Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Hantavirus: Kewaspadaan Meningkat di Cirebon, Belum Ada Kasus Lokal

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Dinkes Cirebon meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, belum ada kasus lokal, dan telah meluncurkan langkah antisipasi serta edukasi masyarakat.

Hantavirus: Kewaspadaan Meningkat di Cirebon, Belum Ada Kasus Lokal

Pada 12 Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus, meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus infeksi virus tersebut di wilayah lokal. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Cirebon, Mona Isabella Saragih, mengkonfirmasi langkah antisipasi ini diambil setelah menerima surat kewaspadaan dari Dinkes Provinsi Jawa Barat.

Latar Belakang Kewaspadaan yang Ditingkatkan

Surat kewaspadaan dini untuk hantavirus sebenarnya sudah diterbitkan oleh Dinkes Cirebon pada tahun 2025. Namun, pihaknya kembali memperketat pengawasan minggu ini seiring dengan adanya laporan kasus hantavirus di beberapa wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta dan Semarang. "Surat kewaspadaan dini sebenarnya sudah pernah keluar pada 2025. Tapi minggu ini kami kembali menerima surat dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat karena di Indonesia sudah ada kasus yang ditemukan di Jogja dan Semarang," kata Mona.

Penularan Hantavirus dan Perbedaan dengan Leptospirosis

Hantavirus adalah penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan curut. Virus ini berbeda dengan leptospirosis, meskipun kedua penyakit sama-sama terkait dengan hewan pengerat. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang masuk melalui luka atau selaput lendir, sedangkan hantavirus menular melalui udara yang terkontaminasi partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus. > "Kalau hantavirus itu penularannya bisa melalui debu atau partikel udara yang mengandung virus dari hewan pembawa," ujar Mona.

Menurut Mona, berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan, hantavirus hingga kini belum terbukti menular dari manusia ke manusia.

Gejala dan Tingkat Kematian Hantavirus

Gejala awal infeksi hantavirus umumnya berupa demam tinggi selama tiga hingga enam hari dengan suhu mencapai 39 derajat Celsius. Penderita juga bisa mengalami mata merah, nyeri pada bola mata, kehilangan nafsu makan, dan tekanan darah menurun. Pada kondisi berat, virus bisa menyerang ginjal dan menyebabkan produksi urine menurun drastis.

Tingkat fatalitas hantavirus bervariasi tergantung pada jenis virus yang menyerang, dengan angka kematian mencapai 1 hingga 50 persen. Mona menambahkan bahwa tingkat kematian hantavirus secara teori lebih tinggi dibandingkan kasus leptospirosis berat, yang memiliki angka kematian sekitar 5 hingga 15 persen.

Langkah Antisipasi dan Edukasi Masyarakat

Dinkes Cirebon telah mengambil beberapa langkah antisipasi untuk mencegah penyebaran hantavirus:

Masyarakat juga diminta untuk lebih berhati-hati terhadap makanan dan minuman kemasan, terutama membersihkan bagian atas kaleng atau botol sebelum digunakan, karena bisa terkontaminasi urine tikus. > "Kadang kita tidak tahu bagian atas kemasan itu dilalui tikus atau terkena kencing tikus. Jadi sebaiknya dibersihkan dulu sebelum diminum," saran Mona.

Selain itu, masyarakat diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi berkepanjangan disertai gangguan pada ginjal atau penurunan produksi urine. Mona menekankan bahwa masa inkubasi hantavirus cukup panjang, yaitu satu hingga tiga minggu setelah terpapar, bahkan bisa mencapai delapan minggu dalam beberapa kasus.

Mona menegaskan bahwa meskipun belum ada kasus hantavirus di Cirebon, kewaspadaan tetap harus dijaga untuk mencegah penyebaran virus ini di wilayah lokal.