Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Inovasi Replast Lab: Anak Muda Bandung Ubah Sampah Plastik Menjadi Produk Bernilai

Jabar · Oleh Raka Permana ·

Replast Lab, inisiatif anak muda Bandung, mengubah limbah plastik menjadi produk bernilai seperti gantungan kunci dan kursi, serta berupaya mengurangi persoalan sampah plastik di Indonesia.

Inovasi Replast Lab: Anak Muda Bandung Ubah Sampah Plastik Menjadi Produk Bernilai

Latar Belakang Berdirinya Replast Lab

Di tengah persoalan sampah plastik yang semakin parah di Indonesia, terutama di Kota Bandung, sebuah inisiatif bisnis yang diprakarsai oleh tiga anak muda memberikan solusi inovatif. Dafa Alif (23) bersama dua rekannya, Wildan dan Rizky, mendirikan Replast Lab pada tahun 2024, sebuah ruang eksperimen yang mengubah limbah plastik menjadi produk bernilai jual.

Nama Replast Lab sendiri merupakan singkatan dari recycle plastic, dengan tambahan kata "lab" karena tempat ini berfungsi sebagai ruang eksperimen untuk terus berkreasi mengolah limbah plastik menjadi berbagai produk baru. Menurut Dafa, ide awal berdirinya Replast Lab berasal dari pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu desa Kabupaten Sumedang pada akhir 2023.

Saat menjalani KKN, Dafa dan timnya memilih fokus pada isu persampahan dibandingkan sektor tekstil, karena menawarkan ruang eksplorasi yang lebih luas serta tantangan nyata di masyarakat. Selama program KKN, mereka mengembangkan berbagai inovasi sederhana, mulai dari paving block, batako, mesin pembakaran sampah tanpa asap, hingga pengolahan plastik menjadi produk baru. Namun, setelah KKN selesai, persoalan sampah plastik terus menghantui pikiran mereka, mendorong mereka untuk mendirikan Replast Lab.

Dari Sampah ke Produk Bernilai: Proses Pengolahan Replast Lab

Plastik menjadi jenis sampah nonorganik yang paling mendominasi di TPS, dengan jumlah yang terus bertambah dari aktivitas sehari-hari seperti kemasan makanan, kantong kresek, dan bungkus jajanan. Di tangan tim Replast Lab, limbah plastik yang semula tidak bernilai diubah menjadi berbagai produk fungsional dan menarik.

Proses pengolahan limbah plastik tidaklah sederhana:

Produk daur ulang sampah plastik dari Replast Lab Beragam produk daur ulang sampah plastik dari Replast Lab, mulai dari gantungan kunci hingga papan plastik dan kursi. (Foto: Replast Lab)

Tantangan yang Harus Dihadapi

Perjalanan mendirikan Replast Lab tidak selalu mulus. Tantangan terbesar pada awal pendirian adalah masalah pendanaan, seperti biaya mesin pencacah, alat produksi, listrik, dan tempat produksi. Banyak orang mengira pengolahan sampah adalah usaha yang murah, namun faktanya membutuhkan investasi yang tidak kecil.

Namun, menurut Dafa, tantangan yang lebih sulit bukanlah soal modal, melainkan mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah. Ia menilai slogan "buanglah sampah pada tempatnya" tidak cukup menyelesaikan masalah, karena sebagian besar masyarakat tidak memahami ke mana sampah tersebut akan berakhir setelah dibuang.

"Sampah itu sebenarnya tidak punya tempat di bumi. Ujung-ujungnya hanya berpindah ke TPS atau TPA dan terus menggunung," kata Dafa saat ditemui di kediamannya di Karasak Tengah, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, pada Kamis (4/6).

Sampai saat ini, tim Replast Lab hanya terdiri dari 3 anggota inti dan sekitar 9 orang anggota tambahan. Meskipun demikian, Dafa memiliki visi yang jauh lebih besar untuk usaha ini.

Visi dan Masa Depan Replast Lab

Salah satu visi utama Dafa adalah menghadirkan program penyuluhan dan workshop pengelolaan sampah bagi masyarakat, mulai dari edukasi pemilahan sampah hingga pelatihan membuat produk daur ulang yang memiliki nilai ekonomi. Ia ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa sampah bukanlah limbah yang harus dibuang begitu saja, melainkan sumber daya yang bisa dimanfaatkan.

Dafa juga menyoroti persoalan sampah di sekitar lingkungannya, di mana banyak warga masih membuang sampah ke sungai di belakang rumahnya, yang mengganggu ekosistem sungai. Ia percaya bahwa perubahan harus dimulai dari dua arah sekaligus: masyarakat dan pemerintah.

Menurutnya, edukasi mengenai sampah masih minim diajarkan sejak usia dini, dan dukungan pemerintah terhadap pengelolaan sampah perlu diperkuat, terutama di kota wisata seperti Bandung yang menghasilkan volume sampah besar setiap harinya.

Di masa depan, Dafa berharap Replast Lab tidak hanya tumbuh sebagai bisnis daur ulang yang menguntungkan, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Ia berharap bahwa suatu hari, limbah plastik bisa dijuluki sebagai sumber daya bernilai, bukan beban lingkungan. "Saya berharap Replast bisa memberikan lebih banyak edukasi kepada masyarakat bahwa sampah itu kalau diberi kesempatan kedua bisa menjadi jauh lebih bernilai dan menjadi produk yang bisa dibanggakan di Indonesia," tutup Dafa.