Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Jangan Bilang 'Cuma Pergi Saja', Ini Alasan Psikologis Korban Kekerasan dalam Pacaran Sulit Pergi

Bandung · Oleh · · Diperbarui 14 Agustus 2026

Kasus penyekapan 3 tahun di Bandung unveil psikologi korban kekerasan yang sulit pergi. Trauma bonding, siklus kekerasan, dan alasan di balik keputusan korban untuk bertahan.

Jangan Bilang 'Cuma Pergi Saja', Ini Alasan Psikologis Korban Kekerasan dalam Pacaran Sulit Pergi

Kasus Bandung yang Mengguncang Publik

Kasus penyekapan dan penganiayaan yang menimpa perempuan berinisial YTR (29) oleh pacarnya TH di Kabupaten Bandung menjadi sorotan publik. Selama kurang lebih tiga tahun, korban mengalami penyekapan, kekerasan fisik, hingga tekanan psikologis dalam hubungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman.

berbagai respons bermunculan di media sosial. Tidak sedikit warganet mempertanyakan mengapa korban tidak segera pergi atau mengakhiri hubungan tersebut. Pertanyaan itu seolah sederhana, namun realitasnya jauh lebih kompleks.

Baca Juga: Pintu Tidak Rapatancocok jadi Titik Masuk Maling, Ini Cara Memperbaikinya

Apa Sebenarnya Trauma Bonding?

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai trauma bonding atau ikatan traumatis. Konsep ini menjelaskan mengapa korban kekerasan dalam hubungan pasangan justru sulit meninggalkan pelaku.

Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku akibat siklus kekerasan yang berulang. Ikatan ini bukan berarti korban menikmati kekerasan, melainkan terbentuk karena pola hubungan yang saling bertolak belakang.

Pelaku melakukan penghinaan dan kekerasan, namun di saat bersamaan meminta maaf, menunjukkan perhatian, memberikan harapan palsu, atau berjanji akan berubah. Pergantian antara luka dan kasih sayang inilah yang membuat korban terus berharap.

Baca Juga: Harga Ayam Hidup di Jawa Barat Naik 22 Persen Jadi Rp25 Ribu per Kg Usai Program MBG Berhenti

Siklus Kekerasan yang Membuat Korban Terjebak

trauma bonding terbentuk melalui beberapa tahapan:

Siklus ini terus-menerus berulang sehingga korban berada dalam kondisi emotional rollercoaster yang membuat mereka tidak mampu berpikir jernih.

Mengapa Pergi Bukan Pilihan Mudah?

Ada beberapa faktor psikologis yang membuat korban merasa tidak mampu pergi:

1. Ketergantungan Emosional yang Dibangun Pelan Tapi Pasti

Pelaku secara sistematis menjauhkan korban dari keluarga, teman, dan lingkungan support system mereka. Lambat laun, korban kehilangan ruang aman untuk bercerita dan bergantung sepenuhnya pada pelaku.

2. Hilangnya Rasa Percaya Diri

Kritik terus-menerus, penghinaan, dan kontrol terhadap aktivitas sehari-hari membuat korban mulai meragukan kemampuan dan harga dirinya. Mereka percaya tidak akan mampu hidup tanpa pelaku.

3. Ketakutan akan Pembalasan

Ancaman fisik, intimidasi, atau promise that things will get worse jika korban mencoba pergi menjadi alasan kuat mereka bertahan.

Tanda-Tanda Hubungan Tidak Sehat

Sayangnya, kekerasan dalam pacaran jarang terjadi secara tiba-tiba. Hubungan yang awalnya penuh perhatian bisa berubah menjadi hubungan yang sarat kontrol. Berikut peringatan dini yang sering diabaikan:

Perilaku-perilaku tersebut sering dianggap sebagai bentuk cinta atau kecemburuan wajar, padahal justru bisa menjadi fondasi hubungan tidak sehat.

Kapan Siklus Kekerasan Mulai Terjadi?

Para ahli menyebutkan bahwa fase honeymoon biasanya terjadi di awal hubungan. Pelaku sangat perhatian, romantis, dan membuat korban merasa istimewa. Fase ini berlangsung beberapa bulan hingga bertahun-tahun sebelum kekerasan mulai muncul.

Pola ini membuat korban sulit menyadari bahwa mereka sedang berada dalam hubungan abusive. Mereka cenderung merasionalisasi perlakuan buruk sebagai bentuk kecemburuan yang membuktikan cinta.

Mengapa Victim Blaming Harus Dihentikan?

Masyarakat sering kali hanya melihat hasil akhir hubungan kekerasan. Korban dianggap lemah, tidak berani mengambil keputusan, bahkan ada yang menuduh korban menikmati hubungan tersebut.

Pendekatan seperti ini sangat berbahaya karena:

Berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa paparan kekerasan berulang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan menilai situasi yang sedang dihadapinya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Memahami trauma bonding bukan berarti membenarkan tindakan pelaku atau mengurangi tanggung jawab hukumnya. Pemahaman ini penting agar kita bisa memberikan dukungan yang tepat.

Semakin cepat korban merasa didukung, semakin besar peluang mereka untuk keluar dari hubungan tidak sehat dan memulai proses pemulihan.

Penutup

Kasus YTR menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam pacaran adalah masalah serius yang membutuhkan perhatian bersama. Kunci utamanya adalah memahami bahwa keputusan untuk pergi tidak pernah semudah yang dibayangkan.

Alih-alih menyalahkan korban, kita perlu membangun lingkungan yang mendukung dan memastikan korban memiliki akses terhadap bantuan yang mereka butuhkan.