Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Konflik Timur Tengah: Harga Plastik di Bandung Naik Hingga 100 Persen

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Konflik Amerika-Israel-Iran menyebabkan harga biji plastik impor naik drastis, membuat harga plastik di Bandung naik hingga 100 persen, mempengaruhi produksi dan menimbulkan keluhan konsumen.

Konflik Timur Tengah: Harga Plastik di Bandung Naik Hingga 100 Persen

Kota Bandung - Lebih dari sebulan setelah pecahnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dampaknya telah terasa langsung di industri plastik kemasan lokal. Salah satu pusat industri ini di daerah Cibuntu, Kota Bandung, terpaksa menyesuaikan harga jual produk mereka akibat lonjakan drastis harga biji plastik impor yang menjadi bahan baku utama.

Latar Belakang Krisis Bahan Baku

Sebagian besar pabrik plastik di Cibuntu tidak memproduksi biji plastik sendiri, melainkan mengandalkan pasokan dari luar negeri. Krisis geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu rantai pasokan global, menyebabkan ketersediaan biji plastik menjadi terbatas dan harga melonjak tajam. Para produsen kini kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang stabil dan terjangkau.

Kenaikan Harga yang Mencapai 100 Persen

Salah satu pegawai pabrik plastik di Cibuntu, Riska Surihartati, memberikan wawasan detail tentang dampak konflik ini. Dia menjelaskan bahwa harga plastik kemasan saat ini telah melonjak jauh di atas harga normal.

"Saat ini plastik lagi naik ya dari harga sekitar kurang dari Rp50.000 sekarang bisa lebih dari Rp50.000 per kilogram. Ini dari perang yang Iran sama Amerika," ujar Riska saat ditemui di lokasi pabrik pada Selasa (31/3/2026).

Rentang harga plastik kemasan saat ini dan sebelum konflik adalah sebagai berikut:

Menurut Riska, kenaikan ini berarti peningkatan harga hampir mencapai 100 persen. Dia juga menambahkan bahwa konsumen telah banyak mengeluhkan peningkatan harga yang signifikan ini.

"Paling tinggi sekarang kisaran Rp60.000 lebih. Kalau normal bisa di Rp30 sampai Rp40 ribu, kenaikan hampir 100 persen. Konsumen banyak yang ngeluh soal harga,"

Dampak pada Penjualan dan Operasional Pabrik

Lonjakan harga plastik telah berdampak langsung pada penjualan produk pabrik. Riska mengakui bahwa tingkat pembelian konsumen telah menurun secara signifikan, yang pada gilirannya memengaruhi volume produksi harian dan mingguan.

"Berpengaruh ke produksi. Konsumen jadi sedikit pembeliannya. Sekarang bahan lagi susah ya, karena banyak kejadian juga. Jadi, sekarang tuh pokoknya di mana-mana lagi susah aja bahan,"

Sebelum krisis ini, pabrik ini membutuhkan sekitar dua ton biji plastik per pekan dengan biaya sekitar Rp40 juta. Saat ini, biaya yang sama telah mencapai Rp80 juta, naik dua kali lipat. Meskipun telah melakukan antisipasi dengan membeli stok biji plastik sebelumnya, persediaan pabrik kini sudah mulai menipis. Untuk mengatasi keterbatasan bahan baku ini, pabrik sedang mencari supplier baru yang menawarkan harga lebih terjangkau. Namun, Riska mengakui bahwa bahan plastik daur ulang dari dalam negeri memiliki kualitas yang kurang baik dibandingkan bahan impor asli.

"Nanti dicari dulu ya bahan bakunya, misalkan ada supplier lain dari tempat yang lain juga, siapa tahu ada dapat yang lebih murahnya gitu,"

"Stok ada tapi dikit. Kami masih mengandalkan impor. Susah kalau misalkan dari dalam negeri kebanyakannya dari recycle. Itu kurang bagus, itu kan karena bahan dari reject-an ya digiling lagi. Kalau yang ini beneran ori gitu,"

Dampak Luar pada Perekonomian Indonesia

Selain industri plastik di Bandung, konflik geopolitik global ini juga telah menimbulkan dampak luas pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Pemerintah pusat telah menginstruksikan pengurangan konsumsi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), di berbagai sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan layanan publik. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi dan menstabilkan harga di pasar domestik.