DPRK Gibas Cinta Damai Karawang Klarifikasi Insiden Roti Berjamur MBG
DPRK Gibas Cinta Damai Karawang klarifikasi insiden roti berjamur dan susu berbau dalam program MBG, menyebut persoalan sebagai kendala teknis bukan kegagalan program secara keseluruhan.

Karawang, — Dewan Pimpinan Resort (DPRK) Gibas Cinta Damai Kabupaten Karawang telah resmi memberikan klarifikasi dan meluruskan informasi seputar insiden roti berjamur dan susu berbau dalam paket program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan kepada siswa sekolah selama bulan Ramadan 2026. Organisasi ini menegaskan bahwa persoalan yang terjadi hanya bersifat kendala teknis dalam distribusi dan penyimpanan, bukan kegagalan program MBG secara keseluruhan.
Program MBG sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi kepada siswa sekolah dasar, dengan tujuan meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Karawang.
Latar Belakang Insiden
Pada 23 Februari 2026, pihak SD IT Al-Mijan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, melaporkan temuan roti berjamur dalam paket MBG kering yang diterima siswa. Paket makanan tersebut berasal dari Dapur MBG 3 Al-Baghdadi, salah satu penyedia program di wilayah tersebut. Kepala Dapur MBG 3 Al-Baghdadi, Reza Mahendra Sanusi, langsung menanggapi laporan sekolah dengan menghubungi distributor roti yang memasok produk ke dapur.
Menurut penjelasan Reza, distributor roti segera memberikan permohonan maaf atas insiden tersebut dan menjelaskan bahwa roti abon yang diproduksi tidak menggunakan bahan pengawet. Selain itu, roti dikemas saat masih dalam kondisi panas, yang menyebabkan terbentuknya embun di dalam kemasan plastik. Kondisi ini berpotensi memicu pertumbuhan lendir dan jamur pada produk makanan yang tidak terlindungi oleh pengawet.
Tidak hanya satu insiden, masalah serupa juga dilaporkan di SDN Karangjaya II, Desa Karangjaya, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, di mana siswa menemukan susu yang berbau tidak sedap dalam paket MBG mereka. Meskipun demikian, DPRK Gibas Cinta Damai menegaskan bahwa kejadian individu ini tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa program MBG secara keseluruhan bermasalah.
Penegasan dari DPRK Gibas Cinta Damai
Sekretaris Jenderal DPRK Gibas Cinta Damai Kabupaten Karawang, Samsudin KMD, menegaskan pentingnya melihat setiap insiden di lapangan secara proporsional, agar tidak menimbulkan persepsi yang menyesatkan di tengah masyarakat. Ia berkata dalam pernyataannya:
"Program ini memiliki tujuan yang sangat baik untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak. Jika terjadi kendala teknis dalam distribusi atau pengemasan, hal itu harus menjadi bahan evaluasi bersama, bukan langsung digeneralisasi sebagai kegagalan program."
Samsudin menambahkan bahwa program MBG pada dasarnya adalah kebijakan strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, sehingga setiap masalah yang muncul harus ditangani dengan pendekatan konstruktif, bukan dengan penilaian yang berlebihan tanpa dasar yang jelas.
Prioritas Keamanan Pangan dan Perbaikan Sistem
Selain menegaskan proporsionalitas penilaian, Samsudin juga menekankan bahwa aspek keamanan pangan harus menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan pelaksanaan program MBG, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah. Ia menilai bahwa koordinasi antara pihak dapur MBG, distributor makanan, serta pihak sekolah perlu diperkuat agar potensi kerusakan pangan dapat dicegah sejak awal.
Menurut Samsudin, insiden seperti roti berjamur atau susu berbau sejatinya bisa diminimalkan apabila ada kontrol mutu yang lebih ketat, termasuk:
- Pengawasan masa simpan produk secara teratur
- Sistem distribusi yang lebih cepat untuk memastikan makanan sampai ke siswa dalam kondisi segar
- Pelatihan keamanan pangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG
Ia menambahkan bahwa insiden ini seharusnya menjadi momentum evaluasi dan perbaikan sistem pelaksanaan program MBG di Kabupaten Karawang. Ia berharap bahwa dengan pengawasan yang lebih ketat dari satgas terkait, termasuk Badan Gizi Nasional di wilayah Karawang, kualitas distribusi pangan dalam program MBG akan semakin baik ke depan.
"Apa yang terjadi ini seharusnya menjadi momentum evaluasi dan perbaikan sistem. Dengan pengawasan yang lebih ketat dari satgas terkait, termasuk Badan Gizi Nasional di wilayah Karawang, kami yakin kualitas distribusi pangan dalam program MBG akan semakin baik ke depan," kata Samsudin.
Ajakan untuk Dukungan Konstruktif
Samsudin juga mengajak seluruh pihak, termasuk masyarakat, sekolah, dan penyedia program, untuk mendukung perbaikan program MBG secara konstruktif. Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan harus tetap bersifat objektif dan solutif, agar program pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah bisa berjalan optimal dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Karawang.
"Kritik yang disampaikan harus tetap bersifat objektif dan solutif agar program pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah tetap berjalan optimal dan memberi manfaat luas bagi masyarakat," ujarnya.