Kota Baru Parahyangan: Modernitas Berpadu dengan Identitas Sejarah Sunda
Kota Baru Parahyangan di Bandung Barat lestarikan sejarah Sunda lewat penamaan tatar hunian berbasis figur sejarah dan legenda. Modernitas berpadu dengan identitas budaya lokal.

Arsitektur Bernuansa Sejarah sebagai Wujud Pelestarian Budaya
Di tengah gencarnya pembangunan kawasan hunian modern yang identik dengan penamaan bernuansa internasional, Kota Baru Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat justru memilih jalan berbeda. Sejak awal perencanaannya, kawasan mandiri ini dirancang dengan filosofi bahwa modernitas tidak harus menggerus identitas lokal. Bentuk konkretnya terlihat pada penamaan setiap klaster hunian yang secara konsisten menghidupkan kembali nama tokoh, raja, ratu, hingga legenda dalam linimasa sejarah dan budaya Sunda.
Tatar: Lebih dari Sekadar Padanan Kata untuk Cluster
Secara sosiolinguistik, kata tatar dalam bahasa Sunda bermakna wilayah, kawasan, atau hamparan daerah. Istilah ini melekat erat pada sebutan Tatar Sunda yang merujuk pada wilayah kebudayaan masyarakat Sunda sebagai pusat perkembangan kerajaan-kerajaan besar pada masa lampau.
Baca Juga: Ribuan Tenaga Non-ASN di Bandung Barat Tak Bisa Direkrut jadi PPPK Paruh Waktu Tahun Ini
Penggunaan terminologi tatar di Kota Baru Parahyangan bukan sekadar padanan kata untuk menggantikan istilah cluster, melainkan bentuk penghormatan dan mendalam terhadap identitas budaya lokal Sunda.
Konsep pelestarian ini bukan sekadar strategi pemasaran visual untuk memikat konsumen. Penggunaan nama-nama historis tersebut difungsikan sebagai media edukasi kultural yang efektif untuk memperkenalkan kembali akar sejarah Tatar Sunda kepada masyarakat luas, khususnya bagi generasi muda yang bermukim di dalamnya.
Keunikan Penamaan Figur Sejarah dan Tema Lingkungan Hunian
Keunikan tata ruang di kawasan ini terletak pada keselarasan antara penamaan figur sejarah dengan tema lingkungan yang diusung. Setiap tatar dirancang memiliki cerita dan benang merah filosofisnya masing-masing yang terefleksikan melalui desain taman tematik.
Baca Juga: Pengobatan Turun Temurun di Cihampelas Bandung Barat Klaim Panggul dan Paha Paling Sulit Sembuhkan
- Tatar Pitaloka — Mengadopsi nama dari Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Kerajaan Sunda yang melegenda sebagai simbol kecantikan, kehormatan, dan pengorbanan luhur dalam Peristiwa Bubat. Guna menyelaraskan dengan nilai kecerdasan dan keindahan semesta yang melekat pada sosok sang putri, tatar ini dilengkapi dengan taman edukasi bertema astronomi.
- Tatar Wangsakerta — Terinspirasi dari Pangeran Wangsakerta dari Kesultanan Cirebon. Tokoh intelektual masa lampau ini dikenal luas atas jasanya memimpin penyusunan mahakarya naskah sejarah Nusantara melalui kitab Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. Selaras dengan rekam jejak perjalanan ilmu pengetahuan tersebut, kawasan hunian ini mengusung taman bertema transportasi sebagai simbol penjelajahan dan mobilitas intelektual.
- Tatar Larangtapa — Berasal dari Retna Larangtapa atau Mrajalarangtapa, putri Kerajaan Singhapura di wilayah Cirebon yang dipersunting oleh Prabu Siliwangi. Klasternya mengusug tema keindahan alam dengan sentuhan arsitektur modern minimalis.
- Tatar Ratnasasih — Mengambil nama dari permaisuri Sri Baduga Maharaja yang dikenal aktif mendorong perkembangan seni dan kebudayaan Sunda pada masa pemerintahannya, sehingga taman di kawasan ini didedikasikan penuh dengan tema seni.
Ekspansi Referensi Tokoh dan Legenda Folklor Pasundan
Eksplorasi penamaan klaster di Kota Baru Parahyangan terus meluas dengan menyerap khazanah cerita rakyat serta nama-nama bangsawan Sunda yang sarat makna filosofis.
- Tatar Purbasari — Membawa ingatan publik pada tokoh utama dalam epos Carita Pantun Lutung Kasarung, sebuah alegori mengenai kesetiaan, kesucian hati, dan keadilan yang mengalahkan ketamakan.
- Tatar Subanglarang — Mengabadikan nama Nyai Subang Larang, santriwati cerdas bimbingan Syekh Quro yang kemudian menjadi permaisuri Prabu Siliwangi sekaligus ibunda dari Raden Kian Santang. Figur Subang Larang merepresentasikan titik awal pertautan harmonis antara spiritualitas Islam dan kebudayaan keraton Sunda formal.
- Tatar Kamandaka — Merujuk pada tokoh Raden Kamandaka atau Lutung Kasarung dalam versi babad penjelajahan tatar barat.
Diversitas Nama dengan Makna Filosofis
Selain nama-nama besar di atas, Kota Baru Parahyangan juga mengembangkan diversitas identitas spasial yang kaya makna:
- Tatar Titiswari — Melambangkan tetesan kebijaksanaan wanita
- Tatar Mayang Padma — Bermakna keindahan bunga teratai
- Tatar Lokacitra — Merujuk pada keindahan bumi
- Tatar Kartawijaya — Merepresentasikan kejayaan yang tertata
Seluruhnya dikonversi menjadi identitas spasial modern yang mencerminkan harmoni antara kebutuhan hunian kontemporer dan pelestarian warisan budaya.
Komitmen Melestarikan Jati Diri Sunda
Lewat pendekatan sistematis ini, Kota Baru Parahyangan membuktikan bahwa pembangunan kawasan hunian modern dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya. Setiap nama tatar yang digunakan bukan hanya label geografis semata, melainkan jembatan penghubung antara generasi saat ini dengan kekayaan historis yang telah membentuk karakter masyarakat Sunda selama berabad-abad.
Bagi masyarakat yang menghuni kawasan ini, keberadaan nama-nama historis tersebut menjadi pengingat konstan akan akar budaya yang mereka warisi, sekaligus motivasi untuk terus menghargai dan menjaga kekayaan intelektual para leluhur.