Kriya Jawa Barat: Kolaborasi Tradisi dan Teknologi untuk Kesejahteraan Pengrajin
Industri kriya Jawa Barat di penting antara tradisi dan inovasi. Pemerintah dan Bank Indonesia berperan strategis memperkuat ekosistem ekonomi kreatif pengrajin.

Industri kriya Jawa Barat tengah menghadapi yang menentukan arah masa depannya. Anyaman bambu, ukiran kayu, hingga kain tradisional bukan sekadar warisan budaya—melainkan fondasi ekonomi kreatif yang potensinya belum tergali optimal.
Tantangan di Persimpangan Perubahan
Saat ini, pengrajin di Tatar Pasundan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dari sekadar menghasilkan karya estetis. Perubahan selera pasar global dan pesatnya transformasi digital menuntut produk kriya beradaptasi tanpa kehilangan akar budayanya.
Baca Juga: Pemprov Jabar Pindahkan Lokasi Upacara HUT ke-81 dari Gasibu ke Halaman Gedung Sate
Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara tegas mendorong seluruh pengrajin untuk keluar dari zona nyaman. Inovasi produk yang adaptif terhadap tren pasar global menjadi prasyarat utama agar sektor kerajinan tidak mengalami stagnasi ekonomi.
"Saya meminta untuk terus meningkatkan inovasi, karena Jabar memiliki kekayaan budaya dan tradisi. Jika dikaitkan dengan pemanfaatan teknologi digital akan meningkatkan pendapatan ekonomi dari sektor kriya ini," tegas Erwan Setiawan di Bandung, Senin (29/6/2026).
Strategi Penguatan Ekosistem Kriya
Wakil Gubernur Jawa Barat ini memandang bahwa kekayaan budaya lokal tidak akan berdampak signifikan bagi kesejahteraan tanpa diimbangi teknologi modern. Ia meyakini produk kriya hasil karya SDM Jawa Barat memiliki modalitas yang kuat untuk bersaing, baik nasional maupun internasional.
Baca Juga: Farhan Panggil Semua Operator Transportasi di Stasiun Bandung untuk Atasi Kemacetan
Langkah konkret diwujudkan melalui Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB) 2026, sebuah ajang yang dirancang sebagai panggung transformasi. Lewat PKJB, produk kriya didorong naik kelas—bukan sekadar pajangan, melainkan komoditas ekonomi bernilai tambah tinggi dengan narasi budaya kuat dan kemasan modern.
Dukungan juga mengalir dari sektor perbankan. Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, Junanto Herdiawan, menilai langkah ini sangat strategis.
"Industri ini melibatkan banyak pelaku usaha, mulai dari pengrajin, penjahit, desainer, pelaku usaha konveksi, fotografer, model, hingga pelaku pemasaran digital," papar Junanto.
Junanto menjelaskan bahwa industri kreatif, terutama subsektor mode dan kriya, memiliki multiplier effect luas bagi perekonomian. Rantai kerjanya melibatkan begitu banyak profesi dan sektor penunjang.
Bank Indonesia sendiri berkomitmen memberikan penguatan bagi UMKM Jawa Barat melalui tiga pilar utama dukungan.
Keseimbangan: Bukan Pilihan Antara Tradisi atau Modernitas
Di ini, inovasi tidak berarti meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, ia menjadi cara memastikan tradisi tetap hidup dan relevan. Pengrajin perlu memahami:
- Tren warna dan desain global
- Desain minimalis yang fungsional
- Standar keberlanjutan (sustainability) yang jadi perhatian konsumen internasional
Dengan sinergi kebijakan pemerintah, penguatan ekosistem digital, dan keberanian berinovasi, kriya Jawa Barat berpeluang menjadi tulang punggung ekonomi baru yang tangguh dan berkelanjutan.