Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kemacetan Mengular di Sukabumi: GT Parungkuda dan Tol Bocimi Pasca Lebaran 2026

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Kemacetan parah melanda kawasan Gerbang Tol Parungkuda dan Tol Bocimi di Sukabumi pasca libur Lebaran 2026. Penyebabnya termasuk mobilitas tinggi, bottleneck jembatan pembangunan, dan dampak operasional tol baru.

Kemacetan Mengular di Sukabumi: GT Parungkuda dan Tol Bocimi Pasca Lebaran 2026

Kemacetan Parah Melanda Kawasan Sukabumi Pasca Libur Lebaran 2026

Pada Senin, 23 Maret 2026, Kabupaten Sukabumi kembali dilanda gelombang kemacetan parah yang mengular mulai dari kawasan Gerbang Tol (GT) Parungkuda hingga ruas jalan arteri setempat. Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa antrean kendaraan sudah terlihat sejak pagi hari, dengan kondisi macet total di beberapa titik yang membuat pengendara harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk melintas.

Meskipun petugas kepolisian terus melakukan pengaturan lalu lintas, volume kendaraan yang tinggi membuat upaya ini hanya mampu mengurangi kepadatan, bukan menghilangkannya sepenuhnya. Selain kawasan GT Parungkuda, kemacetan juga tercatat di beberapa titik lainnya seperti Jembatan Angkrong, Pasar Cibadak, dan kawasan Sundawenang.

Pengalaman Pengendara yang Terjebak Kemacetan

Salah satu pengendara yang mengalami kesulitan adalah Andri (34), asal Bogor, yang terjebak kemacetan di kawasan Parungkuda selama lebih dari satu jam. Ia mengaku bahwa kendaraannya hanya bisa bergerak sangat perlahan, bahkan hampir tidak bergerak sama sekali di beberapa bagian.

"Dari keluar tol sampai sini bisa lebih dari satu jam, nyaris nggak bergerak sama sekali. Macetnya parah," ujar Andri saat ditemui di jalan arteri Parungkuda pada Senin sore.

Penyebab Utama Kemacetan di Kawasan Ini

Menurut analisis lapangan dan keterangan resmi, ada beberapa faktor yang menyebabkan kemacetan parah ini:

Penjelasan Resmi dari Kapolres Sukabumi

Kapolres Sukabumi AKBP Samian memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab kemacetan ini. Ia menyatakan bahwa kepadatan lalu lintas terjadi akibat ketidakseimbangan antara volume kendaraan dan kapasitas jalan yang ada.

"Saat ini termonitor beban jumlah kendaraan, kapasitas jalan tidak sebanding, sehingga rekayasa lalu lintas hanya memperingan, mengurangi kepadatan," ujar Samian.

Ia menambahkan bahwa tim kepolisian telah menyiapkan petugas untuk mengatur arus kendaraan di sejumlah titik rawan kemacetan, dan akan terus melakukan pengawasan selama kondisi kemacetan berlangsung.

Langkah yang Diberlakukan untuk Mengatasi Kemacetan

Hingga kini, petugas kepolisian masih bersiaga di sejumlah titik untuk mengatur arus kendaraan. Pemerintah daerah juga memberikan imbauan kepada masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan mereka, menghindari jam sibuk, dan mengikuti arahan petugas lalu lintas guna menghindari kepadatan yang lebih parah.

Selain itu, rekayasa lalu lintas akan diberlakukan secara situasional sesuai dengan kondisi di lapangan, guna meminimalkan dampak kemacetan pada masyarakat dan pengendara.