Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Lewat Metode Storytelling, Anak Sumedang Dilindungi dari Ancaman Konten Digital

Jabar · Oleh ·

KPID dan DPRD Provinsi Jawa Barat edukasi anak SDN Jatihurip Sumedang tentang perlindungan dari konten negatif internet melalui metode storytelling yang efektif dan menarik.

Lewat Metode Storytelling, Anak Sumedang Dilindungi dari Ancaman Konten Digital

Ancaman Konten Digital Mengintai Anak usia Dini

Anak-anak di Jawa Barat kini menghadapi ancaman serius dari paparan konten negatif di internet. Pertanyaan penting yang harus dijawab bersama adalah: siapa yang melindungi generasi muda dari dampak destruktif konten digital?

Pertanyaan ini bukan retorika kosong. Data menunjukkan bahwa kebebasan akses internet pada usia dini tanpa filter terbukti dapat merusak proses berpikir dan perkembangan kognisi anak. Realita di lapangan pun tak bisa dipungkiri: banyak orangtua yang memberikan gawai kepada anak secara bebas tanpa diimbangi kemampuan kontrol atau pengawasan memadai terhadap konten yang diakses.

Kolaborasi KPID dan DPRD Jawa Barat untuk Proteksi Anak

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (PRD) Provinsi Jawa Barat mengambil langkah konkret untuk membentengi generasi muda dari dampak negatif tersebut. Salah satu kegiatannya diselenggarakan di SDN Jatihurip, Kabupaten Sumedang, Kamis (18/6).

Para siswa dan orangtua diajak menyelami pentingnya pemanfaatan media penyiaran dan internet sehat melalui metode cerita edukatif atau storytelling yang bertemakan Perlindungan Anak dan Perempuan.

Dampak Psikologis Paparan Konten Negatif pada Anak

Dampak psikologis dari paparan konten negatif termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Berdasarkan riset yang dilakukan KPID Jawa Barat, anak-anak menjadi lebih rentan mengalami:

Bukan hanya berasal dari program televisi atau radio konvensional, melainkan dari derasnya arus informasi di media berbasis internet. Bahaya hari ini yang mengancam anak-anak adalah media berbasis internet itu sendiri.

"Anak-anak sedang menghadapi ancaman besar, yakni pengaruh buruk dari internet. Orangtua memberikan HP, dan mereka tidak bisa mengontrol apa yang diakses anak," tegas Adiyana Slamet, Ketua KPID Jawa Barat.

Storytelling: Pendekatan Efektif untuk Anak

Metode storytelling sengaja dipilih sebagai pendekatan utama karena dinilai jauh lebih efektif untuk menyentuh psikologis anak-anak dibandingkan dengan metode ceramah formal yang cenderung kaku dan membosankan.

"Kami ingin sesuatu yang baru, tidak mungkin masuk ke anak-anak dengan ceramah yang serius. Ini metode satu-satunya di Indonesia yang dilakukan oleh KPID Jawa Barat dengan metode storytelling sehingga apa yang disampaikan bisa diterima dengan gampang oleh anak-anak dan orang tua," terang Adiyana.

Model sosialisasi interaktif ini diklaim sebagai satu-satunya inovasi di Indonesia yang diinisiasi KPID Jawa Barat untuk menyederhanakan pesan-pesan berat seputar perlindungan anak agar dapat dicerna dengan mudah.

Peran Legislatif dalam Perlindungan Anak Digital

Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari, menyambut baik inisiatif ini. Politisi Perempuan dari Golkar ini mengakui bahwa fenomena ketergantungan gawai pada anak merupakan keprihatinan bersama yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah secara parsial.

"Kalau hanya pemerintah tanpa ada kepedulian dari KPID, dari orangtua, dari sekolah, kita secara bersama-sama, masalah ini akan terus terjadi," jelas Ineu.

Provinsi Jawa Barat telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak. Namun, pesatnya kemajuan teknologi digital menuntut regulasi yang lebih spesifik berfokus pada langkah pencegahan dini terhadap ancaman siber bagi anak usia sekolah dasar.

Momentum Strategis untuk Proteksi Sejak Dini

Selama ini, DPRD Jawa Barat bersama Pemerintah Daerah telah menggulirkan program pendidikan demokrasi di tingkat SMA. Kehadiran program di SDN Jatihurip ini menjadi momentum strategis untuk memulai proteksi sejak dini dari tingkat SD dan SMP.

"Kalau di DPRD Provinsi dengan Pemda Provinsi kami sudah memiliki program pendidikan demokrasi, tapi kan di tingkat SMA. Kalau ini kan dari SD, SMP yang bisa juga mencegah secara dini, menjaga anak-anak dan terus menciptakan anak-anak yang berkarakter," tutur legislator tersebut.

Cita-Cita Indonesia Emas 2045 Ada di Tangan Generasi Muda

Ineu mengingatkan konsekuensi fatal yang harus ditanggung bangsa ini apabila pemerintah dan masyarakat abai terhadap fenomena polusi digital yang mengintai anak-anak.

"Salah satu kunci keberhasilan kan harus ada kepedulian semua, baik pemerintah, masyarakat, keluarga dan sebagainya. Kalau abai, kami khawatir apa yang diharapkan pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas 2045 akan tidak mudah untuk dicapai," pesan politisi berpengalaman ini.

Untuk mencapai visi besar tersebut, perlindungan anak harus dimulai sejak dini dan melibatkan seluruh sektor secara gotong-royong.

Apresiasi dari Sekolah

Kepala Sekolah SDN Jatihurip, Yati Sumiati, mengaku sangat bersyukur bisa mendapatkan edukasi langsung dari KPID dan DPRD Jawa Barat.Menurut Yati, edukasi seperti ini sangat bermanfaat untuk guru, siswa, dan orang tua agar senantiasa bisa menjaga anak-anak dari ancaman konten yang bisa merusak kognisi mereka.

Edukasi mendalam dengan balutan cerita menarik dan diminati anak-anak ini, baru kali pertama dirasakan di sekolah. Diharapkan kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan secara massif mengingat pentingnya edukasi tersebut untuk menjaga kualitas generasi muda Jawa Barat.