Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dilema Film Indonesia: Solata Menang di Eropa, Senyap di Festival Film Bandung

Bandung · Oleh · · Diperbarui 4 September 2026

Film Solata meraih penghargaan internasional di Eropa tapi gagal di Festival Film Bandung 2026. Sutradara Ichwan Persada kritik sistem apresiasi festival domestik yang dinilai lebih memilih popularitas daripada kualitas.

Dilema Film Indonesia: Solata Menang di Eropa, Senyap di Festival Film Bandung

Film layar lebar Indonesia menuai fenomena paradoks yang menggugah pertanyaan penting tentang standar apresiasi perfilman nasional. Film Solata (Teman adalah Keluarga yang Kita Pilih) justru meraih pengakuan tinggi di panggung internasional, tepatnya di daratan Eropa, setelah gagal memperoleh prestasi di Festival Film Bandung (FFB) 2026.

Prestasi Internasional yang Mengesankan

Produksi yang digarap Walma Pictures bersama Indonesia Sinema Persada pada 2025 ini membuktikan taringnya di kancah global. Pada Juni 2026, Solata berhasil menyabet penghargaan khusus untuk kategori kebudayaan dan kemanusiaan dari Golden FEMI Film Festival yang diselenggarakan di Bulgaria.

Baca Juga: Pasar Kalcer 2026 Hadirkan 17 Subsektor Ekonomi Kreatif Bandung di Laswi Heritage Mulai 5 September

Pencapaian ini bukan sekadar penghargaan biasa. Film ini juga berhasil masuk dalam radar Tirana International Film Festival di Albania, sebuah festival bergengsi yang memiliki kualifikasi Oscar. Artinya, karya sinema Indonesia ini telah diakui oleh standar industri perfilman tertinggi di dunia.

"Keberhasilan menembus berbagai festival internasional, mulai dari Balkan hingga Timur Tengah, menunjukkan bahwa sinema Indonesia memiliki kekuatan naratif dan visual yang melampaui batas bahasa dan budaya."

Selain itu, Solata juga menjalankan misi diplomasi budaya di kawasan Timur Tengah melalui fasilitasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yordania.

Baca Juga: Persib Punya Nilai Skuad Rp161 Miliar Tertinggi di Indonesia, PSM Makassar Rp76 Miliar Jauh di Bawahnya

Refleksi Pedih dari Negeri Sendiri

Sutradara sekaligus produser film Solata, Ichwan Persada, angkat bicara terkait fenomena kontras ini. Saat ditemui di Makassar pada akhir Juli 2026, ia menyatakan bahwa hasil di FFB menjadi cermin bagi sistem apresiasi festival film dalam negeri.

"Ini menjadi refleksi kita bersama atas sistem apresiasi festival domestik. Meski karya-karya kita diapresiasi oleh luar negeri, belum tentu hal itu terjadi di negeri kita sendiri karena mungkin adanya sudut pandang lain."

Ichwan menilai bahwa ekosistem festival domestik kerap terjebak pada prioritas popularitas nama besar dibandingkan substansi dan kualitas artistik murni sebuah karya. Ia mengkritik pola yang ia sebut sebagai "diskriminasi berbasis ketenaran" dalam industri perfilman nasional.

Preseden yang Terulang

Sutradara kelahiran Makassar ini bahkan mengaitkan kondisi tersebut dengan pengalaman yang dialami film Women From Rote Island dua tahun lalu. Film tersebut memiliki akting luar biasa dari para aktornya, namun luput dari rekognisi Festival Film Indonesia (FFI).

Jika pola apresiasi yang berpusat pada popularitas ini terus berlanjut, Ichwan khawatir ekosistem perfilman nasional memerlukan evaluasi besar-besaran. Baginya, kualitas karya harus tetap menjadi panglima tertinggi dalam penilaian, bukan sekadar gengsi dan nombresa.

Implikasi bagi Masa Depan Sinema Indonesia

Kasus Solata menjadi bukti nyata bahwa sinema Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pentas dunia. Namun, paradoks yang terjadi—di mana karya lokal lebih mudah diakui internasional dibandingkan domestik—perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan perfilman nasional.

Ke depan, diperlukan pembenahan sistem apresiasi festival film dalam negeri agar tidak lagi terjebak pada preferential treatment terhadap nama-nama besar. Kualitas dan substansi artistik seharusnya menjadi ukuran utama, bukan popularitas semu yang bersifat temporer.

Film Solata telah memberikan pelajaran berharga: pengakuan internasional bukanlah jaminan penghargaan domestik, dan sebaliknya, kurangnya apresiasi lokal tidak selalu mencerminkan rendahnya kualitas sebuah karya.