah tangga berasal dari sisa makanan saat sesi berbuka puasa dan sahur.
"Sampah organik rumah tangga didominasi oleh sampah dapur dan sisa makanan saat berbuka puasa maupun sahur," katanya pada Jumat (13/3).
Penyebab Tambahan Lonjakan Sampah
Selain sampah dari rumah tangga, Imam juga menambahkan bahwa munculnya para penjual kuliner musiman selama Ramadan turut menyumbang peningkatan volume sampah organik di wilayahnya. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa kondisi ini merupakan tren yang selalu terjadi setiap tahun selama bulan Ramadan.
"Kenaikan sampah organik bisa mencapai sekitar 10% dibandingkan hari biasa. Ini merupakan tren yang selalu terjadi setiap tahun selama Ramadan," ujar Imam.
Kebijakan Daerah dan Kerjasama Pengelolaan
Lonjakan sampah organik ini juga berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang melarang pembuangan sampah organik ke TPA Sarimukti. Kebijakan ini mewajibkan setiap pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Barat untuk mengolah sampah organik di wilayah masing-masing.
Imam menjelaskan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pegiat pengelolaan sampah di wilayah, termasuk pengelola maggot, untuk menangani peningkatan volume sampah organik ini. Ia menegaskan bahwa meskipun terjadi lonjakan, penanganan sampah masih dapat berjalan dengan baik berkat kerjasama ini.
"Kita sudah bekerja sama dengan para pegiat sampah untuk mengelola sampah organik. Alhamdulillah, meski terjadi peningkatan, namun masih bisa kita tangani," jelas Imam.
Puncak Lonjakan di Hari Raya Idulfitri
Selain sampah organik, Imam juga memprediksi bahwa peningkatan produksi sampah akan mencapai puncaknya pada Hari Raya Idulfitri. Bahkan, ia menambahkan bahwa sampah anorganik juga diperkirakan mengalami kenaikan pada periode tersebut.
Untuk mengantisipasi lonjakan sampah pada hari-hari terakhir bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, pihaknya telah menyiagakan petugas kebersihan di beberapa wilayah yang berpotensi mengalami lonjakan, seperti Lembang, Cililin, Cihampelas, Padalarang, dan beberapa kecamatan lainnya. Ia menambahkan bahwa hanya pada hari H Idulfitri saja, petugas kebersihan akan diliburkan.