Kolokium AP2TPI Bandung Gagas Pendidikan Psikologi Adaptif di Era AI
Kolokium AP2TPI di Bandung menggagas pendidikan psikologi adaptif di era AI. Para pemangku kepentingan bahas peluang, tantangan, dan etika penggunaan Generative AI dalam pendidikan tinggi psikologi Indonesia.

Pendidikan tinggi psikologi Indonesia tengah memasuki era transformasi besar. Pertanyaan kunci yang muncul bukan lagi apakah teknologi AI akan diadopsi, melainkan bagaimana memastikan penggunaannya tetap berorientasi pada kemanusiaan, etika, dan kualitas layanan.
Gelaran Kolokium AP2TPI di Bandung
Seluruh pemangku kepentingan pendidikan psikologi Indonesia berkumpul dalam Kolokium Khusus XXXII Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI), yang diselenggarakan pada 22–24 Juli 2026 di éL Hotel Bandung.
Mengusung tema "Pendidikan Tinggi Psikologi Berdampak dan Terdampak: Peluang dan Tantangan di Era Generative AI", kegiatan ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi, dekan, pengelola program studi, akademisi, peneliti, dan psikolog dari berbagai wilayah Indonesia.
"Pertanyaannya bukan lagi apakah Generative AI akan digunakan dalam pendidikan tinggi, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara kritis, etis, bertanggung jawab, dan tetap berorientasi pada kemanusiaan,"
ucap Ketua AP2TPI, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D.
Peran Sentral Manusia di Tengah Teknologi AI
Menurut Rahmat, AI menawarkan berbagai manfaat dalam pembelajaran, penelitian, pengolahan informasi, dan efisiensi proses akademik. Namun, keputusan akademik dan profesional tetap harus berada di tangan manusia yang memiliki kompetensi, integritas, empati, serta tanggung jawab etik.
Perkembangan Generative AI telah mengubah cara mahasiswa belajar, dosen mengajar, peneliti bekerja, serta praktisi memberikan layanan psikologi.
Komitmen Pemerintah Daerah Jawa Barat
Rangkaian hari pertama ditutup dengan Gala Dinner yang dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr Herman Suryatman.
"Saya apresiasi digelarnya Kolokium Khusus AP2TPI di Kota Bandung. Pertemuan para akademisi, pimpinan perguruan tinggi, dan psikolog ini sangat strategis karena persoalan kesehatan mental saat ini semakin kuat dan dirasakan di berbagai lingkungan masyarakat," jelas beliau.
Sekda Herman menekankan bahwa psikolog semakin dibutuhkan untuk membantu menjawab persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja, keluarga, lingkungan pendidikan, dunia kerja, serta masyarakat secara luas.
Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi nyata antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, psikolog, dan masyarakat diperlukan agar layanan kesehatan mental semakin mudah dijangkau.
Narasi dan Pembicara Utama
Agenda utama pertemuan ini menghadirkan:
- Mentri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof Brian Yuliarto, yang membahas "Kontribusi Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia di Era Generative AI"
- Prof James W Pennebaker yang menyampaikan perspektif internasional melalui tema "The Future of Psychological Science", membahas masa depan ilmu psikologi, perkembangan penelitian, inovasi metodologi, serta pemanfaatan teknologi
- Dr. Retno Hanggarani Ninin, M.Psi., Psikolog, yang menyampaikan peluncuran Kurikulum S2 Psikologi sekaligus pengantar kolokium bidang pendidikan
Agenda dilanjutkan dengan talkshow mengenai tantangan layanan psikologi di tengah disrupsi Generative AI, serta transformasi pendidikan tinggi psikologi untuk pendidikan yang berdampak.
Agenda Strategis dan Workshop Pendukung
Kolokium membahas sejumlah agenda strategis, meliputi:
- Standar kurikulum pendidikan psikologi jenjang S1, S2, dan S3
- Evaluasi Pendidikan Profesi Psikolog
- Penerapan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL)
- Peningkatan kualitas pendidikan psikologi
- Penguatan akreditasi
- Pengembangan laboratorium
Sebelumnya, tujuh workshop juga diselenggarakan dengan topik meliputi standar laboratorium pendidikan psikologi, penggunaan AI dalam pembelajaran, akreditasi program studi, pengembangan kurikulum psikometri, Gottman Method Couples Therapy, dan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).
Kolaborasi 14 Perguruan Tinggi
Kolokium ini diselenggarakan melalui kolaborasi 14 perguruan tinggi penyelenggara pendidikan psikologi di Jawa Barat. Hasilnya diharapkan menjadi rekomendasi dan arah kebijakan bersama untuk membangun pendidikan tinggi psikologi Indonesia yang bermutu, adaptif terhadap teknologi, beretika, dan tetap berpusat pada manusia.
Bagi masyarakat, penguatan pendidikan psikologi diharapkan meningkatkan kualitas layanan kesehatan mental, melindungi kerahasiaan data psikologis, serta menghasilkan psikolog dan lulusan psikologi yang kompeten, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di era digital.