Kronologi OTT Ketua PN Depok: Transaksi Rp850 Juta di Emeralda Golf
KPK melakukan OTT di Depok pada 5 Februari 2026 dengan kronologi 15 jam stakeout, mulai dari dini hari hingga malam. Operasi ini mengungkap dugaan suap Rp850 juta antara PT Karabha Digdaya dan Juru Sita PN Depok, melibatkan pengejaran gelap malam dan penangkapan beberapa tokoh penting di lingkungan peradilan dan perusahaan.

OTT KPK Depok 2026: Kronologi 15 Jam Stakeout, Pengejaran Gelap, dan Penangkapan Juru Sita PN Depok
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT) yang menghebohkan di Kota Depok, Jawa Barat, pada hari Minggu (5/2/2026). Kasus ini mengungkap dugaan suap sebesar Rp850 juta antara pihak perusahaan dan pejabat Pengadilan Negeri (PN) Depok. Berbeda dengan kasus OTT umum, operasi ini melibatkan stakeout selama 15 jam dari dini hari hingga malam, serta pengejaran gelap yang menambah drama pada penindakan KPK.
Kronologi 15 Jam Stakeout KPK dari Dini Hari Hingga Malam
Kegiatan OTT ini dimulai dengan persiapan yang matang dari tim KPK. Menurut Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, tim sudah siap melakukan pemantauan sejak dini hari, sebelum terjadinya transaksi dugaan suap.
Pemasangan Pantauan Sejak Pukul 04.00 WIB
"Tim sudah bersiap sejak dini hari. Namun, hingga pagi hari, penyerahan uang belum juga dilakukan," kata Budi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (6/2) malam.
Setelah tidak ada tanda-tanda transaksi pada pagi hari, tim KPK melanjutkan pemantauan hingga siang hari. Kunci dari operasi ini adalah mengikuti pergerakan dua pihak yang terlibat: PT Karabha Digdaya dan pejabat PN Depok.
Pengambilan Uang Rp850 Juta di Bank Cibinong
Pada pukul 13.39 WIB, tim KPK memantau pergerakan pegawai PT Karabha Digdaya berinisial ALF yang mengambil uang tunai sebesar Rp850 juta dari salah satu bank di wilayah Cibinong, Jawa Barat. Selain itu, tim juga memantau pergerakan Direktur Utama PT Karabha Digdaya, Trisnadi Yulrisman, serta pegawai lain dari perusahaan tersebut.
Sekitar pukul 14.36 WIB, dua mobil milik PT Karabha Digdaya bergerak dari lokasi berbeda:
- Mobil pertama ditumpangi pegawai berinisial AND dengan membawa uang Rp850 juta
- Mobil kedua ditumpangi pegawai berinisial GUN bersama Head Corporate Legal Karabha Digdaya, Berliana Tri Kusuma
Pada waktu yang sama, tim KPK juga memantau satu mobil dari PN Depok yang ditumpangi Juru Sita PN Depok, Yohansyah Maruanaya.
Pertemuan Tiga Mobil di Emeralda Golf Tapos
Ketiga mobil tersebut kemudian bertemu di lokasi yang sama: Emeralda Golf Tapos, Depok. Lokasi ini dipilih sebagai tempat transaksi karena dianggap cukup terpencil dan minim pengawasan, sehingga cocok untuk melakukan aktivitas yang tidak ingin terlihat oleh publik.
Pengejaran Gelap Malam: Saat Yohansyah Coba Melarikan Diri
Transaksi dugaan suap terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, saat pihak PT Karabha Digdaya menyerahkan uang Rp850 juta kepada Yohansyah. Setelah transaksi selesai, tim KPK segera bergerak untuk melakukan penindakan.
Namun, saat hendak mengamankan Yohansyah, terjadi situasi yang tidak terduga: kendaraan yang ditumpangi Yohansyah mencoba melarikan diri. Kondisi malam yang gelap dan lokasi yang terpencil membuat pengejaran menjadi lebih sulit.
"Sempat terjadi pengejaran karena kendaraan dari PN Depok sempat terlepas dari pantauan. Namun, berhasil diamankan setelah beberapa menit," ujar Budi.
Setelah beberapa menit pengejaran, tim KPK berhasil menghentikan kendaraan Yohansyah dan mengamankan yang bersangkutan.
Hasil OTT: Penangkapan Beberapa Tokoh dan Penyitaan Uang Tunai
Dalam operasi ini, KPK berhasil menangkap beberapa tokoh yang terlibat:
- Yohansyah Maruanaya (Juru Sita PN Depok)
- AND (pegawai PT Karabha Digdaya)
- GUN (pegawai PT Karabha Digdaya)
- Berliana Tri Kusuma (Head Corporate Legal PT Karabha Digdaya)
- Trisnadi Yulrisman (Direktur Utama PT Karabha Digdaya)
- I Wayan Eka Mariarta (Ketua PN Depok)
- Bambang Setyawan (Wakil Ketua PN Depok)
Selain itu, KPK juga menyita satu tas ransel berwarna hitam yang berisi uang tunai sebesar Rp850 juta—uang yang menjadi objek dugaan suap dalam kasus ini.
Implikasi Kasus untuk Sistem Peradilan di Jawa Barat
Kasus OTT ini memiliki implikasi yang cukup besar untuk sistem peradilan di Jawa Barat, terutama di Depok. Keikutsertaan pejabat PN Depok dalam dugaan suap menunjukkan adanya potensi kerusakan integritas di lingkungan peradilan, yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum Indonesia.
Untuk masyarakat di Depok dan sekitarnya, kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak ada lembaga yang kebal dari pengawasan KPK, termasuk lembaga peradilan. Hal ini juga menunjukkan komitmen KPK untuk menindak korupsi di semua tingkat, tanpa memandang jabatan atau status seseorang.
Penutup: Langkah Selanjutnya KPK dalam Kasus Ini
Setelah melakukan OTT, KPK akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap seluruh jaringan korupsi yang terlibat dalam kasus ini. Tim penyidik akan memeriksa bukti-bukti yang telah disita, serta melakukan interogasi terhadap semua pihak yang diambil ke dalam penyelidikan.
Kasus ini juga diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi seluruh pejabat publik di Jawa Barat, terutama di lingkungan peradilan, untuk selalu menjaga integritas dan tidak terlibat dalam aktivitas korupsi yang merusak masyarakat.