Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

KemenP2MI Kuatatkan Layanan Migrasi di Cirebon Cegah Kerja Ilegal

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Pemerintah KemenP2MI memperkuat layanan migrasi di Cirebon, Jawa Barat, untuk mencegah warga terjebak kerja ilegal yang dimanfaatkan janji gaji tinggi oleh perekrut ilegal.

KemenP2MI Kuatatkan Layanan Migrasi di Cirebon Cegah Kerja Ilegal

Pendahuluan

Pemerintah melalui Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) telah meluncurkan program penguatan sistem informasi dan layanan migrasi di Cirebon, Jawa Barat, sebagai upaya untuk menekan praktik kerja ilegal yang memanfaatkan janji gaji tinggi sebagai daya tarik utama. Daerah ini dipilih karena menjadi salah satu wilayah pengirim pekerja migran terbesar di provinsi tersebut, dengan potensi kerentanan tinggi terhadap modus perekrut ilegal.

Latar Belakang Masalah Kerja Ilegal di Cirebon

Banyak calon pekerja migran di Cirebon yang kurang memahami prosedur resmi keberangkatan ke luar negeri, sehingga mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki izin resmi. Modus yang paling umum digunakan oleh perekrut ilegal adalah menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi dan proses keberangkatan yang cepat tanpa memerlukan dokumen administrasi formal.

Dalam beberapa kasus, calon pekerja migran yang terjebak dalam jaringan perekrut ilegal akhirnya dipaksa bekerja di sektor ilegal seperti perjudian daring atau penipuan digital setelah tiba di negara tujuan, sesuai keterangan Direktur Jenderal Perlindungan KemenP2MI, Rinardi Rusman.

"Bekerja ke luar negeri adalah hak masyarakat. Tetapi negara harus hadir memastikan prosesnya aman, legal, dan tidak menjerumuskan warga pada pekerjaan bermasalah," ujar Rinardi pada Kamis (12/3/2026).

Rinardi menambahkan bahwa penguatan sistem informasi di daerah menjadi langkah penting karena banyak calon pekerja migran yang tidak mengetahui informasi yang benar tentang prosedur keberangkatan. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh perekrut ilegal untuk menawarkan tawaran pekerjaan yang terlihat menguntungkan, tetapi pada kenyataannya menyesatkan.

Cakupan Program Penguatan Layanan Migrasi

Cirebon menjadi salah satu wilayah percontohan dalam program penguatan layanan migrasi ini, bersama dengan tiga daerah lain yang memiliki karakteristik serupa dalam menghadapi kerja ilegal:

Semua wilayah ini memiliki jumlah pekerja migran yang tinggi dan potensi kerentanan terhadap praktik perekrut ilegal. Tujuan dari program ini adalah untuk menjadi model yang dapat diterapkan secara luas di seluruh Indonesia, sehingga masyarakat di berbagai daerah dapat memperoleh informasi yang benar dan aman sebelum memutuskan bekerja ke luar negeri.

"Adanya sistem layanan yang kuat di daerah, masyarakat dapat memperoleh informasi yang jelas sebelum mengambil keputusan untuk bekerja ke luar negeri," ujar Rinardi.

Peran Pusat Informasi Migrasi (MRC)

Sebagai bagian dari program ini, pemerintah juga telah memperkuat Pusat Layanan Informasi Migrasi yang dikenal sebagai Migrant Resource Center (MRC). Fasilitas ini dirancang sebagai pusat rujukan utama bagi masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai peluang kerja di luar negeri dan terhindar dari perekrut ilegal.

Melalui layanan MRC, calon pekerja migran dapat memperoleh berbagai informasi penting secara terbuka dan transparan, termasuk:

Keberadaan MRC diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat pada informasi yang berasal dari pihak tidak resmi, yang sering kali tidak akurat atau bahkan menyesatkan. Dengan akses informasi yang jelas dan mudah dijangkau, masyarakat dapat menilai secara rasional setiap tawaran pekerjaan yang datang, sehingga terhindar dari penipuan.

Pentingnya Keterlibatan Pemerintah Desa

Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan praktik kerja ilegal, pengawasan di tingkat desa masih menjadi titik lemah dalam upaya pencegahan ini. Perekrut ilegal sering mendatangi desa-desa untuk menawarkan pekerjaan kepada warga tanpa melalui mekanisme resmi, sehingga sulit untuk dipantau.

Rinardi menegaskan bahwa aparat pemerintah desa memiliki peran strategis dalam memutus rantai perekrut ilegal. Mereka dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai prosedur migrasi yang aman, memantau aktivitas perekrut yang masuk ke wilayahnya, dan bahkan memanfaatkan dana desa untuk mendukung kegiatan sosialisasi, pelatihan, maupun peningkatan literasi migrasi bagi warga.

"Tanpa keterlibatan aktif pemerintah desa, upaya pencegahan dari tingkat pusat tidak akan berjalan maksimal. Sebagian besar calon pekerja migran berasal dari wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses informasi, sehingga membutuhkan dukungan langsung dari pemerintah desa," ujar Rinardi.

Kesimpulan

Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan aparat desa menjadi kunci untuk menekan praktik keberangkatan pekerja migran secara ilegal. Dengan penguatan sistem informasi di daerah dan peningkatan literasi migrasi di tingkat desa, pemerintah berharap masyarakat dapat bekerja ke luar negeri secara aman, legal, dan terlindungi dari berbagai risiko eksploitasi.

"Layanan informasi di daerah serta peningkatan literasi migrasi di tingkat desa, pemerintah berharap masyarakat dapat bekerja ke luar negeri secara aman, legal, dan terlindungi dari berbagai risiko eksploitasi," tutur Rinardi.

Masyarakat diharapkan untuk lebih berhati-hati terhadap setiap tawaran kerja ke luar negeri yang tidak melalui prosedur resmi, terutama yang menawarkan gaji tinggi dengan proses keberangkatan yang cepat tanpa memerlukan dokumen formal.