Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Jersey Komunitas Lari dan Riders Dorong Permintaan Mesin Apparel di Bandung trotz Perlambatan Industri

Bandung · Oleh ·

Permintaan jersey custom dan print on demand dari komunitas lari serta riders di Bandung tetap menjaga pasar mesin apparel hidup meski industri tekstil melambat dengan pertumbuhan 3-4 persen

Jersey Komunitas Lari dan Riders Dorong Permintaan Mesin Apparel di Bandung trotz Perlambatan Industri

Di sebuah hari biasa di Bandung, puluhan komunitas lari dan riders sudah mulai merancang desain jersey untuk kegiatan mereka bulan depan.一股一股 pesanan custom dalam jumlah kecil menjadi pemandangan biasa di dunia apparel Bandung. Kondisi ini memunculkan celah bisnis meski industri tekstil secara umum tengah melambat.

Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 yang berlangsung di Bandung Convention Centre pada 2 hingga 5 September 2026 mencatat fenomena itu. Pameran ke-11 ini menghadirkan sekitar 20 perusahaan dengan lebih dari 40 brand teknologi produksi apparel. Para peserta bukan hanya datang untuk menawarkan mesin, tetapi juga membaca pergeseran pola permintaan yang kini bergeser ke produksi custom dan print on demand.

Project Manager Moremedia Indonesia Bryan W. Arsaha mengatakan permintaan print on demand dan custom printing cukup kuat pada segmen menengah dan kecil di Bandung. Salah satu pendorong utamanya adalah meningkatnya kegiatan komunitas dan olahraga yang membutuhkan pakaian dengan desain khusus.

Baca Juga: TD dan YL, Dua ASN Disnaker Cimahi, Jadi Tersangka Korupsi Pelatihan Tenaga Kerja 2022-2024 dengan Aliran Dana Rp823 Juta

"Jersey kadang-kadang cuma dipakai pas running terus udah. Nah, itu yang sekarang baru tinggi sekali demand-nya. Setiap event running kostum jersey-nya baru, tiap event komunitas riders punya kostumnya masing-masing," kata Bryan.

Pertumbuhan kebutuhan printing secara umum memang tidak sedang dalam fase ekspansi tinggi. Ketua KOPI Grafika Usman Batubara menyebutkan pertumbuhan kebutuhan printing saat ini berada di kisaran 3 hingga 4 persen. Kondisi ini membuat pelaku industri harus semakin selektif dalam membaca peluang.

Meski begitu, ketergantungan pada mesin impor menjadi persoalan serius bagi pelaku usaha apparel. Bryan mengatakan Indonesia belum memiliki kemampuan untuk memproduksi mesin-mesin apparel secara masif. Semua kebutuhan mesin masih bergantung pada impor.

Baca Juga: DPKP Bandung Tanam 10 Pohon Mahoni Pengganti yang Ditebang di Depan Lapangan Padel Jalan Riau

"Kalau mesin-mesin itu sebagian besar masih impor. Kita belum punya kemampuan untuk memproduksi mesin-mesin itu secara masif," terang Bryan.

Pembatasan impor dan kenaikan nilai tukar membuat biaya mesin meningkat dalam setahun terakhir. Kondisi ini memperkecil peluang bisnis meski permintaan terhadap teknologi apparel di Bandung tetap tinggi. Para pelaku usaha menengah dan kecil di Bandung harus menghadapi kenyataan bahwa investasi mesin akan terdampak langsung oleh fluktuasi nilai tukar dan kebijakan perdagangan.

Persaingan dengan negara seperti Vietnam dan Bangladesh semakin memperumit situasi. Kedua negara itu memiliki biaya produksi lebih kompetitif, memaksa pelaku usaha di Jawa Barat untuk menemukan cara agar biaya produksi lebih rendah tanpa mengorbankan kualitas.

Namun di tengah tekanan itu, celah tetap terbuka. Komunitas-komunitas muda di Bandung terus membutuhkan produksi jersey dan kostum custom dalam jumlah kecil untuk setiap kegiatan mereka. Inilah yang membuat permintaan terhadap teknologi Direct-to-Garment dan direct-to-textile tetap hidup, meski laju pertumbuhan industri tekstil secara keseluruhan melambat.