Halte BRT Cicadas Picu Macet, Pengamat ITB Sebut Desain Tak Sesuai Koridor Jalan
Pengerjaan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani Cicadas menyebabkan kemacetan. Pengamat ITB mengkritik desain yang tidak mempertimbangkan lebar koridor dan absennya jembatan penyebrangan.

Pengerjaan halte Bus Rapid Transit di tengah badan jalan kawasan Cicadas, Kota Bandung, memaksa pengguna Jalan Ahmad Yani menghadapi kemacetan berkepanjangan. Proyek tersebut awalnya dirancang untuk mengadopsi konsep on-corridor yang diterapkan di koridor busway Jakarta, namun implementasinya jauh berbeda dari rujukan awalnya.
Frans Ari Prasetyo, pengamat tata kota dari Institut Teknologi Bandung, menilai perancang tidak memahami karakteristik jalan di lokasi pembangunan. Ia menjelaskan, halte dengan desain di tengah jalan hanya sesuai untuk koridor berdimensi lebar dan beroperasi pada dua jalur berlawanan.
"Koridor jalan di koridor busway di tengah itu hanya bisa terjadi kalau dia ada di dua koridor jalan yang berlawanan misalkan, kapasitas jalannya juga besar. Kalau ini akhirnya menurut saya jadi menunjukkan bahwa perencanaannya tidak matang," katanya.
Baca Juga: Mahasiswa Bandung Desak Evaluasi Kabinet Prabowo Lewat Aksi di Perempatan Dago
Jakarta membangun halte serupa dengan dukungan jembatan penyebrangan orang untuk mengamankan penumpang yang harus menyeberang empat lajur. Bandung memilih pelican crossing karena keterbatasan lahan, menurut penjelasan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Ia mengklaim masih mencari solusi agar fasilitas itu tetap ramah bagi penyandang disabilitas.
"Ditambah lagi tentu saja dengan lantai yang tinggi, itu kan berarti akan ada kesulitan untuk disabilitas. Itu sebabnya sekarang saya lagi bolak-balik Jakarta ke Kementerian Perhubungan, ke Bappenas, untuk memastikan bahwa secara teknis ini memungkinkan dan tidak mengganggu keseharian masyarakat," katanya.
Frans merekomendasikan dua pilihan untuk memperbaiki kondisi ini. Pertama, memindahkan posisi halte ke jalan dengan lebar seperti Jalan Soekarno Hatta yang memungkinkan desain tengah. Kedua, melengkapi halte dengan jembatan penyebrangan jika tetap bertahan di lokasi semula.
Baca Juga: Persib Bandung Tatap Derbi Paulista di SUGBK sebagai Tamu di Posisi Runner Up Klasemen
"Setiap tempat dia memiliki kekhasannya sendiri. Kekhasan jalan, kekhasan infrastruktur, kekhasan mobilitas orang. Harus dipikirkan itunya yang paling penting karena nanti mempergunakannya kan warganya sendiri," katanya.
Farhan menargetkan pengerjaan rampung dalam dua minggu agar kondisi lalu lintas kembali normal. Ia memerintahkan dinas perhubungan mengatur jadwal pekerjaaan sejak pagi hingga malam dan menempatkan petugas di setiap titik untuk mengurai antrean kendaraan. Sosialisasi kepada warga, pedagang, dan pemilik parkiran diminta dilakukan lebih masif karena selama ini publik tidak mendapat informasi memadai.
BRT Bandung Raya dirancang mencakup 28 halte di sepanjang kota. Dari jumlah tersebut, tiga lokasi telah memasuki tahap pembangunan, yakni di Cicadas, Stasiun Hall, dan Pasar Baru. Polemik Cicadas menjadi peringatan bahwa proyek berskala besar perlu melibatkan pertimbangan teknis dan sosial secara menyeluruh sebelum konstruksi dimulai.