Longsor Tutup Jalur Curug Cibeureum di Gunung Gede: Update Penanganan
Longsor menutup jalur Curug Cibeureum di Gunung Gede; penanganan manual melibatkan warga, estimasi pembukaan 2‑3 minggu, wisatawan diminta bersabar.

Latar Belakang Longsor di Kawasan Curug Cibeureum‑Salabintana
Pada pertengahan Februari 2026, bagian selatan Taman Nasional Gunung Gede‑Pangrango (TNGGP) mengalami longsor massal yang menutupi jalur utama menuju Curug Cibeureum‑Salabintana. Material tanah dan batu setinggi 1,5 meter serta panjang lebih dari 15 meter menghalangi akses, dipicu oleh curah hujan ekstrem yang melanda wilayah Cianjur dan Sukabumi.
"Jalur menuju Curug Cibeureum‑Salabintana tertutup longsor sejak beberapa hari terakhir, sehingga sulit dilalui dan masih dalam penanganan," kata Agus Deni, Humas Balai Besar TNGGP.
Dampak Penutupan Jalur terhadap Pariwisata dan Komunitas Lokal
- Penurunan kunjungan wisatawan: Curug Cibeureum merupakan salah satu destinasi air terjun paling populer di Jawa Barat, sehingga penutupan jalur menurunkan angka kunjungan bulanan hingga 40 % menurut data lapangan.
- Kerugian ekonomi bagi penduduk sekitar: Warga desa sekitar mengandalkan pendapatan dari penjualan makanan, souvenir, dan jasa pemandu. Penutupan jalur mengakibatkan penurunan pendapatan harian rata‑rata Rp 150.000 per kepala.
- Risiko keselamatan: Meskipun area ditutup, beberapa wisatawan tetap mencoba menembus area longsor, meningkatkan potensi cedera atau korban jiwa.
Upaya Penanganan & Keterlibatan Masyarakat
Balai Besar TNGGP mengaktifkan tim penanggulangan bencana yang bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur serta relawan setempat. Proses pembersihan dilakukan secara manual mengingat kondisi medan yang tidak memungkinkan penggunaan mesin berat.
- Langkah‑langkah utama:
- Penandaan zona bahaya dan pemasangan rambu peringatan.
- Penggalian material longsor dengan sekop, cangkul, dan alat angkut ringan.
- Penstabilan lereng menggunakan jaring anti‑erosi dan drainase sementara.
- Monitoring intensif terhadap curah hujan dan potensi longsor susulan.
- Keterlibatan warga: Lebih dari 30 relawan lokal terlibat dalam penggalian, dibantu oleh kelompok pemuda desa yang menyediakan logistik makanan dan air.
"Kami berharap segera dapat dilalui agar wisatawan dapat kembali menikmati keindahan air terjun," ujar Agus Deni, menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.
Proyeksi Pembukaan Kembali & Rekomendasi untuk Wisatawan
Balai Besar TNGGP menyatakan bahwa penyelesaian pembersihan diperkirakan memakan waktu 2‑3 minggu, tergantung pada kondisi cuaca. Selama periode ini, pihak pengelola mengeluarkan surat edaran resmi yang melarang akses kendaraan maupun pejalan kaki ke area terdampak.
Rekomendasi bagi wisatawan:
- Tunggu pengumuman resmi tentang pembukaan jalur sebelum merencanakan kunjungan.
- Pantau informasi cuaca melalui portal BMKG dan media sosial resmi TNGGP.
- Gunakan jalur alternatif yang masih aman, seperti trek menuju Curug Cikaso atau Curug Cipanas, yang belum terdampak.
- Hormati lingkungan dengan tidak meninggalkan sampah dan mematuhi aturan parkir.
Dengan penanganan yang terkoordinasi serta kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan, diharapkan Curug Cibeureum‑Salabintana dapat kembali dibuka dalam waktu singkat, memperkuat posisi kawasan ini sebagai destinasi ekowisata unggulan di Jawa Barat.
Artikel ini disusun berdasarkan informasi resmi Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango serta data lapangan pada 17 Februari 2026.