Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Longsor Tutup Jalur Curug Cibeureum di Gunung Gede: Update Penanganan

Jabar · Oleh Nayla Putri · · Diperbarui 2 Maret 2026

Longsor menutup jalur Curug Cibeureum di Gunung Gede; penanganan manual melibatkan warga, estimasi pembukaan 2‑3 minggu, wisatawan diminta bersabar.

Longsor Tutup Jalur Curug Cibeureum di Gunung Gede: Update Penanganan

Latar Belakang Longsor di Kawasan Curug Cibeureum‑Salabintana

Pada pertengahan Februari 2026, bagian selatan Taman Nasional Gunung Gede‑Pangrango (TNGGP) mengalami longsor massal yang menutupi jalur utama menuju Curug Cibeureum‑Salabintana. Material tanah dan batu setinggi 1,5 meter serta panjang lebih dari 15 meter menghalangi akses, dipicu oleh curah hujan ekstrem yang melanda wilayah Cianjur dan Sukabumi.

"Jalur menuju Curug Cibeureum‑Salabintana tertutup longsor sejak beberapa hari terakhir, sehingga sulit dilalui dan masih dalam penanganan," kata Agus Deni, Humas Balai Besar TNGGP.

Dampak Penutupan Jalur terhadap Pariwisata dan Komunitas Lokal

Upaya Penanganan & Keterlibatan Masyarakat

Balai Besar TNGGP mengaktifkan tim penanggulangan bencana yang bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur serta relawan setempat. Proses pembersihan dilakukan secara manual mengingat kondisi medan yang tidak memungkinkan penggunaan mesin berat.

"Kami berharap segera dapat dilalui agar wisatawan dapat kembali menikmati keindahan air terjun," ujar Agus Deni, menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.

Proyeksi Pembukaan Kembali & Rekomendasi untuk Wisatawan

Balai Besar TNGGP menyatakan bahwa penyelesaian pembersihan diperkirakan memakan waktu 2‑3 minggu, tergantung pada kondisi cuaca. Selama periode ini, pihak pengelola mengeluarkan surat edaran resmi yang melarang akses kendaraan maupun pejalan kaki ke area terdampak.

Rekomendasi bagi wisatawan:

Dengan penanganan yang terkoordinasi serta kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan, diharapkan Curug Cibeureum‑Salabintana dapat kembali dibuka dalam waktu singkat, memperkuat posisi kawasan ini sebagai destinasi ekowisata unggulan di Jawa Barat.


Artikel ini disusun berdasarkan informasi resmi Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango serta data lapangan pada 17 Februari 2026.