Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Doomscrolling Sebelum Tidur: Dampak pada Kesehatan Mental dan Tidur

Jabar · Oleh Raka Permana ·

Kebiasaan doomscrolling sebelum tidur bisa mengganggu kualitas tidur dan kesehatan mental. Artikel ini menjelaskan fenomena, dampak, dan cara mengurangi kebiasaan ini.

Doomscrolling Sebelum Tidur: Dampak pada Kesehatan Mental dan Tidur

Di era digital saat ini, menggulir layar ponsel sebelum tidur telah menjadi kebiasaan yang hampir universal. Banyak orang awalnya hanya berniat mengecek pesan terakhir, melihat satu postingan media sosial, atau membaca berita singkat sebelum memejamkan mata. Namun, tanpa disadari, beberapa menit tersebut sering berubah menjadi satu jam atau bahkan lebih, dengan satu video memicu video berikutnya dan satu berita membawa ke berita lain. Fenomena ini kini dikenal dengan istilah doomscrolling, yang kini menjadi perhatian utama karena kaitannya dengan kesehatan mental dan kualitas istirahat.

Ilustrasi aktivitas scrolling sosial media sebelum tidur

Apa Itu Doomscrolling?

Doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi digital, terutama konten yang memicu emosi negatif, rasa cemas, atau keinginan untuk terus mengetahui lebih banyak. Berbeda dengan sekadar scrolling santai yang dilakukan untuk menghibur diri, doomscrolling sering membuat seseorang sulit berhenti meskipun sebenarnya sudah merasa lelah. Banyak orang terjebak dalam siklus ini karena merasa perlu terus mengikuti perkembangan terbaru, bahkan menjelang waktu istirahat, atau karena tergila-gila dengan konten yang memicu emosi.

Dampak Doomscrolling pada Kualitas Tidur

Salah satu dampak paling langsung dari doomscrolling sebelum tidur adalah gangguan terhadap ritme sirkadian tubuh. Ketika seseorang terus terpapar layar ponsel hingga larut malam, paparan cahaya biru dari perangkat dapat menekan produksi melatonin, hormon yang bertanggung jawab untuk mengatur siklus tidur dan bangun. Hal ini membuat tubuh lebih sulit memasuki fase istirahat, bahkan jika seseorang merasa lelah secara fisik. Selain itu, konten yang dikonsumsi—baik berita negatif, video viral, atau komentar yang memicu emosi—membuat otak tetap aktif dan sulit tenang, sehingga memperlambat proses masuk tidur. Banyak orang yang melakukan doomscrolling melaporkan bahwa meskipun mereka akhirnya tertidur, kualitas tidur mereka buruk dan mereka merasa lelah saat bangun pagi.

Dampak pada Kesehatan Mental

Selain mengganggu kualitas tidur, doomscrolling juga dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan mental. Paparan informasi berlebihan yang bernuansa negatif atau membuat gelisah dapat membuat seseorang merasa lebih tegang, cemas, atau lelah secara mental. Kebiasaan ini juga sering menciptakan ilusi bahwa seseorang harus terus mengetahui segala hal, yang memicu fear of missing out (FOMO) dan membuat orang terus memeriksa layar ponsel meskipun tidak ada kebutuhan mendesak. Ironisnya, aktivitas yang awalnya dilakukan untuk "bersantai" justru membuat pikiran semakin aktif dan sulit tenang, sehingga memperparah kondisi emosional. Dalam jangka panjang, kebiasaan doomscrolling yang berkelanjutan dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi.

Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling

Untuk mengurangi dampak negatif doomscrolling sebelum tidur, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:

Kesimpulan

Teknologi memang memberikan akses informasi tanpa batas yang mudah dijangkau, tetapi tubuh dan pikiran tetap memiliki batas kebutuhan untuk beristirahat dan memulihkan energi. Doomscrolling mungkin terasa seperti kebiasaan kecil yang tidak berbahaya, tetapi jika dilakukan terus-menerus, dapat memengaruhi kualitas tidur dan keseimbangan mental secara perlahan. Menyadari pola ini dan mengambil langkah-langkah sederhana untuk mengurangi kebiasaan doomscrolling merupakan langkah awal untuk menjaga kesehatan di tengah kehidupan digital yang terus bergerak cepat.