Kuliner Sunda: Upaya Menjadi Daya Tarik Wisata Dunia di Jawa Barat
Nota kesepahaman antara Bumi Aki Heritage dan Dinas Pariwisata Jabar bersama Kemenparekraf menjadi langkah mengembangkan kuliner Sunda jadi daya tarik wisata global.

Jawa Barat terus berupaya mengangkat kuliner Sunda ke panggung global melalui kolaborasi lintas sektor yang terstruktur. Langkah strategis terbaru ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Bumi Aki Heritage dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, yang disaksikan langsung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Kesepakatan ini bukan hanya bertujuan meningkatkan popularitas kuliner lokal, tetapi juga memadukan cita rasa, cerita, dan nilai budaya menjadi bagian integral dari pengalaman wisata yang utuh.
Potensi Kuliner Sunda yang Belum Maksimal Dikelola
CEO Bumi Aki Heritage, Anisha Desiliana Resti, menilai bahwa kuliner Sunda memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap di pasar internasional. Menurutnya, di bandara-bandara dunia, wisatawan lebih familiar dengan hidangan seperti sushi atau nasi lemak, namun kurang mengenal hidangan khas Sunda seperti seblak, empal gentong, dan karedok.
"Kami ingin mengangkat kuliner Sunda tidak hanya untuk populer, tetapi juga untuk menunjukkan nilai gizi dan daya terima yang luas di pasar global," ujar Anisha dalam wawancara eksklusif.
Ia menambahkan bahwa upaya promosi yang dilakukan sejak beberapa waktu terakhir sudah menunjukkan hasil positif. Bumi Aki Heritage kini berhasil menarik minat wisatawan mancanegara dari berbagai negara, mulai dari Malaysia, India, Singapura, hingga Jepang. Sinergi dengan agen perjalanan juga membuka ceruk pasar baru, seperti paket wisata golf untuk tamu dari Jepang dan Korea Selatan yang ingin mencicipi kuliner lokal setelah berolahraga.
Perspektif Dinas Pariwisata Jawa Barat
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Iendra Sofyan, menekankan bahwa gastronomi harus dipahami sebagai pengalaman multisensori, bukan sekadar aktivitas makan biasa. Menurutnya, wisatawan harus dapat merasakan cerita di balik setiap hidangan, melihat bentuk sajian, merasakan cita rasa yang khas, dan memahami cara memasak yang telah diwariskan turun-temurun.
"Lima pancaindra harus terlibat sepenuhnya. Di situlah kuliner bukan hanya menjadi makanan, tetapi juga pengalaman budaya yang berharga," jelas Iendra.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah Jawa Barat sedang menyiapkan berbagai instrumen pendukung, mulai dari regulasi yang mendukung pengembangan UMKM kuliner hingga edukasi bagi pelaku usaha untuk berorientasi pada pengalaman wisata. Transformasi ini diharapkan dapat mengubah cara pandang industri kuliner lokal agar lebih fokus pada nilai tambah budaya dan pengalaman pelanggan.
Dukungan dan Prioritas dari Kemenparekraf
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf, Rizky Handayani Mustafa, menyatakan bahwa gastronomi merupakan salah satu program prioritas yang perlu dikembangkan secara masif dan kolaboratif. Ia mendorong tour operator untuk membuat paket wisata kuliner yang terintegrasi, mulai dari pagi dengan menikmati kopi khas Sunda, siang dengan bubur tradisional, sore dengan kudapan lokal, hingga malam menikmati hidangan utama seperti empal gentong.
"Paket ini bisa disesuaikan dengan gaya hidup wisatawan, termasuk generasi muda yang menyukai pengalaman kuliner yang autentik," ujar Rizky.
Rizky juga menyoroti pentingnya narasi di balik setiap hidangan sebagai kekuatan diferensiasi. Menurutnya, storytelling dapat menjadikan kuliner bukan hanya produk konsumsi, tetapi juga medium untuk menyampaikan identitas budaya Jawa Barat kepada dunia.
Tantangan dalam Kurasi Kuliner Ikon
Meskipun Jawa Barat memiliki kekayaan kuliner dari berbagai daerah seperti Cirebon, Garut, dan Bandung, daerah ini masih menghadapi tantangan dalam kurasi hidangan ikon yang dapat dikenali secara global. Rizky menekankan bahwa penentuan ikon kuliner yang jelas sangat penting untuk memperkuat positioning Jawa Barat di pasar internasional.
"Jika sate ayam identik dengan Madura dan sate kambing dengan Tegal, maka Jawa Barat bisa menonjolkan sate Marangi sebagai ikon kuliner lokal. Hal ini akan membantu wisatawan mancanegara mengingat dan mencari hidangan khas dari daerah ini," tambahnya.
Harapan dan Masa Depan Kuliner Sunda
Kesepakatan MoU ini diharapkan menjadi fondasi awal dalam membangun Jawa Barat sebagai destinasi gastronomi unggulan di dunia. Dengan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, pelaku usaha, dan stakeholder lain, kuliner Sunda tidak hanya akan bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang kompetitif di tingkat internasional.