Jelang Iduladha: Perajin Tusuk Sate Tasikmalaya Banjir Pesanan tapi Terbatas Produksi
Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, perajin tusuk sate di Tasikmalaya mengalami peningkatan pesanan hingga 70%, tapi menghadapi kendala kapasitas produksi dan kekurangan tenaga kerja muda.

Gelombang Pesanan Tusuk Sate di Tengah Momentum Iduladha
Menjelang perayaan Iduladha 1447 Hijriah, sektor UMKM kerajinan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mulai menunjukkan tren positif yang signifikan. Salah satu industri yang merasakan manfaat paling nyata adalah pembuatan tusuk sate bambu di Kampung Panunggalan, Kelurahan Sukahurip, Kecamatan Tamansari, yang kini dilanda pesanan melimpah.
Peningkatan Permintaan yang Signifikan
Menurut data yang dikumpulkan, permintaan tusuk sate di wilayah ini meningkat hingga 70% dibandingkan hari biasa. Meskipun demikian, para perajin mengakui bahwa mereka belum mampu memenuhi seluruh pesanan secara maksimal, disebabkan oleh dua faktor utama: keterbatasan kapasitas produksi dan kekurangan tenaga kerja.
Salah satu pelaku usaha yang terkena dampak momentum ini adalah pasangan suami istri Karto Widodo (65) dan Ai Nurhayati (63), yang menjalankan usaha pembuatan tusuk sate selama 15 tahun. Usaha mereka telah dikenal luas oleh pelanggan dari berbagai wilayah, dengan jangkauan meliputi:
- Priangan Timur: Ciamis, Banjar, Garut, Sumedang
- Jabodetabek: Tangerang, Bekasi, Depok
Dalam wawancara pada Minggu (17/5), Ai Nurhayati menyatakan bahwa momentum Iduladha selalu menjadi puncak produksi tahunan bagi usahanya. Meskipun bahan baku bambu tersedia melimpah di pasar lokal, ia menghadapi tantangan serius dalam hal sumber daya manusia.
"Alhamdulillah, tahun ini permintaan dari berbagai daerah meningkat. Untuk memenuhi pesanan, kami dibantu tetangga sekitar dan harus berproduksi setiap hari. Namun, pekerjaan memang belum maksimal karena kapasitas pabrik yang terbatas," ujar Ai.
Selain kendala kapasitas pabrik, Ai juga menyebutkan bahwa sulitnya mencari tenaga kerja muda menjadi hambatan tersendiri. Menurutnya, generasi muda saat ini cenderung memilih pekerjaan yang lebih ringan dan bersih dibandingkan mengolah bambu, yang dianggap membutuhkan tenaga fisik tinggi dan kurang prestisius di mata sebagian orang.
Penyesuaian Harga dan Komitmen Kualitas
Terkait harga jual, Ai menjelaskan bahwa sejak tahun lalu telah terjadi penyesuaian harga sebesar Rp1.000 akibat kenaikan harga bahan baku bambu serta biaya transportasi yang meningkat. Saat ini, harga jual tusuk sate berada di kisaran Rp17.000 per kilogram.
Meski dihadapkan pada kendala modal dan tenaga kerja, Ai dan suaminya tetap berkomitmen menjaga kualitas produk demi keberlangsungan ekonomi keluarga dan pendidikan anak-anak mereka. "Produksi berbagai tusuk bambu ini kami lakukan untuk pemenuhan ekonomi keluarga, apalagi saat kondisi ekonomi sedang tidak menentu seperti sekarang," pungkasnya.
Tantangan dan Harapan bagi UMKM Kerajinan Bambu Tasikmalaya
Peningkatan permintaan tusuk sate ini tidak hanya memberikan manfaat finansial bagi para perajin, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi tetangga yang terlibat dalam proses produksi. Namun, kendala yang dihadapi juga menunjukkan bahwa UMKM di sektor kerajinan bambu masih membutuhkan dukungan lebih lanjut, baik dalam bentuk akses modal untuk meningkatkan kapasitas produksi maupun pelatihan untuk menarik generasi muda terlibat dalam industri ini. Tanpa dukungan yang memadai, para perajin khawatir bahwa mereka tidak akan mampu memenuhi permintaan yang semakin meningkat di masa depan, terutama saat momentum hari raya seperti Iduladha.