Gelombang tinggi landa perairan Cipatujah, 2 nelayan ditemukan meninggal setelah perahu terbalik
Gelombang tinggi landa perairan Cipatujah Tasikmalaya, perahu terbalik. Dua dari tiga nelayan ditemukan meninggal. Satu selamat dengan berenang ke pantai.

Perairan di selatan Jawa kembali merenggut nyawa nelayan. Dua dari tiga orang yang mengarungi laut di kawasan Cipatujah, Tasikmalaya, tidak bisa kembali ke keluarga mereka.
Kecelakaan bermula ketika tiga nelayan bernama Ending, Wili, dan Budi berangkat melaut sekitar pukul 16.00 WIB pada Minggu (4/10/2026). Mereka menentang gelap dan kembali ke daratan sekitar pukul 22.00 WIB malam. Namun, gelombang tinggi menghantam perahu mereka di perairan Pamoekan, Desa Sindangkerta, sebelum bisa merapat.
Budi menjadi satu-satunya yang lolos dari hempasan. Dia dilaporkan berhasil berenang menuju pesisir pantai dan meminta bantuan warga sekitar.
Baca Juga: 71 Apoteker Unisba Gelombang ke-10 Resmi Bersumpah di Grandia Hotel Bandung
Tim SAR gabungan bergerak setelah menerima laporan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Bandung, Ade Dian Permana, mengatakan petugas menemukan kedua korban dalam kondisi tidak bernyawa.
"Tim SAR gabungan mengevaluasi korban setelah ditemukan warga dan upaya yang dilakukan dengan cara menandu melalui jalan kaki naik turun perbukitan semata jarak cukup jauh dari lokasi kejadian perahu terbalik."
Jenazah pertama, Wili (48), ditemukan di perairan Pamoekan, tempat awal perahu terbalik. Jenazah kedua, Ending (58), ditemukan warga sejauh 18 kilometer ke arah timur dari titik awal kejadian. Jarak yang terpisah itu menunjukkan arus yang sangat kuat malam itu.
Baca Juga: Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Terorisme di Enam Provinsi Termasuk Jawa Barat
Evakuasi dilakukan dengan menandu jenazah melewati jalan setapak yang naik turun bukit. Selanjutnya, keduanya dibawa ke Puskesmas Cipatujah untuk diidentifikasi sebelum diserahkan ke keluarga.
Nelayan di kawasan pesisir selatan Jawa memang mengenal risiko tinggi setiap kali melaut
Perairan di sekitar Cipatujah dan kawasan selatan Tasikmalaya dikenal memiliki kondisi laut yang tidak bisa diprediksi. Para nelayan tradisional biasanya membaca tanda-tanda alam sebelum berlayar, tapi cuaca bisa berubah drastis dalam hitungan jam.
Kepala Satuan Kepolisian Perairan dan Udara (Satpolairud) Polski Tasikmalaya, AKP Dian Susila Setiana, menyebut penanganan kasus ini berakhir dengan evakuasi dan pemakaman jenazah di tempat pemakaman umum Pamoekan.
"Kami mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban. Kami himbau agar nelayan jangan memaksakan diri saat gelombang tinggi terjadi karena bahaya bagi keselamatan diri."
Peringatan tentang bahaya melaut saat cuaca buruk bukan hal baru bagi komunitas pesisir di Jawa Barat bagian selatan. Namun, tekanan ekonomi sering kali memaksa para nelayan mengambil risiko demi menghidupi keluarga.
Operasi SAR ditutup setelah kedua jenazah berhasil diserahkan ke keluarga. Warga yang ikut поиска в процессе evakuasi menyebut medan yang sulit karena lokasi kejadian jauh dari pemukiman.