Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kebun Benih Datar Tebu Majalengka: Strategi Kritis Swasembada Gula Nasional

Jabar · Oleh Salsa Maharani ·

Proyek Kebun Benih Datar (KBD) tebu seluas 100 hektare di Majalengka dijadikan langkah krusial pencapaian swasembada gula nasional, sesuai agenda Astacita Presiden Prabowo dan Pasal 33 UUD 1945 ayat (3).

Kebun Benih Datar Tebu Majalengka: Strategi Kritis Swasembada Gula Nasional

Pembangunan Kebun Benih Datar (KBD) tebu seluas 100 hektare di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, bukan hanya proyek pertanian biasa. Menurut Tenaga Ahli Menteri Pertanian Nandang Sudrajat, proyek ini merupakan implementasi konkret agenda Astacita Presiden Prabowo Subianto serta sesuai Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, dengan tujuan mencapai swasembada pangan dan memperkuat hilirisasi industri gula nasional.

Apa Itu Kebun Benih Datar Tebu?

KBD merupakan tahapan terakhir dalam sistem pembibitan tebu berjenjang yang memiliki standar produksi dan pengawasan mutu ketat. Menurut Nandang, untuk mencapai kelas KBD, benih tebu harus melewati empat tahapan pembibitan secara bertingkat: kebun bibit pokok utama, kebun utama, kebun nenek, dan terakhir KBD. Setiap tahapan dirancang untuk menyaring dan meningkatkan kualitas benih, sehingga menghasilkan tanaman tebu yang unggul dan produktif.

KBD sebagai Solusi Tantangan Produktivitas Tebu Nasional

Selama ini, industri tebu Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang menghambat pencapaian swasembada gula, termasuk penggunaan benih yang tidak terstandarisasi, rendahnya rendemen, dan ketergantungan pada tanaman ratoon tua. Nandang menekankan bahwa kualitas benih menjadi titik awal keberhasilan hilirisasi industri tebu. Melalui KBD, pemerintah bertujuan mengatasi permasalahan ini dengan menyediakan bibit unggul yang memiliki produktivitas tinggi dan kualitas gula yang lebih baik.

Proyek ini juga sejalan dengan amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam konteks sektor tebu, hal ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah ekonomi yang langsung dinikmati oleh petani tebu.

"Kaitannya adalah untuk menghasilkan petani tebu yang sejahtera harus diawali oleh sesuatu yang berkualitas. Pembangunan KBD dirancang untuk menghasilkan bibit unggul dengan produktivitas tinggi dan rendemen yang lebih baik. Dengan meningkatnya produktivitas dan kualitas gula, maka nilai ekonomi yang dihasilkan dalam rantai industri tebu juga akan meningkat," ujar Nandang.

Persyaratan Kualitas dan Disiplin Perawatan

Meskipun memiliki potensi besar, Nandang mengingatkan bahwa kualitas KBD tidak dapat dicapai hanya melalui pembangunan fisik semata. Keberhasilan program sangat tergantung pada disiplin penerapan standar penangkaran benih di lapangan. Ia mengutip arahan Direktur Perbenihan Perkebunan Ebi Rulianti, yang menegaskan bahwa perawatan KBD harus sesuai kaidah yang telah ditetapkan agar dapat menghasilkan benih yang berkualitas.

Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah KBD tebu tidak boleh terserang Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Nandang bahkan menyatakan bahwa serangan hama atau OPT pada KBD tebu adalah hal yang "haram" dalam konteks mutu benih, karena akan mempengaruhi kualitas dan keberhasilan sertifikasi.

Dampak dan Peluang Masa Depan

Proyek KBD tebu seluas 100 hektare di Majalengka diproyeksikan mampu menopang pengembangan kebun tebu giling hingga sedikitnya 600 hektare. Selain itu, langkah ini juga merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor gula, yang semakin krusial di tengah situasi global yang tidak stabil, termasuk gangguan rantai pasok internasional dan pembatasan ekspor pangan oleh beberapa negara produsen utama.

Nandang berharap bahwa KBD di Majalengka dapat menjadi model pengembangan tebu nasional berbasis kualitas benih berjenjang, hilirisasi industri, dan penguatan ekonomi petani. Jika ekosistem ini berjalan konsisten, sektor tebu tidak hanya akan mampu memenuhi kebutuhan gula domestik, tetapi juga membuka peluang pengembangan bioetanol dan industri turunan lainnya yang bernilai ekonomi tinggi.