Harga Ayam Hidup di Jawa Barat Naik 22 Persen Jadi Rp25 Ribu per Kg Usai Program MBG Berhenti
Harga ayam hidup di Jawa Barat naik 22% jadi Rp25.000 per kg dari sebelumnya Rp20.000 setelah program MBG berhenti sementara. Kenaikan harga mulai terasa di pasar though peternak baru bisa bernapas lega.

Pembaca di Bandung dan seluruh Jawa Barat mulai merasakan dampak kenaikan harga daging ayam di pasar tradisional maupun supermarket sejak pertengahan Agustus 2026. Harga ayam hidup kini menyentuh Rp24.500-Rp25.000 per kilogram, naik signifikan dari posisi sebelumnya yang hanya berkisar Rp20.000-Rp20.500 per kilogram.
Lonjakan harga ini bermula dari kondisi terpuruk yang dialami peternak beberapa bulan sebelumnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu penyerap terbesar hasil ternak unggas berhenti beroperasi sementara karena libur sekolah. Produksi peternak tetap berjalan normal, padahal pasokan dari program MBG sudah tidak ada.
"Kemarin kan posisinya daging ayam kita kebanyakan, karena MBG berhenti sementara karena libur sekolah. whereas produksi tidak berkurang sedikit pun," kata Nining Yuliastiani, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Sabtu (15/8/2026).
Baca Juga: Pintu Tidak Rapatancocok jadi Titik Masuk Maling, Ini Cara Memperbaikinya
Ketidakseimbangan pasokan ini membuat harga jatuh di tingkat peternak. Banyak pelaku usaha perunggasan mengalami kerugian karena hasil panen tidak terserap optimal.
Guna mencari jalan keluar, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah antisipasi sejak Juli 2026. Dinas Perindustrian dan Perdagangan mempertemukan koperasi peternak dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengelola program MBG.
"Jadi peternak yang ada di dekat SPPG yang ada itu kita minta untuk melakukan kerja sama sehingga kepastian dari produk mereka itu akan diserap oleh SPPG dan SPPG gak nyari-nyari lagi di luar Jawa Barat karena sudah ada di situ," tutur Nining.
Baca Juga: AHASS Jawa Barat Tawarkan Diskon Servis hingga 17% Selama Agustus untuk Meriahkan HUT ke-81 RI
Kebijakan ini diperkuat oleh Surat Edaran Badan Pangan Nasional tertanggal 12 Agustus 2026 yang mendorong optimalisasi pembelian produk perunggasan dalam penyelenggaraan MBG. Langkah ini bertujuan memenuhi kebutuhan ayam untuk program tersebut dari peternak lokal.
Dampaknya mulai terasa pada pertengahan Agustus. Harga ayam hidup yang sebelumnya hanya Rp20.000-Rp20.500 per kilogram kini bergerak naik menjadi Rp24.500-Rp25.000 per kilogram, atau meningkat sekitar 22 persen.
"Ini sudah normal sebenarnya, maksudnya normal dalam kaitan peternak itu sudah bisa bernapas. Harga sudah naik, kalau kemarin kan rugi," ucap Nining.
Namun kenaikan harga di tingkat konsumen tidak sepenuhnya sejalan dengan perbaikan yang dirasakan peternak. Nining menyoroti bahwa secara ekonomi, harga ayam di pasar seharusnya masih berada pada kisaran yang wajar dan tidak melampaui batas acuan pemerintah.
"Kalau harusnya secara keekonomian harganya seharusnya bisa di bawah 40. Ini yang kita lihat ada something yang terjadi pada saat distribusi," katanya.
Disperindag Jawa Barat kini menduga ada masalah pada rantai distribusi yang menjadi penyebab utama tingginya harga di pasar. Untuk menelusuri hal ini, mereka berkoordinasi dengan Sarkozy Pangan Jawa Barat.
"Makanya kita sekarang lagi melakukan koordinasi dengan Sarkozy Pangan Jabar untuk kemudian melakukan pengawasan bersama kaitannya di mana ini terjadi titik-titik rawan yang mengakibatkan kenaikan harga yang di atas HAP," lanjut Nining.
Pengawasan fokus pada jalur distribusi dan titik-titik yang berpotensi memicu lonjakan harga tidak wajar. Jika ditemukan indikasi penimbunan atau permainan harga, Sarkozy Pangan bisa menindak tegas pelaku usaha yang terlibat.
Bagi masyarakat Jawa Barat, kenaikan harga bahan pokok seperti ayam ini berpengaruh langsung pada pengeluaran rumah tangga. Terutama bagi keluarga yang mengantungkan kebutuhan protein hewani pada daging ayam karena harganya yang relatif lebih terjangkau dibanding daging merah.
Di sisi lain, keberhasilan penyerapan produksi lokal oleh SPPG memberikan harapan baru bagi peternak. Dengan kepastian pasar dari program MBG, peternak bisa merencanakan siklus produksi dengan lebih baik ke depannya.