Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Diaspora Jabar di AS Hibahkan 80 Hektare Lahan Konservasi di Cimenyan

KDM · Oleh Fikri Ramadhan ·

Diaspora Jabar Wendy Ratnasari dari AS hibahkan 80 hektare lahan di Cimenyan Bandung untuk konservasi ekologi sebagai kebun kopi dan tanaman tegakan

Diaspora Jabar di AS Hibahkan 80 Hektare Lahan Konservasi di Cimenyan

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menerima hibah hak pemanfaatan lahan seluas 80 hektare di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dari Wendy Ratnasari, diaspora asal Jawa Barat yang menetap di Amerika Serikat. Acara penandatanganan kesepakatan berlangsung di Gedung Pakuan, Kota Bandung, pada Jumat (14/3) dan dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi serta Wendy, menandai langkah signifikan dalam upaya penyelamatan lingkungan wilayah rawan erosi.

Lahan yang Diberikan untuk Konservasi Ekologi

Kawasan Cimenyan dikenal dengan lereng curam hingga 30 derajat, yang selama ini digunakan untuk perkebunan sayur. Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat Gandjar Yudniarsa, pola tanam sayuran di kawasan ini tidak mampu menjaga struktur tanah, sehingga berisiko tinggi mengalami erosi yang dapat mengancam keamanan lingkungan dan penduduk sekitar. "Tim kami telah melakukan pemetaan lahan kritis di Jawa Barat dan menemukan hamparan lahan milik Wendy yang selama ini digarap warga tanpa biaya sewa," jelas Gandjar.

Rencana perubahan komoditas tanaman dari sayuran menjadi kebun kopi dan tanaman tegakan diharapkan dapat mengatasi masalah erosi sekaligus memberikan manfaat ekologi jangka panjang. "Jenis tanaman ini memiliki akar tunggang yang kuat yang dapat memperkuat struktur tanah, serta menghasilkan oksigen dalam jumlah besar untuk meningkatkan kualitas udara di kawasan Bandung Utara," ujar Gubernur Dedi Mulyadi dalam keterangan resminya.

Dukungan untuk Petani Selama Masa Transisi

Salah satu kekhawatiran utama selama proses perubahan komoditas adalah nasib petani lokal yang selama ini menggarap lahan tersebut. Namun, Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa tidak ada petani yang akan kehilangan mata pencaharian. "Pemprov Jabar telah menyiapkan skema upah rutin bagi para petani selama masa transisi penanaman hingga kebun kopi mulai produktif, yang membutuhkan waktu sekitar 2-3 tahun," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa para petani akan tetap dilibatkan dalam proses pengelolaan lahan, sehingga mereka tidak perlu mencari pekerjaan lain dengan upah minim. "Daripada menjadi kuli panggul, mereka lebih baik fokus menanam dan merawat kebun ini dengan dukungan pembiayaan bulanan dari pemerintah provinsi," tegas Dedi. Langkah ini dirancang untuk memastikan bahwa perubahan komoditas tidak berdampak negatif pada kesejahteraan warga lokal.

Program Rehabilitasi dan Pemberdayaan Ekonomi

Selama masa tunggu panen kopi, pemerintah akan menjalankan program rehabilitasi lahan yang melibatkan warga lokal. Kegiatan yang akan dilakukan termasuk penanaman tanaman penutup tanah, pemeliharaan tanaman tegakan, dan perbaikan struktur lahan. "Program ini tidak hanya bertujuan untuk rehabilitasi lahan, tetapi juga untuk memberdayakan ekonomi warga sekitar," jelas Gandjar.

Wendy Ratnasari, yang telah bermukim di Amerika Serikat selama tiga dekade, menyatakan bahwa hibah lahan ini adalah wujud pengabdiannya kepada tanah kelahiran. Ia pindah ke AS pada usia 20 tahun untuk menempuh pendidikan dan berkarier, dan sekarang ingin memberikan kontribusi untuk kemajuan wilayah asalnya. > "Saya ingin menggerakkan ekonomi mereka. Jika nanti dikelola dengan profesional hingga menembus pasar ekspor, hasilnya tentu akan kembali untuk kesejahteraan mereka sendiri," tutur Wendy.

Gubernur Dedi Mulyadi juga menambahkan bahwa kawasan konservasi ini akan dijadikan model pengelolaan lahan yang holistik, yang mengintegrasikan fungsi ekologi, wisata, kesehatan lingkungan, hingga sarana edukasi bagi masyarakat. "Kami berharap langkah ini dapat menginspirasi pihak lain untuk turut serta dalam upaya penyelamatan lingkungan di Jawa Barat," ujarnya.

Berikut adalah beberapa manfaat utama dari program konservasi ini:

Acara penandatanganan ini juga merupakan bagian dari komitmen pemerintah Jawa Barat dalam meningkatkan pelestarian lingkungan, terutama di wilayah rawan erosi. Dengan dukungan dari sektor privat dan diaspora, diharapkan upaya penyelamatan lingkungan di Jawa Barat dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi semua pihak.