Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Harga Beras Tasikmalaya Masih Tinggi Meski Program SPHP Pasar Murah

Jabar · Oleh Salsa Maharani ·

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Tasikmalaya belum turunkan harga beras dan komoditas pangan lainnya, yang masih menjadi beban berat bagi warga.

Harga Beras Tasikmalaya Masih Tinggi Meski Program SPHP Pasar Murah

Pada Selasa (3/3/2026), pantauan di beberapa lokasi Kota Tasikmalaya menunjukkan harga beras premium dan berbagai komoditas sayuran masih berada di angka tinggi, meskipun pemerintah daerah telah meluncurkan program Pasar Murah Rakyat melalui inisiatif Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Upaya ini dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap penurunan harga pangan yang menjadi beban berat bagi sebagian besar warga.

Latar Belakang Program SPHP di Tasikmalaya

Program SPHP yang digelar bersama Badan Urusan Logistik (Bulog) ini menyediakan paket beras dengan harga Rp57.500 per kemasan 5 kilogram. Meski harga ini jauh lebih rendah dibandingkan harga beras di tingkat pengecer dan pasar tradisional, masyarakat masih mengeluhkan tingginya harga pangan yang terus naik sejak tahun 2023.

Kondisi Harga Beras di Tingkat Penjual

Di tingkat warung warga, harga beras premium masih tertahan di angka Rp17.000 per kilogram, sedangkan di pasar tradisional dijual dengan harga Rp14.000 per kilogram. Meskipun program SPHP menawarkan beras dengan harga lebih murah, banyak warga yang kesulitan mengaksesnya atau merasa bahwa harga yang ditawarkan masih belum cukup terjangkau.

Salah satu warga yang mengeluhkan kenaikan harga beras adalah Janah, 32 tahun, dari Kampung Bojongnangka, Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Purbaratu. Ia mengungkapkan:

"Kami baru kali ini membeli beras murah dari Bulog seharga Rp57.500 per 5 kg. Sebelumnya selalu membeli di warung kualitas premium seharga Rp17 ribu per kg. Kenaikan beras ini membuat beban kebutuhan lain ikut merangkak naik."

Janah menambahkan bahwa kelangkaan beras kualitas medium yang biasanya mudah didapat juga semakin terasa, menambah beban keluarganya yang harus menyesuaikan pola pengeluaran bulanan.

Titik, 60 tahun warga dari Singaparna, juga mengungkapkan kondisi serupa. Ia harus mengantre sejak pukul 08.00 WIB hanya untuk mendapatkan satu kupon beras murah, dengan batasan pembelian hanya satu kantong per orang. Ia menuturkan:

"Kenaikan beras sekarang terasa karena banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran. Apalagi mau masuk bulan Ramadan, kebutuhan pokok naik luar biasa. Bagi rakyat, yang penting harga murah dan stoknya ada, tidak perlu mahal."

Titik menambahkan bahwa kebijakan yang tidak tepat sasaran semakin memperparah beban masyarakat yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kenaikan harga pangan yang berkelanjutan.

Lonjakan Komoditas Pangan Lainnya

Selain beras, lonjakan harga paling drastis terjadi pada komoditas jamur dan cabai domba. Harga jamur yang pada awal bulan ini masih berada di angka Rp14.000 per kilogram kini melonjak hingga Rp32.000 per kilogram. Untuk menyesuaikan daya beli konsumen yang terus menurun, para pedagang di pasar tradisional terpaksa mengemas sayuran dalam ukuran kecil atau paket hemat. Sistem ini dinilai lebih terjangkau bagi pembeli, meskipun secara nilai per kilogram harga komoditas tersebut masih tetap tinggi.

Kinerja Pasar Murah yang Belum Optimal

Meskipun pemerintah daerah terus melakukan intervensi melalui program Pasar Murah Rakyat dan Gerakan Pangan Murah (GPM), pantauan di beberapa titik lokasi menunjukkan tingkat kunjungan pembeli ke gerai GPM masih belum merata. Beberapa gerai terlihat ramai pengunjung, sementara di lokasi lain jumlah pembeli masih terbilang sedikit, meskipun harga yang ditawarkan berada di bawah harga pasar reguler.

Sebelumnya, program serupa juga telah digelar di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Surabaya dan Jawa Tengah, dengan tujuan menjaga stabilitas harga pangan menjelang hari raya. Namun, hasil dari implementasi program ini juga menunjukkan dampak yang beragam, tergantung pada kondisi lokal dan tingkat akses masyarakat.

Kedatangan bulan Ramadan yang semakin dekat semakin menambah tekanan terhadap harga pangan, dengan permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pokok meningkat secara signifikan. Upaya pemerintah untuk menstabilkan harga pangan dinilai masih perlu ditingkatkan, mengingat keluhan yang terus datang dari berbagai lapisan masyarakat. Meskipun pemerintah telah berupaya keras, tantangan untuk menekan harga dan memenuhi kebutuhan masyarakat masih sangat besar, terutama di tengah peningkatan permintaan menjelang hari raya.