Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Lestarikan Permainan Lolorian Garut: Upaya Cegah Kecanduan Gawai Anak

Jabar · Oleh Nayla Putri ·

Permainan tradisional Lolorian di Garut, Jawa Barat, dibuat dari limbah pohon aren dengan trek 120 meter. Dilestarikan sejak 1965 untuk mencegah kecanduan gawai anak melalui aktivitas budaya.

Lestarikan Permainan Lolorian Garut: Upaya Cegah Kecanduan Gawai Anak

Permainan Lolorian: Warisan Budaya Garut yang Menggugah Semangat

Pada hari Kamis, 26 Maret 2026, Kampung Ciherang di Kecamatan Malangbong, Garut, Jawa Barat, menyambut arus pengunjung yang ingin merasakan sensasi bermain Permainan Tradisional Lolorian. Kegiatan ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata budaya lokal, tetapi juga membawa misi mulia untuk melestarikan warisan nenek moyang sambil menangkal masalah kecanduan gawai di kalangan anak-anak.

Karakteristik Unik Permainan Lolorian

Permainan Lolorian yang ada di Kampung Ciherang memiliki ciri khas yang membedakannya dari permainan tradisional lainnya. Trek permainan yang mencapai 120 meter ini dibangun sepenuhnya dari limbah pohon aren, dengan bahan baku yang diolah dan disusun secara swadaya oleh warga setempat. Sejarah permainan ini sudah berlangsung sejak tahun 1965, dan telah dilestarikan secara turun temurun oleh generasi warga Garut tanpa pernah terputus.

Permainan Lolorian bukan hanya sekadar permainan, tetapi juga bukti bagaimana masyarakat lokal dapat memanfaatkan limbah alam untuk menciptakan hiburan yang sehat dan bernilai budaya.

Cara bermain Lolorian sendiri cukup sederhana: peserta akan berjalan atau berlari di atas trek yang terbuat dari bilah pohon aren yang disusun rapat, dengan tujuan mencapai garis finish secepat mungkin. Permainan ini dapat dimainkan oleh kelompok anak-anak atau dewasa, menjadikannya aktivitas yang cocok untuk semua usia.

Tujuan Pelestarian: Mengurangi Kecanduan Gawai Anak

Salah satu alasan utama dilestarikan nya Permainan Lolorian adalah untuk mencegah kecanduan gawai pada anak-anak. Di era digital saat ini, banyak anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar perangkat elektronik, seperti hp, tablet, atau televisi. Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, gangguan tidur, dan penurunan kemampuan sosial.

Permainan Lolorian menawarkan alternatif aktivitas yang sehat dan menyenangkan, yang mengajarkan anak-anak tentang kerjasama tim, meningkatkan aktivitas fisik, serta mengenalkan mereka pada warisan budaya Indonesia yang kaya. Dengan bermain Lolorian, anak-anak dapat menghabiskan waktu luang mereka dengan hal yang positif, tanpa harus bergantung pada gawai.

Peran Komunitas dalam Memelihara Warisan Budaya

Pembangunan dan pemeliharaan trek Lolorian di Kampung Ciherang tidak lepas dari peran aktif warga setempat. Mereka bekerja sama secara gotong royong untuk mengumpulkan limbah pohon aren, mengolahnya menjadi bahan trek, dan menyusunnya menjadi jalur permainan yang panjang dan aman. Selain itu, warga setempat juga secara rutin merawat trek Lolorian agar tetap layak digunakan, dan mengorganisir kegiatan permainan untuk mengundang pengunjung, terutama anak-anak, untuk mencobanya.

Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk mengajarkan nilai-nilai gotong royong dan cinta budaya kepada generasi muda. Dengan melestarikan Permainan Lolorian, warga setempat ingin memastikan bahwa warisan budaya Indonesia tidak akan hilang ditelan zaman, dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Dampak Positif Permainan Lolorian bagi Masyarakat

Selain sebagai upaya pelestarian budaya, Permainan Lolorian juga memiliki dampak positif lain bagi masyarakat setempat. Permainan ini menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik pengunjung dari berbagai daerah, yang dapat meningkatkan perekonomian warga setempat melalui usaha kecil, seperti penjualan makanan dan minuman, atau kerajinan tangan.

Selain itu, Permainan Lolorian juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, yang dapat mempererat hubungan sosial di antara warga setempat. Kegiatan permainan ini juga dapat menginspirasi masyarakat lain untuk melestarikan warisan budaya mereka sendiri, sehingga dapat menjaga keberagaman budaya Indonesia.