Indramayu Bersiap Raih Swasembada: Strategi Baru untuk Capai Produksi Padi 1,6 Juta Ton
Indramayu targetkan produksi padi 1,6 juta ton 2026 dengan strategi gilir-giring air dan pompanisasi untuk hadapi tantangan musim kemarau.

Potensi Pertanian Indramayu yang Tak Boleh Diremehkan
Kabupaten Indramayu kembali menunjukkan dirinya sebagai salah satu lumbung padi strategis di Jawa Barat. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat menatap 2026 dengan optimisme tinggi, menargetkan produksi padi menyentuh angka 1,6 juta ton.
Angka ambisius ini bukan sekadar angan. Dengan luas baku sawah (LBS) sekitar 125 ribu hektare dan indeks pertanaman (IP) sebesar 1,8, kabupaten ini memproyeksikan panen bisa berlangsung di lahan seluas kurang lebih 230 ribu hektare setiap tahun.
Baca Juga: Kejari Purwakarta Tahan Tiga Tersangka Penyalagunaan Kredit Bank BUMN Senilai Rp 3,4 Miliar
Produktivitas Tinggi Jadi Kunci Sukses
Rata-rata produktivitas padi di Indramayu kini mencapai 6,6 ton per hektare. Angka ini menjadi motor penggerak utama dalam mencapai target produksi tahunan.
"Di Indramayu ini masih menghasilkan di atas 1,6 juta ton. Ini estimasi kita untuk per tahun," tegas Kepala DKPP Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto.
Jika kondisi cuaca mendukung dan infrastruktur pengairan berjalan optimal, produksi ini bahkan bisa melampaui angka target.
Baca Juga: Damkar Kuningan Evakuasi Ular Kobra 1 Meter dari Rumah Guru Ngaji
Tantangan Musim Kemarau yang Perlu Diwaspadai
Namun, ada dinamika yang harus diwaspadai. Musim tanam kedua saat ini mulai berlangsung di sejumlah wilayah Indramayu, dan diprediksi menghadapi tantangan serius berupa musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi ketersediaan air irigasi yang krusial untuk fase pertumbuhan padi. Kekeringan menjadi momok yang bisa menurunkan hasil panen jika tidak dikelola dengan baik.
Kolaborasi Lintas Elemen Amankan Pasokan Air
Menanggapi potensi ancaman ini, pemerintah daerah tidak bekerja sendiri. Koordinasi erat dilakukan bersama TNI, Polri, dan para petani untuk menyiapkan langkah antisipasi.
Beberapa strategi yang telah disusun:
- Pengaturan sistem gilir-giring air di daerah irigasi untuk memastikan distribusi merata
- Bantuan pompanisasi dari Kementerian Pertanian untuk menambah sumber air
- Pemantauan intensif terhadap lahan yang mulai terdampak kekeringan
"Upaya-upaya kita dibantu Pak Dandim, Pak Kapolres, dan jajaran lain untuk mengamankan gilir-giring air. Ada juga bantuan pompanisasi dari Kementerian Pertanian," jelas Sugeng.
Status Lahan: Kekeringan Masih Terkendali
Sejauh ini, belum ada laporan mengenai lahan yang mengalami puso atau gagal panen secara masif. Laporan yang masuk baru berkaitan dengan kekeringan ringan, dan DKPP tengah menangani distribusi air untuk wilayah-wilayah tersebut.
Panen musim tanam pertama telah rampung di sebagian besar wilayah Indramayu. Kini, perhatian beralih ke musim tanam kedua yang mulai berfase di Kecamatan Gantar.
Langkah Preventif untuk Selamatkan Lahan
DKPP terus memantau kondisi lahan secara berkala. Tujuannya jelas: mencegah kekeringan berkembang menjadi gagal panen.
Langkah preventif meliputi:
- Monitoring rutin luas lahan yang mulai menunjukkan tanda stres kekeringan
- Koordinasi cepat dengan Dinas PU untuk memastikan saluran irigasi berfungsi optimal
- Sosialisasi kepada petani tentang teknik hemat air
Harapan danarget di 2026
Dukungan penuh dari berbagai pihak menjadikan DKPP optimistis target produksi padi tahun ini tetap dapat terealisasi. Kunci utamanya terletak pada dua faktor krusial:
- Kondisi cuaca yang masih mendukung sepanjang musim tanam
- Pasokan air irigasi yang terjaga hingga akhir musim tanam kedua
"Mudah-mudahan target produksi tahun ini bisa tercapai dan lahan yang mulai mengalami kekeringan masih dapat diselamatkan," harap Sugeng.
Indramayu: Komitmen Menjaga Peran sebagai Lumbung Padi
Sebagai salah satu sentra produksi padi utama di Jawa Barat, Indramayu memiliki tanggung jawab besar terhadap ketahanan pangan regional. Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi solid antarpemangku kepentingan, target produksi 1,6 juta ton bukan sekadar angka, melainkan komitmen nyata untuk menjaga kedaulatan pangan daerah dan nasional.