Edukasi AI Etis di Kampus: Mahasiswa UPER Raih Top 5 Google Student Ambassador
Mahasiswa Ilmu Komputer UPER Iman Dwi Satrio meraih posisi top 5 Google Student Ambassador Tier Trailblazer dengan fokus edukasi penggunaan AI etis di lingkungan akademik.

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan akademik terus mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Survei YouGov tahun 2025 menunjukkan bahwa 71 persen mahasiswa di Indonesia telah menggunakan AI untuk membantu tugas atau aktivitas belajar, meningkat dari 64 persen pada survei tahun sebelumnya. Meskipun adopsi teknologi ini memberikan banyak manfaat, tingginya penggunaan juga diiringi sejumlah kekhawatiran utama.
Latar Belakang Tantangan Penggunaan AI di Kampus
Berdasarkan survei YouGov tahun 2025, dua temuan penting terkait penggunaan AI di lingkungan akademik adalah:
- Tingkat adopsi AI meningkat signifikan: 71 persen mahasiswa telah menggunakan AI untuk membantu tugas atau aktivitas belajar, naik dari 64 persen pada tahun 2024
- Ada dua kekhawatiran utama yang dihadapi mahasiswa:
- 53 persen khawatir dituduh melakukan kecurangan akademik
- 51 persen khawatir mendapatkan hasil keliru atau hallucinations dari sistem AI
Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama dalam pemanfaatan AI di lingkungan akademik bukan lagi pada akses teknologi, melainkan pada literasi digital, verifikasi informasi, dan menjaga integritas akademik dalam penggunaan alat AI.
Pendekatan Unik Iman Dwi Satrio sebagai Learning Partner AI
Di tengah dinamika ini, Iman Dwi Satrio, mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina (UPER) angkatan 2024, menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam penggunaan AI. Sebagai lulusan SMK, ia sempat merasa tertinggal pada awal perkuliahan, yang mendorongnya untuk memanfaatkan AI sebagai learning partner bukan jalan pintas.
"Sebagai lulusan SMK, saya sempat merasa tertinggal pada awal perkuliahan. Di situlah saya mulai memanfaatkan AI sebagai partner belajar untuk memahami konsep-konsep sulit. Namun, penggunaannya harus bijak. Saya menggunakannya untuk merangkum materi, mencari alternatif penjelasan, atau mensimulasikan kode, bukan menyalin jawaban. Setiap hasil tetap saya verifikasi agar tidak terjebak informasi keliru atau hallucinations, sehingga proses berpikir dan integritas akademik tetap terjaga,"
ujar Iman pada 26 Februari 2026.
Ia menekankan bahwa setiap output dari sistem generatif AI harus diverifikasi melalui referensi akademik yang kredibel dan dipahami logika berpikirnya. Pendekatan ini memastikan AI berfungsi sebagai penguat pemahaman, bukan sumber ketergantungan atau penyebaran informasi yang salah.
Capaian sebagai Google Student Ambassador Tier Trailblazer
Komitmen Iman terhadap pemanfaatan AI etis dan berdampak positif mengantarkannya meraih posisi Top 5 Google Student Ambassador (GSA) Tier Trailblazer, tingkat tertinggi dalam program tersebut. Dari sekitar 12.000 pendaftar dan 800 ambassador terpilih, hanya lima mahasiswa di seluruh Indonesia yang mencapai kategori ini.
"Dari 800 Google Student Ambassador yang terpilih, hanya lima orang yang mencapai Tier Trailblazer. Google dan Dicoding menitikberatkan penilaian dalam tantangan yang diberikan yaitu pada kualitas dan kedalaman materi yang disampaikan tersebut mampu mengubah cara mahasiswa belajar,"
jelas Iman.
Materi yang dibawakannya berfokus pada pengenalan lingkungan pembelajaran berbasis AI dari Google yang mendorong mahasiswa belajar secara lebih mandiri, kritis, dan bertanggung jawab. Ia melaksanakan kegiatan demonstrasi penggunaan fitur AI Google yang dihadiri lebih dari 100 mahasiswa UPER, serta membuat konten mentorship berbasis platform media sosial TikTok untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa.
Sebagai GSA Tier Trailblazer, Iman memperoleh kesempatan berdiskusi langsung dengan jajaran pimpinan Google Indonesia serta Dicoding, serta mengikuti lokakarya kepemimpinan dan sertifikasi Google Cloud Generative AI Leader.
Rencana Masa Depan dan Dukungan Kampus
Ke depan, Iman merancang komunitas #TeamGoogle UPER sebagai wadah belajar talenta digital dan memperkuat budaya peer-to-peer mentoring di lingkungan kampus. Komunitas ini diharapkan dapat menjadi tempat mahasiswa berbagi pengetahuan tentang teknologi digital, khususnya penggunaan AI etis dan bertanggung jawab.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., turut merespon positif capaian Iman dalam kancah nasional. Menurutnya, prestasi mahasiswa turut sejalan dengan tujuan pembelajaran yang dirancang di UPER untuk menyiapkan talenta unggul di era digital.
"Universitas Pertamina tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga lingkungan yang membentuk pemimpin masa depan yang berintegritas, khususnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Hal ini diwujudkan, salah satunya, melalui peminatan Artificial Intelligence pada Program Studi Ilmu Komputer yang menekankan pemanfaatan teknologi secara bijak dan memberikan manfaat nyata,"
tutup Prof. Wawan.