Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Gubernur Jabar Ajak Ubah Cara Pandang Klenik ke Warisan Sunda Kuno

Jabar · Oleh Raka Permana ·

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengajak masyarakat melihat warisan sejarah Sunda dengan perspektif akademik, bukan pandangan klenik, melalui kajian komprehensif peninggalan budaya.

Gubernur Jabar Ajak Ubah Cara Pandang Klenik ke Warisan Sunda Kuno

Konteks Acara Diskusi Cagar Budaya

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, mengajak seluruh masyarakat untuk mengubah cara pandang klenik terhadap peninggalan sejarah Sunda menjadi perspektif yang lebih akademis dan berbasis peradaban. Ajakan tersebut disampaikan saat ia menghadiri diskusi cagar budaya bertajuk "Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake" di Museum Pajajaran Batutulis, Kota Bogor, pada Kamis, 14 Mei 2026. Acara ini dihadiri oleh sejumlah pihak, termasuk pemateri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yakni Titi Surti Nastiti dan Harry Octavianus Sofian.

Menghilangkan Cara Pandang Klenik, Beralih ke Perspektif Akademik

Dedi menjelaskan bahwa peninggalan budaya dan situs sejarah harus dipandang sebagai bukti kemajuan peradaban leluhur Sunda, yang telah memiliki kecerdasan berpikir dan kemampuan membangun budaya pada masanya. Ia menekankan bahwa kegiatan seperti diskusi ini merupakan upaya untuk mengubah paradigma masyarakat yang selama ini melihat warisan sejarah dengan cara yang tidak berdasar.

"Kegiatan ini adalah kita ingin mengubah cara pandang yang klenik menjadi cara pandang yang teknokratis. Sehingga ketika memahami benda-benda kepurbakalaan, maka kita harus melihat dari sudut peradaban," ujar Dedi.

Salah satu fokus utama diskusi adalah Prasasti Batutulis, yang menurut Dedi membutuhkan kajian ilmiah yang komprehensif. Ia menegaskan bahwa penelitian ini harus mencakup berbagai aspek, mulai dari tanggal pembuatan, bahan yang digunakan, siapa yang membuatnya, hingga makna tulisannya yang terkandung di dalamnya. Hasil kajian semacam ini, kata dia, harus dituangkan dalam buku akademik agar dapat diakses dan dipelajari oleh masyarakat secara luas.

Selain Prasasti Batutulis, Dedi juga menyoroti Mahkota Binokasih Sanghyang Pake sebagai simbol sejarah Sunda yang perlu terus diteliti dan didokumentasikan secara akademik. Menurutnya, peninggalan ini memiliki nilai sejarah yang tinggi dan dapat menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa Barat.

Kajian Sejarah sebagai Dasar Pembangunan Masa Depan

Dedi tidak hanya menekankan pentingnya kajian akademik untuk warisan sejarah, tetapi juga menghubungkannya dengan pembangunan daerah di masa depan. Ia menjelaskan bahwa hasil penelitian sejarah tidak hanya akan menjadi arsip pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi dasar pembangunan konsep tata ruang dan identitas kawasan.

"Dan kemudian semuanya harus menjadi karya-karya akademik. Sehingga nanti kita punya buku-buku atau naskah-naskah akademik yang menjelaskan satu masalah demi satu masalah, satu peninggalan demi satu peninggalan untuk membangun dan menata masa depan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa menjaga kesinambungan antara sejarah masa lalu dan pembangunan masa depan sangat penting agar identitas budaya Sunda tetap hidup di tengah perkembangan zaman yang pesat.

Mengembalikan Fungsi Situs Sejarah yang Sebenarnya

Selain itu, Dedi juga menegaskan bahwa situs sejarah seharusnya difungsikan sebagai ruang edukasi dan konservasi, bukan tempat pemujaan yang tidak sesuai dengan konteksnya. Ia menekankan bahwa situs sejarah harus kembali ke peran aslinya, yaitu untuk melestarikan peninggalan budaya, menjadi ruang belajar, dan menjaga kenyamanan lingkungan sekitar.

"Situs sejarah harus kembali jadi situs sejarah. Bukan untuk pemujaan, tetapi untuk konservasi, akademik, dan juga kenyamanan lingkungan," tegasnya.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat menghadiri diskusi cagar budaya di Museum Pajajaran Batutulis, Bogor

Acara diskusi ini merupakan salah satu upaya pemerintah Provinsi Jabar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap warisan sejarah Sunda, serta mendorong terjadinya pelestarian dan pengembangan peninggalan budaya secara berkelanjutan. Dengan pendekatan akademik, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai dan memahami nilai sejarah yang terkandung dalam setiap peninggalan budaya, serta dapat memanfaatkannya untuk pembangunan daerah yang lebih baik.