Fatherless di Indonesia: Data BPS dan Dampak Emosional Ayah pada Anak
Sebanyak 20,1 persen anak Indonesia berpotensi mengalami fatherless—baik tanpa ayah fisik maupun emosional. Artikel ini mengulas dampak luka emosional dan pentingnya keterlibatan ayah untuk perkembangan anak.

Istilah fatherless belakangan semakin ramai diperbincangkan di media sosial, namun seringkali pembahasannya terjebak pada candaan atau stigma semata. Padahal, kondisi ini merujuk pada lebih dari sekadar tidak adanya sosok ayah di rumah—ia juga mencakup hilangnya kedekatan emosional, dukungan, dan rasa aman yang krusial untuk perkembangan anak. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, hampir seperempat anak di Indonesia berpotensi mengalami fatherless, menyoroti urgensi memahami persoalan ini secara mendalam.
Apa Itu Fatherless?
Fatherless bukan hanya berarti anak tidak memiliki ayah secara fisik, melainkan juga ketika sosok ayah hadir di rumah tetapi tidak terlibat secara emosional. Menurut peneliti psikologi perkembangan Michael E. Lamb dalam bukunya The Role of the Father in Child Development (2010), hubungan anak dengan ayah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan emosi, rasa percaya diri, kemampuan membangun relasi, hingga kesehatan mental di masa dewasa. Lamb menegaskan:
"Pengalaman masa kanak-kanak membentuk kepribadian dan perilaku seseorang di kemudian hari."
Hal ini menunjukkan bahwa peran ayah tidak bisa dianggap remeh, karena banyak luka emosional orang dewasa berakar dari pengalaman masa kecil yang kurang memadai.
Data Fatherless di Indonesia: Angka yang Mengkhawatirkan
Data olahan Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Maret 2024 menunjukkan bahwa 15,9 juta anak Indonesia berpotensi mengalami fatherless, setara dengan 20,1 persen dari total anak di negara ini. Dari angka tersebut:
- 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah secara fisik
- 11,5 juta anak lainnya tinggal bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu, sehingga kurang memiliki keterlibatan emosional yang cukup
Laporan BPS menyatakan bahwa fatherless di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh perceraian atau kematian ayah, tetapi juga oleh tekanan ekonomi, budaya kerja yang menuntut, dan pola pengasuhan yang masih menganggap ayah hanya bertugas sebagai pencari nafkah.
Peran Ayah yang Tidak Hanya Pencari Nafkah
Di masyarakat Indonesia, ayah sering dipahami hanya sebagai penyedia kebutuhan ekonomi. Selama gaji diterima, banyak orang merasa tugas ayah sudah selesai. Namun, penelitian modern membantah pandangan sempit ini. Lamb menjelaskan bahwa ayah memiliki banyak peran dalam kehidupan anak, mulai dari pendamping, pengasuh, pelindung, pengajar, hingga sumber dukungan emosional. Ia menulis:
"Para peneliti, teoretikus, dan praktisi tidak lagi berpegang pada keyakinan sederhana bahwa ayah secara ideal hanya menjalankan satu peran yang bersifat tunggal dan universal."
Anak tidak hanya membutuhkan biaya sekolah atau uang jajan. Mereka juga membutuhkan pelukan, validasi, rasa aman, perhatian, dan keterlibatan emosional yang hangat. Sayangnya, banyak anak tumbuh dengan ayah yang hadir secara fisik tetapi jauh secara emosional—baik karena sibuk bekerja, mudah marah, dingin, atau memilih menjauh setelah perceraian. Kondisi ini sering meninggalkan luka emosional yang tidak langsung terlihat.
Luka Emosional yang Tidak Terlihat
Anak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah sering mengalami kekosongan batin yang sulit dijelaskan. Mereka mungkin tampak baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya menyimpan rasa ditolak, tidak dicintai, atau merasa tidak cukup berharga. Sara McLanahan dan Gary Sandefur dalam buku Growing Up with a Single Parent: What Hurts, What Helps (1994) menyatakan bahwa anak yang tumbuh tanpa salah satu orang tua biologis memiliki risiko lebih besar mengalami masalah perkembangan, dengan catatan bahwa persoalannya bukan semata-mata karena tidak adanya laki-laki di rumah, melainkan hilangnya dukungan emosional dan stabilitas.
