Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Keracunan Massal MBG di Cianjur: 63 Korban Sebagian Sudah Pulang

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Sebanyak 63 korban keracunan massal di Cianjur usai konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebagian besar sudah pulang, penyebabnya masih diselidiki melalui pemeriksaan sampel makanan dan muntahan.

Keracunan Massal MBG di Cianjur: 63 Korban Sebagian Sudah Pulang

Insiden keracunan massal melanda dua desa di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, selama periode Rabu (15/4) hingga Jumat (17/4). Sebanyak 63 orang, sebagian besar balita dan ibu hamil, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di posyandu setempat. Sebagian besar korban sudah pulang setelah kondisi membaik, meskipun beberapa masih membutuhkan perawatan medis lanjutan.

Gambaran Awal Kejadian

Menurut keterangan warga lokal, gejala mual, muntah, dan kelemahan muncul beberapa jam setelah mereka menyantap menu MBG yang diberikan pada sesi posyandu. Insiden pertama terdeteksi di Desa Sukasirna dan kemudian menyebar ke Desa Purabaya, memicu respons cepat dari tim kesehatan daerah.

Kondisi Kesehatan Korban

Sebanyak 63 korban tercatat sebagai korban keracunan, dengan komposisi sebagian besar kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Made Setiwan, mengkonfirmasi bahwa sebagian besar korban sudah dinyatakan stabil dan diperbolehkan pulang ke rumah.

"Hanya tinggal beberapa yang masih menjalani perawatan," ujar Made dalam keterangan resminya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Leles, Tedi Nugraha, menambahkan bahwa enam balita masih mendapatkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan setempat. Korban lain yang sebelumnya dirawat di bidan atau klinik mandiri juga sudah dinyatakan stabil.

"Sebagian besar kondisinya membaik. Namun, mereka yang sudah pulang tetap berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan di desa masing-masing," jelas Tedi.

Penyelidikan Penyebab Keracunan

Untuk mengidentifikasi penyebab pasti insiden keracunan massal, tim medis dan kesehatan telah mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa di laboratorium. Sampel yang diambil termasuk sisa makanan yang dikonsumsi korban, terutama susu, serta sampel muntahan dari beberapa korban. Made Setiwan menjelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium akan membantu menentukan apakah keracunan disebabkan oleh kontaminasi makanan, bahan tambahan berbahaya, atau masalah lain terkait dengan penyajian Makan Bergizi Gratis yang dialokasikan untuk program pemerintah.

"Kami sudah mengambil sampel yang tersisa, salah satunya susu dan sampel muntahan korban untuk dilakukan uji laboratorium guna memastikan penyebab pastinya," jelas Made.

Upaya Pendataan dan Antisipasi

Meskipun sudah tercatat 63 korban, pihak kecamatan masih melakukan pendataan ulang untuk mengantisipasi adanya warga yang mengalami gejala serupa namun belum melapor ke fasilitas kesehatan. Camat Kecamatan Leles, Segi Tabah Hermansyah, menyatakan bahwa beberapa warga mungkin tidak mencari perawatan medis karena gejala yang ringan atau ketidaktersediaan akses ke fasilitas kesehatan yang dekat.

"Petugas kecamatan masih melakukan pendataan karena ditakutkan masih banyak yang mengalami keracunan namun belum terdata karena tidak menjalani perawatan di puskesmas," tutup Segi.

Perkembangan Terkini

Sampel yang telah diambil sedang diproses di laboratorium terakreditasi, dan hasilnya diharapkan dapat diterima dalam beberapa hari ke depan. Pihak kesehatan daerah juga terus memantau kondisi korban yang masih dirawat, serta memberikan bimbingan kepada warga yang sudah pulang tentang tanda-tanda komplikasi yang perlu diperhatikan. Insiden ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah, yang berkomitmen untuk mengidentifikasi penyebab pasti dan mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah insiden serupa di masa depan.