Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Jawa Barat Dorong Ekonomi Syariah, Peluang USD3,56 Triliun Menunggu

Jabar · Oleh · · Diperbarui 11 Agustus 2026

Bank Indonesia Jawa Barat dorong ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan baru. Potensi HVC Rp55 trilyun dan belanja muslim global USD3,56 triliun jadi peluang, namun literasi baru 50%.

Jawa Barat Dorong Ekonomi Syariah, Peluang USD3,56 Triliun Menunggu

Bank Indonesia Jawa Barat menegaskan komitmennya mendorong ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di provinsi tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam rangkaian West Java Sharia Economic Festival (WJSEF) 2026 yang berlangsung di Masjid Trans Studio Bandung.

Komitmen Bank Indonesia Mengawal Ekonomi Syariah

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, menyampaikan bahwa pengembangan ekonomi syariah tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga membangun sistem ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

Baca Juga: Evakuasi Jasad Perempuan dari Sumur 12 Meter di Tasikmalaya Terhambat Ular Kobra

"Sebagai Bank Sentral, Bank Indonesia memiliki komitmen untuk terus mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru," tutur Junanto.

Menurut Junanto, Jawa Barat memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu episentrum pengembangan ekonomi halal nasional. Potensi tersebut didukung oleh beberapa faktor utama:

Potensi Ekonomi Halal yang Menjanjikan

Secara nasional, sektor Halal Value Chain (HVC) telah menyumbang sekitar 27,34 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Angka ini menunjukkan betapa besar kontribusi sektor halal terhadap perekonomian nasional.

Baca Juga: MUI: Laki-laki Pakai Pakaian Perempuan Saat Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram

Di tingkat global, belanja konsumen muslim dunia terus menunjukkan tren peningkatan. Proyeksi menyebutkan belanja tersebut akan mencapai USD3,56 triliun pada 2029. Potensi pasar sebesar ini menjadi peluang besar bagi Jawa Barat untuk bersaing di kancah internasional.

Tantangan Literasi yang Perlu Ditingkatkan

Meskipun potensi ekonomi syariah sangat besar, terdapat tantangan serius yang harus diatasi. Tingkat literasi ekonomi dan keuangan syariah Indonesia pada 2025 baru mencapai 50,18 persen. Artinya, masih ada separuh populasi yang belum memahami prinsip-prinsip dasar ekonomi syariah.

Junanto menegaskan bahwa edukasi kepada masyarakat masih perlu diperkuat secara masif. Penguatan literasi ini menjadi kunci agar potensi ekonomi halal dapat dioptimalkan dengan baik.

Strategi Penguatan Ekosistem Halal

Sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat, BI Jawa Barat menggelar berbagai kegiatan edukasi melalui WJSEF 2026. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi:

Kolaborasi Multi Pihak Diperlukan

Junanto menekankan bahwa penguatan ekonomi syariah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga tokoh masyarakat perlu bekerja sama agar dampaknya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, penceramah Ustadz Hilman Fauzi mengingatkan pentingnya membangun keluarga sejahtera melalui pengelolaan rezeki yang halal dan penuh keberkahan. Ia menekankan untuk menghindari:

"Pengelolaan keuangan keluarga sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, kebermanfaatan, serta prinsip maqashid syariah," jelas Ustadz Hilman.

Mimpi Jawa Barat Menuju Pusat Ekonomi Halal

Tabligh Akbar WJSEF 2026 kemarin dihadiri sekitar 3.000 jamaah dari berbagai majelis taklim dan masyarakat Bandung Raya. Antusiasme tinggi ini menjadi bukti bahwa kesadaran masyarakat terhadap ekonomi syariah terus meningkat.

BI Jawa Barat berharap penguatan literasi ekonomi syariah dapat mendorong lahirnya ekosistem halal yang lebih kuat. Selain itu, diharapkan mampu membantu UMKM syariah naik kelas dan mendukung visi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.

Dengan potensi yang besar dan komitmen kuat dari berbagai pihak, ekonomi syariah Jawa Barat optimistis menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah.