KDM Mau Hadirkan Kereta Kilat Pajajaran, Jakarta-Bandung 1,5 Jam
Pemprov Jawa Barat dan PT KAI menandatangani kerja sama optimalisasi perkeretaapian: pengembangan Kereta Kilat Pajajaran, kereta pariwisata Jaka Lalana, dan penataan stasiun guna dorong konektivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Kolaborasi Pemprov Jabar dan KAI: Langkah Strategis Perkuat Konektivitas Rel
Pada Selasa (2/12/2025), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang bertujuan untuk optimalisasi penyelenggaraan dan pengembangan perkeretaapian di wilayah Jawa Barat. Kolaborasi ini merupakan lanjutan dari komitmen bersama yang telah disepakati pada 10 Oktober 2025, dengan fokus utama memperkuat konektivitas antarmoda dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang merata.
Ruang Lingkup Kerja Sama: Dari Layanan Hingga Penataan Kawasan Stasiun
Ruang lingkup kerja sama ini mencakup tiga pilar utama yang saling terkait:
- Pengembangan layanan kereta api: Mulai dari peningkatan kecepatan perjalanan, pengembangan rute baru, hingga layanan khusus untuk pariwisata dan logistik.
- Penataan kawasan stasiun: Transformasi stasiun menjadi simpul mobilitas yang modern, nyaman, dan terintegrasi dengan angkutan umum lainnya.
- Penyusunan kajian strategis: Analisis mendalam untuk mendukung percepatan pembangunan ekosistem transportasi berbasis rel di Jawa Barat.
Pengembangan Layanan Kereta Api yang Diharapkan
Salah satu layanan yang paling dinantikan adalah Kereta Kilat Pajajaran, yang akan melayani dua rute utama: Gambir-Kota Bandung dan Kota Bandung-Banjar. Menurut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, waktu tempuh rute Gambir-Kota Bandung diperkirakan hanya satu setengah jam, bahkan bisa dipersingkat menjadi 1 jam dengan optimalisasi lebih lanjut. Untuk rute Kota Bandung-Banjar melalui Garut dan Tasikmalaya, waktu tempuh diharapkan mencapai 2 jam.
"Waktu tempuh relatif sangat cepat yaitu Gambir-Kota Bandung satu setengah jam dan bisa dibikin 1 jam kalau mau... Kemudian dari kota Bandung Garut Tasik sampai Banjar dengan waktu tempuh 2 jam," ujar Dedi melalui akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71.
Selain itu, kajian juga akan dilakukan untuk pengembangan kereta pariwisata Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur bernama Jaka Lalana, yang diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke destinasi di wilayah tersebut. Terdapat juga rencana pengembangan layanan khusus lainnya:
- Lokomotif atau gerbong khusus untuk mengangkut hasil pertanian dan perdagangan dari Jakarta ke Cirebon dan Banjar.
- Pengembangan kereta rel listrik di rute Padalarang-Cicalengka.
- Optimalisasi jalur KRL Nambo-Citayam untuk meningkatkan kapasitas dan keandalan layanan.
Gubernur Dedi juga menyampaikan harapan agar pihaknya bisa mendapatkan dukungan pendanaan untuk mewujudkan semua rencana ini. "Untuk itu doakanlah agar kami bisa mendapat uang untuk memenuhi seluruh cita-cita yang besar ini semoga Pemda Jawa Barat berjodoh dengan PT KAI," tuturnya.
Penataan Kawasan Stasiun: Transformasi Simpul Mobilitas
Penataan kawasan stasiun menjadi salah satu prioritas utama dalam kolaborasi ini. Pada tahap pertama, fokus akan diberikan pada Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong sebagai simpul mobilitas utama di Bandung Raya. Tahap berikutnya akan diterapkan di stasiun-stasiun lain sesuai dengan kebutuhan dan prioritas bersama.
Menurut Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin, penataan kawasan stasiun bertujuan untuk menciptakan ruang yang lebih ramah pejalan kaki, terintegrasi dengan angkutan umum lainnya, dan memberikan ruang yang lebih baik bagi UMKM lokal. "Stasiun harus mencerminkan wajah Jawa Barat yang modern, nyaman, dan inklusif," lanjut Bobby.
Saat ini, Jawa Barat memiliki sekitar 98 stasiun aktif yang berperan sebagai simpul mobilitas masyarakat dan pintu masuk kegiatan ekonomi daerah. Dengan transformasi ini, stasiun-stasiun tersebut diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di sekitarnya.
Dampak Kolaborasi bagi Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat
Kolaborasi ini diharapkan memberikan dampak positif yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh:
- Peningkatan konektivitas: Mempermudah mobilitas masyarakat dan pelaku usaha antar kota di Jawa Barat, sehingga mempercepat arus barang dan jasa.
- Peningkatan pariwisata: Dengan adanya kereta pariwisata Jaka Lalana dan Kereta Kilat Pajajaran, destinasi wisata di Jawa Barat akan lebih mudah dijangkau oleh wisatawan dari Jakarta dan wilayah sekitarnya.
- Peningkatan efisiensi logistik: Layanan kereta api untuk pengangkutan hasil pertanian dan UMKM akan mempermudah distribusi produk lokal ke pasar yang lebih luas, sehingga meningkatkan pendapatan petani dan pengusaha kecil.
- Transportasi berkelanjutan: Pengembangan kereta rel listrik dan optimalisasi jalur KRL akan mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor pribadi, sehingga mengurangi polusi udara dan kemacetan.
Bobby Rasyidin menegaskan bahwa kolaborasi ini selaras dengan agenda transformasi KAI dan prioritas pembangunan Jawa Barat yang berorientasi pada pemerataan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas layanan publik. "Kereta api adalah fondasi konektivitas Jawa Barat. Melalui kerja sama ini, kami ingin menghadirkan layanan yang semakin relevan bagi masyarakat," ujar Bobby.