Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Gempa Dangkal 4,2 Magnitudo Dekat Sukabumi, Warga Cianjur Kembali Panik

Jabar · Oleh Salsa Maharani ·

Gempa tektonik magnitudo 4,2 dengan kedalaman 5 km mengguncang Tenggara Sukabumi dinihari Minggu. Warga Cianjur trauma gempa 2022 panik, belum ada laporan kerusakan tapi BPBD terus memantau.

Gempa Dangkal 4,2 Magnitudo Dekat Sukabumi, Warga Cianjur Kembali Panik

Gempa Dangkal 4,2 Magnitudo Guncang Tenggara Sukabumi, Warga Cianjur Kembali Panik

Gempa bumi tektonik dengan magnitudo 4,2 mengguncang wilayah pada dinihari Minggu, 15 Maret 2026 pukul 00.36 WIB. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa episentrum gempa ini berada pada koordinat 6.97 LS dan 106.98 BT, tepatnya 8 kilometer ke arah Tenggara Kota Sukabumi, dengan kedalaman hanya 5 kilometer. Kedalaman yang sangat dangkal ini membuat getaran gempa terasa lebih kuat dan dirasakan di beberapa wilayah sekitar, termasuk Kabupaten Cianjur yang baru saja melewati trauma gempa dahsyat empat tahun lalu.

Saksi Mata: Getaran yang Menggegarkan Membuat Warga Berlari ke Luar Rumah

Salah satu saksi mata, Beni Ramadhani, warga Jalan Siliwangi Kelurahan Pamoyanan Kecamatan Cianjur, menceritakan pengalamannya saat gempa terjadi. Dia sedang menggunakan handphone sebelum tertidur ketika merasakan getaran yang cukup besar.

"Saat gempa saya belum tidur. Masih main hape (handphone). Saat duduk di kursi, terasa bergoyang. Cukup besar getarannya. Saya langsung berlari ke luar," kata Beni.

Beni menambahkan bahwa dia berdiam di luar rumah untuk waktu yang cukup lama, karena beberapa hari sebelumnya juga telah terjadi getaran gempa yang tidak kalah kuat. "Seminggu ini sudah ada dua kali gempa yang getarannya cukup besar," sebutnya.

Ia juga mengakui bahwa masyarakat Cianjur saat ini sedang dalam kondisi trauma terhadap setiap getaran gempa, sekecil apapun. Empat tahun lalu, wilayah ini diguncang oleh gempa dahsyat yang menyebabkan kerusakan luas dan korban jiwa. "Kalau trauma sih pasti itu mah. Makanya, kalau saya, setiap ada getaran gempa jadi parno (paranoid)," pungkasnya.

Frekuensi Gempa Meningkat, Meningkatkan Trauma Masyarakat

Data BMKG menunjukkan bahwa dalam seminggu terakhir, setidaknya dua kali terjadi gempa dengan magnitudo di atas 4 di wilayah Jawa Barat. Frekuensi gempa yang meningkat ini semakin menambah ketidaknyamanan dan ketakutan masyarakat, terutama di daerah yang telah mengalami bencana gempa sebelumnya.

Kabupaten Cianjur sendiri terkenal dengan aktivitas seismiknya, terutama setelah gempa besar pada November 2022 yang menyebabkan lebih dari 300 korban jiwa dan ribuan bangunan rusak. Sejak saat itu, setiap getaran gempa kecil pun dapat memicu kepanikan di kalangan warga, yang banyak yang masih tinggal di tenda darurat atau merasa tidak aman di dalam rumah.

BPBD: Belum Ada Laporan Kerusakan, Tetap Melakukan Monitoring

Meskipun getaran gempa terasa cukup kuat di beberapa wilayah, hingga saat ini belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa ini. Manager Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengatakan bahwa timnya telah melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan tidak ada dampak serius dari gempa ini.

"Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa bumi," kata Daeng.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, mengkonfirmasi bahwa pihaknya juga telah menindaklanjuti getaran gempa ini dengan melakukan patroli dan monitoring di seluruh wilayah kota. Namun, sampai saat ini belum ada laporan kerusakan yang signifikan. "Belum ada laporan. Tapi kami terus memantau perkembangan di lapangan," kata Yoseph.

Konteks Geologi Gempa di Wilayah Jawa Barat

Gempa tektonik yang terjadi di dekat Sukabumi ini terkait dengan aktivitas subduksi lempeng laut Australia di bawah lempeng Eurasia. Aktivitas ini merupakan penyebab utama gempa bumi di wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan Jawa. BMKG telah mengingatkan bahwa masyarakat di wilayah Jawa Barat harus selalu siap menghadapi kemungkinan gempa bumi, dan selalu memiliki peralatan darurat serta rencana evakuasi yang siap digunakan.

Masyarakat juga disarankan untuk tidak mempercayai informasi hoaks tentang gempa bumi, dan hanya mengandalkan data resmi dari BMKG atau instansi terkait.