Dinkes Bandung Gandeng Tokoh untuk Tingkatkan Imunisasi Campak 2026
Dinkes Kota Bandung menggandeng tokoh agama dan masyarakat untuk tingkatkan kesadaran imunisasi, menghadapi 28 kasus campak terkonfirmasi awal 2026 dengan target cakupan 95%.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung meluncurkan serangkaian strategi kolaboratif untuk meningkatkan cakupan imunisasi campak rubella, seiring dengan peningkatan kasus campak terkonfirmasi di awal tahun 2026. Langkah ini diambil meskipun akses layanan imunisasi di wilayah tersebut sudah dianggap memadai, namun masih ada hambatan dalam bentuk kesadaran dan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.
Ilustrasi: Proses pemberian vaksin campak (Sumber: Manoej Paateel/Shutterstock)
Data Kasus Campak di Awal Tahun 2026
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, menyatakan bahwa pada Januari hingga Februari 2026 tercatat 194 kasus suspek campak, dengan 28 di antaranya terkonfirmasi positif secara laboratorium. Dibandingkan dengan seluruh tahun 2025, jumlah kasus suspek mencapai 559 dengan 59 kasus positif terkonfirmasi.
Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada wilayah di Kota Bandung yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Hal ini disebabkan setiap kasus yang ditemukan belum memiliki hubungan epidemiologi yang memenuhi kriteria penetapan KLB.
Tantangan dalam Meningkatkan Cakupan Imunisasi
Salah satu tantangan utama yang dihadapi Dinkes Bandung adalah penyebaran informasi hoaks terkait vaksin di media sosial. Banyak orang tua di Kota Bandung yang menolak imunisasi bagi anaknya karena terpengaruh informasi yang tidak benar, kekhawatiran terhadap kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), maupun kekhawatiran terkait penyuntikan ganda.
Meskipun demikian, Dadan menegaskan bahwa akses layanan imunisasi di Kota Bandung sudah sangat mudah. Layanan tersebut tersedia di berbagai fasilitas kesehatan, baik milik pemerintah maupun swasta, dengan ketersediaan vaksin yang mencukupi sesuai kebutuhan.
Strategi Kolaborasi untuk Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Dinkes Kota Bandung menggandeng tokoh agama dan organisasi masyarakat untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat. Dadan menjelaskan bahwa keterlibatan tokoh agama dinilai penting untuk menjangkau kelompok masyarakat yang masih ragu terhadap vaksin.
"Dinas Kesehatan sudah melakukan pertemuan, sosialisasi, dan koordinasi dengan organisasi keagamaan seperti:
- Fatayat NU
- Aisyiyah
- PERSISTRI
terkait pentingnya imunisasi," kata Dadan pada Selasa (10/3).
Selain itu, Dinkes juga melakukan koordinasi dengan berbagai organisasi masyarakat lainnya untuk memperluas jangkauan sosialisasi. Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu melawan penyebaran hoaks dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.
Selain menggandeng tokoh agama, Dinkes Kota Bandung juga memperkuat layanan imunisasi rutin di puskesmas dan posyandu, serta melakukan pelacakan sasaran imunisasi atau defaulter tracking untuk memastikan anak yang belum mendapatkan vaksin dapat segera dijangkau. Program imunisasi kejar atau sweeping juga terus dilakukan, termasuk melalui kegiatan jemput bola ke sekolah maupun posyandu.
Target dan Harapan untuk Tahun 2026
Dinkes Kota Bandung menargetkan cakupan imunisasi campak rubella mencapai 95 persen secara merata di seluruh wilayah pada tahun 2026. Dadan berharap bahwa keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat membantu mencapai target ini, sehingga anak-anak di Kota Bandung mendapatkan perlindungan yang optimal dari penyakit campak.
"Kami berharap melalui kolaborasi ini, masyarakat dapat memahami pentingnya imunisasi dan tidak ragu lagi untuk memberikan vaksin kepada anak mereka," tambah Dadan.