Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kota Baru Parahyangan: Modernitas Berpadu dengan Identitas Sejarah Sunda

KBB · Oleh · · Diperbarui 8 Agustus 2026

Kota Baru Parahyangan di Bandung Barat lestarikan sejarah Sunda lewat penamaan tatar hunian berbasis figur sejarah dan legenda. Modernitas berpadu dengan identitas budaya lokal.

Kota Baru Parahyangan: Modernitas Berpadu dengan Identitas Sejarah Sunda

Arsitektur Bernuansa Sejarah sebagai Wujud Pelestarian Budaya

Di tengah gencarnya pembangunan kawasan hunian modern yang identik dengan penamaan bernuansa internasional, Kota Baru Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat justru memilih jalan berbeda. Sejak awal perencanaannya, kawasan mandiri ini dirancang dengan filosofi bahwa modernitas tidak harus menggerus identitas lokal. Bentuk konkretnya terlihat pada penamaan setiap klaster hunian yang secara konsisten menghidupkan kembali nama tokoh, raja, ratu, hingga legenda dalam linimasa sejarah dan budaya Sunda.

Tatar: Lebih dari Sekadar Padanan Kata untuk Cluster

Secara sosiolinguistik, kata tatar dalam bahasa Sunda bermakna wilayah, kawasan, atau hamparan daerah. Istilah ini melekat erat pada sebutan Tatar Sunda yang merujuk pada wilayah kebudayaan masyarakat Sunda sebagai pusat perkembangan kerajaan-kerajaan besar pada masa lampau.

Baca Juga: Ribuan Tenaga Non-ASN di Bandung Barat Tak Bisa Direkrut jadi PPPK Paruh Waktu Tahun Ini

Penggunaan terminologi tatar di Kota Baru Parahyangan bukan sekadar padanan kata untuk menggantikan istilah cluster, melainkan bentuk penghormatan dan mendalam terhadap identitas budaya lokal Sunda.

Konsep pelestarian ini bukan sekadar strategi pemasaran visual untuk memikat konsumen. Penggunaan nama-nama historis tersebut difungsikan sebagai media edukasi kultural yang efektif untuk memperkenalkan kembali akar sejarah Tatar Sunda kepada masyarakat luas, khususnya bagi generasi muda yang bermukim di dalamnya.

Keunikan Penamaan Figur Sejarah dan Tema Lingkungan Hunian

Keunikan tata ruang di kawasan ini terletak pada keselarasan antara penamaan figur sejarah dengan tema lingkungan yang diusung. Setiap tatar dirancang memiliki cerita dan benang merah filosofisnya masing-masing yang terefleksikan melalui desain taman tematik.

Baca Juga: Pengobatan Turun Temurun di Cihampelas Bandung Barat Klaim Panggul dan Paha Paling Sulit Sembuhkan

Ekspansi Referensi Tokoh dan Legenda Folklor Pasundan

Eksplorasi penamaan klaster di Kota Baru Parahyangan terus meluas dengan menyerap khazanah cerita rakyat serta nama-nama bangsawan Sunda yang sarat makna filosofis.

Diversitas Nama dengan Makna Filosofis

Selain nama-nama besar di atas, Kota Baru Parahyangan juga mengembangkan diversitas identitas spasial yang kaya makna:

Seluruhnya dikonversi menjadi identitas spasial modern yang mencerminkan harmoni antara kebutuhan hunian kontemporer dan pelestarian warisan budaya.

Komitmen Melestarikan Jati Diri Sunda

Lewat pendekatan sistematis ini, Kota Baru Parahyangan membuktikan bahwa pembangunan kawasan hunian modern dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya. Setiap nama tatar yang digunakan bukan hanya label geografis semata, melainkan jembatan penghubung antara generasi saat ini dengan kekayaan historis yang telah membentuk karakter masyarakat Sunda selama berabad-abad.

Bagi masyarakat yang menghuni kawasan ini, keberadaan nama-nama historis tersebut menjadi pengingat konstan akan akar budaya yang mereka warisi, sekaligus motivasi untuk terus menghargai dan menjaga kekayaan intelektual para leluhur.