Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Keracunan MBG di Cianjur: Balita 2 Tahun Meninggal, Tunggu Hasil Lab

Jabar · Oleh Nayla Putri ·

Seorang balita berusia 2 tahun di Cianjur meninggal setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan keracunan massal dengan 63 korban lain. Pihak kesehatan menunggu hasil laboratorium untuk mengkonfirmasi penyebab kematian.

Keracunan MBG di Cianjur: Balita 2 Tahun Meninggal, Tunggu Hasil Lab

Kasus Keracunan MBG di Cianjur: Balita 2 Tahun Meninggal

Sebuah kasus keracunan massal yang melibatkan ratusan orang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, telah memilukan satu nyawa balita berusia 2 tahun. Pihak berwenang masih menunggu hasil laboratorium untuk mengkonfirmasi penyebab kematian dan sumber keracunan yang menyebabkan 63 orang lainnya mengalami gejala keracunan.

Detil Kematian Balita Korban

Balita dengan inisial MAB menjadi korban pertama yang meninggal akibat insiden keracunan ini. Ia dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pagelaran selama 12 jam sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Menurut Direktur RSUD Pagelaran, Irfan Nur Fauzi, balita tersebut dirujuk dari Puskesmas Leles dengan kondisi kesehatan yang sangat tidak stabil. Gejala yang dialami meliputi kelemahan parah, pusing, serta pembengkakan pada tangan dan kaki.

"Pasien balita ini rujukan dari Puskesmas Leles dan langsung mendapat penanganan di IGD karena kondisinya tidak stabil, lemas, pusing, dan tangan serta kaki bengkak. Kami memberikan penanganan selama 12 jam," kata Irfan Nur Fauzi.

Ia menambahkan bahwa tim medis menetapkan diagnosa syok septik sebagai penyebab kematian, dengan riwayat diare yang dialami balita sejak awal proses penanganan.

Status Korban Lainnya

Total 63 orang, sebagian besar adalah ibu dan balita, mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di dua desa di Kecamatan Leles. Sebagian besar korban sudah menerima perawatan medis dan diperbolehkan pulang, dengan pemantauan lanjutan dari tenaga kesehatan di desa masing-masing.

Saat ini, masih enam balita yang masih menjalani perawatan di puskesmas untuk pengawasan lebih lanjut. Sebelumnya, beberapa korban juga mendapatkan perawatan dari bidan dan klinik di sekitar wilayah Kecamatan Leles.

Proses Pengecekan dan Pemeriksaan Laboratorium

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Made Setiawan, menjelaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan apakah penyebab kematian balita tersebut terkait langsung dengan keracunan makanan atau faktor lain. Hal ini karena mereka masih menunggu hasil uji laboratorium yang sedang dilakukan untuk mengidentifikasi sumber zat beracun.

"Kami masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan apakah pemicu keracunan dari makanan atau faktor lain. Kami segera umumkan setelah hasilnya keluar sekitar satu pekan ke depan," kata Made Setiawan.

Selain dinas kesehatan, kepolisian juga sedang menyelidiki kasus ini untuk mengidentifikasi penyebab keracunan dan mengambil langkah hukum yang diperlukan jika ditemukan pelanggaran. Pihak kesehatan akan segera mengumumkan hasil pemeriksaan ke publik setelah diterima, untuk memberikan klarifikasi kepada masyarakat dan keluarga korban. Selain itu, tim penyelidikan juga sedang melacak asal-usul makanan yang menyebabkan keracunan ini.

Langkah Pemantauan Lanjutan

Setelah pulang, semua korban yang sudah sembuh masih mendapatkan pemantauan rutin dari tenaga kesehatan di desa setempat. Tujuan dari pemantauan ini adalah untuk memastikan bahwa tidak ada gejala yang muncul kembali dan kondisi kesehatan korban membaik sepenuhnya. Pihak kesehatan juga telah mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan tertentu di wilayah Kecamatan Leles.