Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kematian Dua Anak Harimau Benggala Bandung Zoo: Panggilan Perbaikan Tata Kelola Konservasi

KDM · Oleh Salsa Maharani ·

Kematian dua anak harimau benggala kembar di Bandung Zoo Maret 2026 memicu keprihatinan, dengan panggilan perbaikan tata kelola konservasi dari berbagai pihak termasuk Pewaris dan tokoh lingkungan.

Kematian Dua Anak Harimau Benggala Bandung Zoo: Panggilan Perbaikan Tata Kelola Konservasi

Kematian dua anak harimau benggala kembar bernama Hara dan Huru di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) pada Maret 2026 memicu keprihatinan luas di kalangan pegiat konservasi dan masyarakat. Harimau benggala sendiri masuk dalam kategori Terancam Punah oleh IUCN, sehingga upaya pembiakan di penangkaran seperti Bandung Zoo sangat penting untuk kelestarian spesies ini. Dua satwa langka ini dilaporkan meninggal akibat virus, dengan Pemerintah Kota Bandung membantah tuduhan kelalaian pengelola, menyatakan penyebab kematian adalah virus panleukopenia.

Keprihatinan dan Panggilan dari Penjaga Warisan Sunda (Pewaris)

Koordinator Penjaga Warisan Sunda (Pewaris), Rully Alfiady, menyatakan pihaknya menyesalkan sangat peristiwa kematian dua anak harimau benggala ini. Ia menegaskan bahwa hilangnya dua kembar ini merupakan kerugian besar, terutama di tengah konflik pengelolaan Bandung Zoo yang belum sepenuhnya terselesaikan selama bertahun-tahun.

"Kami merasa prihatin dan menyesalkan atas matinya dua anak harimau Benggala karena virus. Ini menjadi pembelajaran bahwa menjaga aset konservasi membutuhkan keahlian dan perhatian yang sungguh-sungguh," ujar Rully dalam keterangan tertulis.

Pewaris telah memantau perkembangan pengelolaan Bandung Zoo selama 11 bulan terakhir, termasuk dinamika konflik internal yang menyebabkan ketidakstabilan di kebun binatang. Rully menilai kematian satwa tersebut menjadi pengingat pentingnya pengelolaan profesional dalam upaya konservasi satwa liar.

Meski demikian, Rully meminta agar perhatian terhadap kematian satwa tidak mengalihkan fokus dari agenda besar penyelamatan Bandung Zoo. Ia mendorong Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat untuk tetap melanjutkan upaya perbaikan pengelolaan sesuai kesepakatan bersama yang telah dicapai.

Apresiasi dan Panggilan Publik

Pewaris juga mengapresiasi sejumlah tokoh dan pejabat yang telah turun tangan menangani kondisi Bandung Zoo, antara lain Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Ketua DPRD Jawa Barat, serta sejumlah tokoh masyarakat.

"Terima kasih kepada para tokoh yang telah turun tangan langsung. Semoga ini menjadi energi baru bagi masyarakat untuk menyelamatkan kebun binatang sebagai warisan sejarah dan budaya," ujar Rully.

Ia juga mengajak masyarakat luas untuk ikut mengawasi dan menjaga proses penyelamatan Bandung Zoo agar ke depan dapat dikelola secara profesional. "Kami mengajak masyarakat Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia untuk bersama-sama mengawasi dan menjaga proses penyelamatan kebun binatang ini," katanya.

Pandangan dari Tokoh Konservasi dan Lingkungan

Pandangan serupa disampaikan tokoh Sunda Andri P. Kantaprawira. Ia menegaskan bahwa kematian dua anak harimau tidak boleh menghambat agenda besar penyelamatan Bandung Zoo.

"Kematian ini tidak boleh mengganggu agenda besar penyelamatan Bandung Zoo. Solusi harus segera dijalankan sesuai peraturan dan prinsip tata kelola yang baik," ujar Andri.

Sementara itu, tokoh Walhi kultural, Apipudin, menilai peristiwa tersebut harus menjadi evaluasi bagi pengelola dan pegiat lingkungan dalam menjaga satwa konservasi.

"Kematian dua anak harimau Benggala harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama dalam pengelolaan satwa dan lingkungan," kata Apipudin.

Ia juga mendesak Pemerintah Kota Bandung untuk segera merealisasikan kesepakatan terkait pengelolaan Bandung Zoo ke depan, agar tidak ada lagi kejadian serupa di masa depan.

Momentum Evaluasi untuk Aset Sejarah Budaya

Bandung Zoo adalah salah satu aset sejarah dan budaya Jawa Barat yang telah berdiri selama puluhan tahun. Kebun binatang ini bukan hanya tempat hiburan bagi masyarakat, tetapi juga pusat konservasi satwa liar yang penting untuk pendidikan dan penelitian.

Sejumlah pihak berharap peristiwa kematian dua anak harimau ini menjadi momentum perbaikan tata kelola kebun binatang secara keseluruhan. Dengan memperbaiki sistem pengelolaan, Bandung Zoo dapat kembali berfungsi dengan optimal sebagai pusat konservasi dan edukasi, serta melindungi satwa liar dari risiko penyakit dan kelalaian.

Semua pihak berharap bahwa peristiwa ini dapat menjadi titik balik untuk perbaikan tata kelola Bandung Zoo, sehingga aset berharga ini dapat terus dilestarikan untuk generasi mendatang.