Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Gubernur Jabar Alihkan Jalan Diponegoro untuk Revitalisasi Gedung Sate-Gasibu

KDM · Oleh Nayla Putri ·

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengalihkan Jalan Diponegoro sebagai bagian dari revitalisasi kawasan Gedung Sate yang akan menyatu dengan Lapangan Gasibu, dengan anggaran Rp15 miliar dan timeline hingga Agustus 2026.

Gubernur Jabar Alihkan Jalan Diponegoro untuk Revitalisasi Gedung Sate-Gasibu

Bandung, Senin - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan rencana revitalisasi kompleks Gedung Sate yang akan menyatukan area ikonik tersebut dengan Lapangan Gasibu, melalui langkah unik mengalihkan Jalan Diponegoro yang selama ini memisahkan kedua lokasi. Pengumuman ini disampaikan usai Dedi melakukan peninjauan hunian bagi aparatur sipil negara Kejaksaan Tinggi Jawa Barat di kawasan Kiaracondong, Bandung.

Rencana Alih Jalan Diponegoro Alih Daripada Ditutup

Dedi menjelaskan bahwa Jalan Diponegoro yang ada saat ini tidak akan ditutup permanen, melainkan dialihkan ke jalur baru yang akan dibangun di sebagian lahan Lapangan Gasibu. Sebagai gantinya, lahan bekas Jalan Diponegoro akan diubah menjadi halaman depan Gedung Sate yang lebih luas dan terintegrasi.

"Jadi tidak ditutup, tapi dialihkan. Nanti ada sebagian tanah Gasibu digunakan untuk jalan, sedangkan Jalan Diponegoro-nya digunakan untuk halaman. Jadi tukeran saja. Jalur lurus nanti belok, sehingga kawasan Gedung Sate sampai Gasibu menyatu," ucap Dedi dalam keterangan singkat usai peninjauan.

Langkah ini bertujuan untuk mengatasi masalah yang selama ini dialami kawasan Gedung Sate, yaitu terpisah dari Lapangan Gasibu yang menjadi ruang publik utama di sekitar pusat pemerintahan Jawa Barat.

Alasan di Balik Revitalisasi Halaman Gedung Sate

Menurut Dedi, halaman depan Gedung Sate saat ini tidak mencerminkan karakter bangunan bersejarah kolonial yang menjadi lambang pemerintahan Jawa Barat. Dia menambahkan bahwa kondisi halaman saat ini terkesan tidak terawat dan lebih seperti halaman milik hotel, bukan ruang publik yang resmi.

"Gedung Sate yang begitu indah, hari ini halamannya menjadi 'halaman hotel'. Jadi saya ingin halaman Gedung Sate itu luas, terintegrasi, dan mencerminkan karakter Gedung Sate itu sendiri," ucap Dedi.

Sampai saat ini, Dedi belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dampak revitalisasi ini terhadap prasasti dan fasilitas yang ada di Lapangan Gasibu.

Detail Proyek dan Anggaran

Proyek revitalisasi plaza depan Gedung Sate ini memiliki nilai anggaran sebesar Rp15 miliar, yang telah ditenderkan pada Maret 2026 melalui upaya efisiensi anggaran daerah. Data dari laman Inaproc menunjukkan bahwa tender proyek ini telah diterima dan dapat segera dilaksanakan.

Menurut keterangan dari Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat, proyek ini dijadwalkan berlangsung dari 8 April hingga 6 Agustus 2026, dengan luas kawasan yang akan diintegrasikan mencapai 14.642 meter persegi. Lingkup pekerjaan meliputi:

Pantauan di lapangan pada Senin menunjukkan bahwa pekerjaan telah dimulai sejak pekan sebelumnya. Taman hijau yang selama ini menghiasi wajah Gedung Sate mulai digunduli, ubin dan batu alam plaza dibongkar, serta tanaman cabut untuk memberikan ruang bagi lapangan upacara baru yang akan dibangun.

Pertanyaan Terkait Prasasti Sapta Taruna

Salah satu perhatian publik yang muncul selama ini adalah posisi Batu Prasasti Sapta Taruna, yang merupakan simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum dan terletak di dekat kawasan Gedung Sate. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Mas Adi Komar mengkonfirmasi bahwa prasasti tersebut akan ditataan kembali sebagai bagian dari proyek revitalisasi ini.

"Penataan direncanakan dilaksanakan pada 8 April 2026 - 6 Agustus 2026. Penataan ini akan dilakukan secara sistematis dan transparan. (Untuk prasasti) akan ada penataan," kata Mas Adi dalam keterangan tertulis yang diterima di Bandung.

Namun, hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai bagaimana prasasti tersebut akan dipindahkan atau ditataan, serta apakah akan tetap berada di lokasi yang sama atau dipindahkan ke tempat lain.

Tujuan Jangka Panjang Revitalisasi

Dedi menyatakan bahwa revitalisasi ini bertujuan untuk menjadikan Gedung Sate sebagai titik pusat pemerintahan dan destinasi wisata utama di Jawa Barat. Selama ini, kawasan Gedung Sate dianggap tertutup oleh bangunan tinggi di sekitar Lapangan Gasibu, sehingga sulit diakses dan tidak terlihat oleh publik.

Salah satu tujuan jangka panjang dari proyek ini adalah memindahkan lokasi upacara kemerdekaan dari Lapangan Gasibu ke halaman depan Gedung Sate, untuk menjaga "aura" kewibawaan pusat pemerintahan.

"Ke depan saya punya rencana, dan berharap ke depan itu upacara kemerdekaan pengen di sini (depan Gedung Sate)," ujar Dedi beberapa waktu lalu.

Dedi juga menambahkan bahwa revitalisasi ini akan meningkatkan daya tarik kawasan Gedung Sate sebagai tempat kegiatan sosial, budaya, dan kenegaraan, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Jawa Barat secara umum.

Meskipun memiliki banyak manfaat yang potensial, proyek revitalisasi ini juga menimbulkan beberapa pertanyaan dari publik, terutama mengenai dampak terhadap akses jalan, fasilitas publik yang ada, dan nilai sejarah kawasan Gedung Sate. Namun, hingga saat ini, pihak pemerintah provinsi Jawa Barat belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hal-hal tersebut.