Kirab Milangkala Tatar Sunda: Mahkota Binokasih Kembali ke Bogor
Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Bogor dihadiri Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, diikuti 14 kampung adat dan puluhan kesenian dari berbagai wilayah, serta menjadi momentum pelestarian budaya Sunda.

Pembukaan
Acara Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda dengan skala akbar di Kota Bogor, Jawa Barat, berlangsung meriah pada Jumat (8/5) malam. Acara ini tidak hanya menampilkan ragam seni tradisi dari berbagai wilayah di Jawa Barat dan luar daerah, tetapi juga menyoroti kehadiran Mahkota Binokasih Sanghyang Pake—simbol sejarah kerajaan kuno Sunda Pajajaran yang dahulu digunakan oleh para raja Sunda.
Rute Kepemimpinan dan Peserta Utama
Kirab budaya dimulai dari Museum Pajajaran di Jalan Batutulis, dan dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM. Ia mengenakan pakaian serba putih sambil menunggang kuda, diiringi Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Bupati Bogor Rudy Susmanto, jajaran Forkopimda, serta para tokoh adat dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Daftar Peserta Kirab Budaya
Sebanyak 14 kampung adat dari seluruh Jawa Barat ambil bagian dalam acara ini, antara lain:
- Kampung Adat Gelaralam
- Sinarresmi
- Ciptamulya
- Naga
- Urug
- Kuta
- Dukuh
- Cigugur
- Cikondang
- Pulo
- Cireundeu
- Miduana
- Cikalong
- Galuh
Kemeriahan acara ini juga diwarnai oleh penampilan kesenian dari luar Jawa Barat, seperti:
- Ondel-ondel dari DKI Jakarta
- Rampak Bedug dari Banten
- Kenthongan
- Calung dari Jawa Tengah
Selain itu, 25 grup kesenian dari kota dan kabupaten di Jawa Barat turut tampil memeriahkan kirab, antara lain:
- Tari Payung (Kota Bogor)
- Tari Topeng Cisalak (Kota Depok)
- Tari Topeng (Kota Cirebon)
- Kuda Renggong (Kabupaten Sumedang)
Makna Sejarah dan Usulan Pengembangan
Gubernur Dedi Mulyadi mengapresiasi pelaksanaan acara ini, menyebut bahwa Mahkota Binokasih Sanghyang Pake memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Pakuan Pajajaran, ibu kota kuno Kerajaan Sunda yang berlokasi di wilayah Bogor saat ini. Ia menambahkan bahwa kirab ini menjadi momentum untuk mengembalikan dan menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya Sunda di tanah Pajajaran.
Dalam arahannya, Dedi mengusulkan agar kirab budaya ini dijadikan agenda tahunan di Kota Bogor. Ia juga meminta penataan kawasan Surya Kencana dan sekitarnya seiring dengan pelaksanaan acara, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memberikan perhatian penuh untuk pengembangan infrastruktur jalan dan penerangan di jalur kirab.
"Kirab ini bukan hanya acara seremonial, melainkan cara kita menghargai warisan budaya para leluhur Sunda." - Ucapan Dedi Mulyadi
Komentar Pemerintah Kota Bogor
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap pelestarian budaya dan penataan kawasan kota Bogor. Ia menjelaskan bahwa penataan kawasan ini akan melalui proses perencanaan dan penganggaran sesuai aturan tata kelola pemerintahan yang berlaku.
Menurut Dedie, acara kirab budaya ini bukan sekadar kegiatan seremonial semata, melainkan momentum yang penting untuk menghargai warisan budaya leluhur Sunda. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat dalam menjaga dan membangun daerah untuk generasi mendatang.
"Ini sebuah rangkaian kegiatan yang penuh makna. Makna tentang bagaimana kita menghargai warisan para leluhur kita," kata Dedie A. Rachim.
Penutup
Kehadiran Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dalam kirab ini menjadi simbol koneksi antara masa lalu dan masa kini, menunjukkan bagaimana warisan budaya Sunda masih hidup dan dihargai oleh masyarakat Jawa Barat saat ini. Acara ini juga berhasil mengumpulkan berbagai elemen budaya dari seluruh wilayah, menegaskan bahwa identitas budaya Sunda adalah sesuatu yang bersatu dan harus dilestarikan.