Luka emosional akibat fatherless sering muncul dalam bentuk yang tidak disadari, seperti:
- Anak yang tertutup karena emosinya tidak pernah didengar sejak kecil
- Individu yang haus validasi karena tidak pernah mendapatkan pengakuan dari ayah
- Kesulitan mempercayai orang lain karena takut ditinggalkan lagi
- Kesulitan meminta bantuan karena terbiasa menghadapi masalah sendirian
Banyak anak fatherless juga membawa pertanyaan seperti "Apakah aku tidak cukup berharga?" atau "Kenapa aku tidak dipilih untuk dicintai sepenuhnya?" hingga dewasa, apabila luka emosionalnya tidak dipahami dan diproses dengan baik.
Fatherless Bukan Hanya Ketika Ayah Tidak Ada
Banyak orang mengira fatherless hanya terjadi ketika ayah meninggal atau meninggalkan keluarga. Padahal, seorang anak juga bisa merasa fatherless meskipun ayahnya tinggal serumah setiap hari. Kondisi ini dikenal sebagai emotionally absent father, yaitu ayah yang hadir secara fisik tetapi tidak terlibat secara emosional. Contohnya termasuk ayah yang:
- Tidak pernah mendengarkan cerita anak
- Tidak pernah memberi dukungan emosional
- Terlalu otoriter dan mudah meremehkan perasaan anak
- Hanya hadir sebagai sosok yang ditakuti
Anak yang tumbuh dalam kondisi seperti ini sering merasa kesepian meskipun rumahnya terlihat utuh. Mereka belajar memendam emosi sendiri karena tidak punya tempat aman untuk bercerita, yang dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan mental, kepercayaan diri, dan kemampuan mengelola emosi. Lamb menegaskan bahwa kualitas hubungan ayah dengan anak jauh lebih penting dibanding sekadar keberadaan fisik semata.
Dampak Berbeda pada Anak Perempuan dan Laki-Laki
Luka emosional akibat fatherless bisa muncul berbeda pada setiap anak, tergantung pada jenis kelamin dan faktor lainnya:
- Anak perempuan: Sering tumbuh dengan kebutuhan validasi yang tinggi karena kurang mendapatkan rasa aman dan penghargaan dari figur ayah. Beberapa menjadi sangat takut ditinggalkan dalam hubungan, sementara yang lain sulit percaya pada laki-laki.
- Anak laki-laki: Mengalami kebingungan dalam membangun identitas diri, kesulitan mengekspresikan emosi secara sehat karena tidak memiliki contoh hubungan emosional yang baik. Beberapa tumbuh dengan kemarahan yang dipendam, sementara yang lain merasa harus terlihat kuat setiap saat.
Lamb menambahkan bahwa keterlibatan ayah yang positif berkaitan dengan perkembangan sosial, emosional, dan kognitif yang positif pada anak. Artinya, kehadiran emosional ayah tidak hanya memengaruhi hubungan keluarga, tetapi juga membentuk rasa percaya diri, kestabilan emosi, serta kemampuan anak membangun hubungan sosial yang sehat di masa depan.
Memutus Rantai Luka Fatherless
Salah satu hal menyedihkan tentang luka emosional akibat fatherless adalah bahwa ia sering diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Banyak orang tua tidak berniat menyakiti anaknya, tetapi mereka tumbuh dengan kekosongan emosional yang sama dan tidak pernah belajar bagaimana mengekspresikan kasih sayang secara sehat.
Di dalam budaya patriarki, laki-laki sering dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu kuat, tidak boleh menangis, dan memendam emosi. Akibatnya, banyak ayah hadir hanya sebagai pencari nafkah, tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional dalam kehidupan anaknya. Memutus rantai ini tidak hanya soal menghadirkan ayah di rumah, tetapi menghadirkan ayah di hati anak.
Anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan sosok yang mau hadir, mendengar, memahami, dan membuat mereka merasa dicintai serta berharga. Pada akhirnya, kehadiran emosional seorang ayah memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak, karena luka terbesar dalam hidup seseorang sering kali bukan berasal dari kebencian, melainkan dari perasaan tidak dianggap, tidak didengar, dan tidak dicintai oleh orang yang paling diharapkan kehadirannya.