Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dispertan Garut Minta Petani Beralih ke Palawija Antisipasi Kemarau

Jabar · Oleh · · Diperbarui 24 Agustus 2026

Dispertan Garut keluarkan surat edaran agar petani beralih ke palawija hadapi kemarau panjang. Padi tidak dianjurkan karena butuh air tinggi, jagung dan tembakau jadi alternatif.

Dispertan Garut Minta Petani Beralih ke Palawija Antisipasi Kemarau

Petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat, diminta segera mempersiapkan strategi baru menghadapi musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung lebih panjang. Dinas Pertanian setempat telah mengeluarkan surat edaran resmi yang menginstruksikan para petani untuk beralih sementara dari tanaman padi menuju komoditas palawija.

Imbauan Resmi dari Dispertan Garut

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, menegaskan bahwa surat edaran tersebut telah disebarkan kepada seluruh petani di wilayahnya. Instruksi ini muncul sebagai bentuk mitigasi dini terhadap potensi kerugian besar yang mungkin dialami petani akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Baca Juga: Kejari Purwakarta Tahan Tiga Tersangka Penyalagunaan Kredit Bank BUMN Senilai Rp 3,4 Miliar

"Instruksinya sekarang palawija saja, tetap palawija, tidak dianjurkan menanam padi dalam kondisi seperti ini. Kita sudah menyebarkan surat edaran dengan langkah-langkah penanganan kekeringan," tegas Ardhy.

Langkah ini diambil berdasarkan prakiraan BMKG yang menyebutkan bahwa musim kemarau tahun ini akan memiliki durasi lebih panjang dari biasanya. Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus 2026, sehingga petani perlu mempersiapkan diri sejak dini.

Mengapa Padi Tidak Dianjurkan?

Tanaman padi membutuhkan volume air yang sangat besar sepanjang siklus pertumbuhannya. Kondisi ini menjadi masalah serius ketika sumber air mulai menipis akibat kemarau panjang. Ardhy menjelaskan bahwa padi sangat rentan terhadap kekeringan, dan jika dipaksakan ditanam di musim kemarau, potensi gagal panen akan sangat tinggi.

Baca Juga: Damkar Kuningan Evakuasi Ular Kobra 1 Meter dari Rumah Guru Ngaji

"Tidak harus atau tidak melalui tanaman padi yang memang kebutuhan airnya sangat tinggi, tapi bisa menanam yang lebih kuat terhadap air," jelas Ardhy.

Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, petani yang memaksakan menanam padi di saat musim kemarau justru mengalami kerugian lebih besar. Biaya operasional untuk pengairan meningkat drastis, sementara hasil panen cenderung menurun signifikan.

Pilihan Komoditas Palawija yang Tahan Kekeringan

Dinas Pertanian merekomendasikan beberapa jenis tanaman palawija yang memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi terhadap minimnya pasokan air. Berikut pilihannya:

Ardhy menyebutkan bahwa jagung menjadi pilihan utama karena sudah teruji mampu bertahan di lahan kering. Begitu pula dengan tembakau yang masih menunjukkan pertumbuhan optimal meski dalam kondisi minim air.

Pengecualian untuk Lahan dengan Irigasi Baik

Perlu diperhatikan bahwa imbauan ini tidak bersifat mutlak. Bagi wilayah yang masih memiliki sumber air melimpah atau sistem irigasi yang memadai, petani tetap diperbolehkan menanam padi.

"Kalau kondisi infrastrukturnya atau irigasinya masih memungkinkan, tidak masalah untuk menanam padi. Tapi kalau sudah tahu pasti akan terjadi kekeringan, jangan memaksa tanam padi," imbau Ardhy.

Di beberapa kecamatan di Garut, masih terdapat lahan sawah yang tidak terlalu terpengaruh kemarau berkat sumber air tanah yang baik atau saluran irigasi yang berfungsi optimal. Petani di wilayah-wilayah tersebut memiliki keleluasaan untuk melanjutkan pola tanam padi seperti biasa.

Dampak Positif Strategi Beralih ke Palawija

Pelaksanaan strategi ini diharapkan memberikan sejumlah keuntungan bagi petani. Pertama, risiko kerugian akibat gagal panen bisa diminimalkan. Kedua, biaya produksi cenderung lebih rendah karena tidak memerlukan pengairan intensif. Ketiga, waktu dan tenaga yang dikeluarkan juga lebih efisien.

Palawija juga memiliki nilai jual yang cukup kompetitif di pasar lokal. Permintaan terhadap jagung, ubi, dan kacang-kacangan tetap stabil sepanjang tahun, sehingga petani tidak perlu khawatir soal pemasaran hasil panen.

Langkah forward-looking bagi Petani Garut

Bagipara petani di wilayah Garutyang ingin memaksimalkan musim kemarau kali ini, mengikuti imbauan ini merupakan langkah bijaksana. Mengalihkan perhatian dari padi menuju palawija bukan berarti mengurangi hasil pertanian, melainkan strategi adaptif yang lebih realistis.

Petani dihimbau untuk segera berkonsultasi dengan penyuluh pertanian di masing-masing kecamatan untuk mendapatkan informasi lebih detail mengenai teknik budidaya palawija yang tepat. Dengan persiapan yang matang, musim kemarau panjang ini bisa dilewati dengan minim kerugian.

Semoga dengan langkah proaktif ini, sektor pertanian di Garut tetap produktif dan petani bisa mempertahankan kesejahteraan mereka meski menghadapi tantangan cuaca yang tidak menentu.