Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Festival Ngadu Layangan di Purwakarta: 256 Peserta Lestarikan Tradisi di Era Digital

Jabar · Oleh · · Diperbarui 26 Agustus 2026

256 peserta dari berbagai provinsi ramaikan Festival Ngadu Layangan di Purwakarta untuk melestarikan tradisi melawan dominasi era digital.

Festival Ngadu Layangan di Purwakarta: 256 Peserta Lestarikan Tradisi di Era Digital

Sekilas tentang Festival Ngadu Layangan di Purwakarta

Kawasan industri JISC di Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi lokasi terpilih untuk pagelaran spesial ini. Ajang bergengsi yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu (18-19/7), mempertemukan ratusan penggemar layangan dari penjuru Nusantara.

Gelaran ini bukan sekadar kompetisi biasa. Melainkan sebuah gerakan nyata untuk menjaga warisan budaya Indonesia tetap hidup, terutama di tengah gempuran perkembangan permainan digital yang semakin mendominasi waktu luang anak-anak muda.

Baca Juga: Jayadi dari PAMDI Karawang Ajak Warga Dukung Penegakan Hukum Humanis pada Harlah KEJARI ke-81

Melibatkan Ratusan Peserta dari Berbagai Wilayah

Daya tarik utama festival ini terletak pada skalanya yang cukup besar untuk sebuah event komunitas. Sekilas tentang Festival Ngadu Layangan di Purwakarta menunjukkan bahwa event ini berhasil menghimpun 256 peserta dari berbagai provinsi.

Mereka datang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Tangerang, Banten, serta berbagai wilayah di Jawa Barat. Jumlah peserta yang fantastis ini membuktikan bahwa tradisi ngadu layangan masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Baca Juga: Asep Saepul Ditangkap Usai 17 Hari Sembunyi di Rumah Guru Spiritual Sukabumi

"Peserta yang ikut di festival layangan ini ada 256 orang, berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Tangerang, Banten, dan berbagai wilayah yang ada di Jawa Barat," jelas Mulyana, Ketua Pelangi Jabar.

Sistem Kompetisi Freestyle yang Menguji Keahlian

Dalam kompetisi ini, setiap peserta menggunakan sistem freestyle pada kelas ukuran layangan 53-58. Aturan mainnya cukup tegas: setiap peserta harus mengumpulkan dua poin kemenangan untuk melaju ke babak berikutnya.

Proses ini berlanjut secara berjenjang menuju semifinal danfinal. Momen-momen menegangkan terjadi ketika peserta harus membuktikan keahliannya mengendalikan layangan sambil berusaha memutuskan benang lawan.

Berbeda dengan layangan sederhana yang biasa dimainkan anak-anak, ngadu layangan menggunakan benang gelasan. Benang ini dirancang khusus agar mampu memutus benang lawan saat bersinggungan. Kombinasi skill, strategi, dan keberanian menjadi kunci kemenangan.

Tantangan Alam yang Mempersulit Permainan

Kompetisi tidak hanya tentang keterampilan manual peserta. Faktor alam turut played peran penting. Hembusan angin yang berubah-ubah menjadi tantangan tersendiri.

Para peserta harus mampu membaca arah angin dengan tepat. Keterampilan ini menentukan keberhasilan mereka dalam mengendalikan layangan sekaligus mencari momen strategis untuk memutus benang lawan.

Sorak-sorai penonton pecah setiap kali salah satu layangan berhasil memutuskan benang lawannya. Tidak sedikit penonton yang berlari mengejar layangan putus dan terbawa angin.

Peran Strategis Generasi Muda dalam Tradisi

Salah satu momen inspiratif datang dari Regina Mulya Yanti. Meskipun hadir di tengah dominasi peserta laki-laki, Regina berhasil menunjukkan perform impresif.

"Di festival layangan kali ini saya justru bisa mengalahkan lawan, meski tantangannya harus bisa menentukan arah angin," cerita Regina.

Keberhasilan Regina membuktikan bahwa ngadu layangan bukan domain eksklusif jenis kelamin. Keterampilan membaca angin dan strategi yang tepat menjadi penentu utama.

Harap untuk Kelangsungan Tradisi ke Depannya

Ade Jo, seorang pegiat layangan, menyoroti pentingnya konsistensi dalam penyelenggaran festival semacam itu. Ia berharap permainan tradisional ngadu layangan dapat diadakan secara rutin setiap tahun.

"Semoga permainan tradisional ngadu layangan bisa konsisten diadakan setiap tahun. Permainan ini juga diharapkan dapat mengalihkan anak-anak dari kebiasaan bermain gawai sehingga kembali mengenal permainan tradisional seperti layangan," harap Ade Jo.

Pandangannya mencerminkan harapan banyak pihak: tournament ini bukan sekadar evento, melainkan momentum penting untuk menarik generasi muda kembali ke pelukan tradisi.

Ngadu Layangan: Olahraga Tradisional dengan Strategi Tinggi

Ngadu layangan merupakan permainan tradisional yang populer di Indonesia. Dalam adu layangan, peserta saling beradu dengan tujuan memutuskan benang lawan menggunakan benang gelasan.

Permainan ini membutuhkan lebih dari sekadar layangan yang lincah. Keterampilan, strategi, serta kemampuan membaca arah dan kekuatan angin menjadi penting untuk meraih kemenangan.

Festival di Purwakarta ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi bisa berjalan beriringan dengan modernitas. Bukan dengan menolak perkembangan zaman, melainkan dengan menunjukkan nilai intrinsik yang tak tertandingi oleh permainan digital mana pun.

Momen Pelestarian Budaya yang Berkelanjutan

Event perdanan oleh komunitas Pelangi Jawa Barat ini menawarkan hadiah menarik yang mampu menarik peserta dari berbagai daerah. Namun, di luar nilai materi, festival ini menyimpan tujuan lebih besar: menjaga agar permainan tradisional tidak tergerus zaman.

Ketika 256 peserta berkumpul di satu tempat, mereka tidak hanya berkompetisi. Mereka turut menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.