Legislator Dorong SMA/SMK di Garut Masukkan Seni Budaya ke Pembelajaran Sehari-hari
Legislator Jawa Barat Aten Munajat mendorong program seni budaya diintegrasikan ke pembelajaran sekolah menengah di Garut sebagai upaya membentuk karakter siswa dan menangkal pengaruh negatif teknologi.

Kabupaten Garut memiliki ratusan SMA dan SMK yang tersebar di 42 kecamatan. Jumlah itu belum termasuk puluhan ribu siswa tingkat SMP dan SD yang akan meneruskan pendidikan ke jenjang menengah.
Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat, Aten Munajat, menilai jumlah tersebut menjadi peluang besar untuk menanamkan nilai-nilai budaya secara masif kepada generasi muda. Ia menyoroti program pendidikan seni dan budaya yang selama ini sering hanya berjalan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
"Program seni dan budaya di sekolah terus dioptimalkan karena bukan sekadar menjadi kegiatan ekstrakurikuler atau pertunjukan semata, tetapi merupakan bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik," kata politikus dari daerah pemilihan Garut itu.
Komisi V yang membidangi pendidikan, kesenian, dan kebudayaan berkomitmen mengawal pelaksanaan program di tingkat SMA dan SMK. Perhatian khusus ditujukan pada daerah-daerah yang memiliki tradisi budaya kuat namun akses terhadap kegiatan seni di sekolah masih terbatas.
Nilai-nilai budaya yang diajarkan tidak hanya berkisar kesenian dan tradisi lokal. Aten menekankan perlunya memperluas cakupan agar siswa memahami sikap saling menghargai, toleransi, dan gotong royong sebagai bagian dari identitas bangsa.
"Nilai-nilai budaya yang ditanamkan tidak hanya terkait seni dan tradisi, tetapi juga mencakup sikap saling menghargai, saling menghormati, gotong royong, toleransi, disiplin, serta menghargai keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa," katanya.
Baca Juga: Asep Dawus, Pak Ogah di Banjar, Ditemukan Tewas dengan Luka Paruh di Perut
Salah satu ancaman yang mendorong dorongan ini adalah derasnya arus informasi dan pengaruh negatif perkembangan teknologi di kalangan pelajar. Aten memandang program seni dan budaya sebagai upaya preventif untuk menangkal dampak tersebut.
Sekolah diminta mengintegrasikan pendidikan karakter berbasis budaya ke dalam proses pembelajaran dan kegiatan sehari-hari. Kolaborasi dengan seniman dan budayawan daerah menjadi bagian dari strategi yang diusulkan agar siswa memiliki jati diri yang kuat.
"Kemajuan zaman tidak mengikis nilai-nilai budaya, melainkan menjadi sarana untuk memperkenalkan dan mengembangkan budaya bangsa kepada generasi muda," kata Aten.
Ia berharap sekolah tidak hanya mencetak generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang berkarakter dan bangga terhadap budaya Indonesia. Dengan pengawalan dari legislator, program ini diharapkan tidak sekadar menjadi rencana di atas kertas.