Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kemarau Ancam 5.484 Hektare Sawah di Cianjur, Debit Air Irigasi Cihea Turun Drastis

Jabar · Oleh Salsa Maharani ·

Debit air di DI Cihea Cianjur turun drastis dari 7.000 menjadi 3.400 liter per detik imbas kemarau. 5.484 hektar sawah terancam, BBWS Citarum terapkan gilir giring air.

Kemarau Ancam 5.484 Hektare Sawah di Cianjur, Debit Air Irigasi Cihea Turun Drastis

Musim Kemarau Bikin Debit Air Irigasi Cihea Anjlok

PTMLAMIANTAHAN air di Daerah Irigasi (DI) Cihea, Desa Sukarama, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, kini jauh dari kata aman. Debit air yang biasa mengalir deras mencapai 7.000 liter per detik kini turun drastis menjadi hanya 3.400 liter per detik. Penurunan mencapai sekitar 51 persen ini terjadi imbas hari tanpa hujan yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Kronologi Penurunan Debit Air

Juru Pengairan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Dinas Sumber Daya Air Jawa Barat, Ervin Kristian, menjelaskan bahwa penurunan debit air terjadi secara bertahap. Puncaknya terasa dalam dua pekan terakhir, membuat area irigasi berada di bawah ambang batas normal.

"Debit air saat ini memang turun drastis. Sudah di bawah ambang batas normal," jelas Ervin, kemarin.

Cakupan Wilayah Irigasi yang Terdampak

Daerah Irigasi Cihea memiliki peran vital bagi sektor pertanian di wilayah hukum Cianjur. Pasokan air dari bendungan ini mengairi lahan pertanian seluas hampir 5.484 hektare yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu:

Dengan luas lahan yang cukup besar, penurunan debit air ini berpotensi mengancam ratusan petani yang menggantungkan hasil panen mereka pada sistem irigasi ini.

Upaya Pemenuhan Kebutuhan Air Lahan Pertanian

Meskipun kondisi debit air menurun, Ervin menyebut bahwa secara umum pasokan masih relatif aman. Namun, ada beberapa wilayah yang masuk kategori rawan, terutama desa-desa di ujung atau hilir Kecamatan Ciranjang.

Untuk memastikan lahan pertanian tetap terairi, BBWS Citarum menerapkan beberapa strategi:

Pertama, melakukan gilir giring air sesuai jadwal yang disepakati bersama seluruh pihak terkait. Pembagian air ini dilakukan setiap dua hari sekali.

Kedua, menertibkan aktivitas penyedotan air di wilayah hulu. Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan pasokan air tetap lancar ke wilayah hilir.

"Bagaimana kita mau memasok air ke wilayah hilir kalau di hulunya sendiri sudah banyak yang menyedot. Ini yang sedang kami tertibkan," tegas Ervin.

Jadwal Pembagian Air ke Petani

Dari hasil kesepakatan terbaru, jadwal gilir giring mengalami penyesuaian. Setiap hari Jumat, aliran air dibebaskan tanpa adanya gilir giring. Artinya, petani di seluruh wilayah tidak perlu menunggu antrean pada hari tersebut.

"Hasil kesepakatan terbaru, kalau untuk Jumat itu dibebaskan. Tidak ada gilir giring," terang Ervin.

Monitoring dan Pengawasan di Lapangan

Mengenai durasi kebijakan gilir giring ini, Ervin belum bisa memastikan sampai kapan akan berakhir. Biasanya, upaya tersebut akan dihentikan ketika debit air sudah kembali ke angka normal seperti sebelumnya.

Di lapangan, pengawasan tetap dilakukan secara ketat dengan melibatkan berbagai elemen. PTMLAMIANTAHAN pengairan ini memaksimalkan sinergi melalui:

Langkah Antisipasi Jangka Panjang

Penurunan debit air akibat perubahan iklim dan kemarau panjang menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian. Diperlukan strategi adaptasi jangka panjang untuk menghadapi fenomena serupa di masa depan, termasuk optimalisasi sistem irigasi dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak mengeksploitasi sumber air di wilayah hulu.