Desa Gunung Masigit Pilih Lahan Parkir Stone Garden untuk Kopdes Merah Putih: Ini Alasannya
Kopdes Merah Putih dibangun di lahan parkir Stone Garden karena Desa Gunung Masigit tidak punya tanah kas desa lain. PT Agrinas pilih lokasi ini sesuai aturan.

Latar Belakang Pemilihan Lokasi Kopdes Merah Putih di Stone Garden
Pembangunan program Kopdes Merah Putih atau Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di wilayah Bandung Barat kini menjadi sorotan publik. Program gagasan Presiden Prabowo ini resmi dibangun di kawasan Stone Garden, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.
Lahan yang digunakan untuk membangun Kopdes Merah Putih bukan di puncak gunung kapur Stone Garden, melainkan di area parkir yang lokasinya dinilai paling memungkinkan.
Baca Juga: Aulia Ulfa Lulus Terbaik Biologi IPB Setelah 4 Tahun Merantau dari Bondowoso
Proses Pengusulan dan Seleksi Lokasi oleh PT Agrinas
Kepala Desa Gunung Masigit, Tarkopa, menjelaskan bahwa sebelum pembangunan dimulai, pemerintah desa telah mengajukan lima lokasi berbeda sebagai opsi. Kelima lokasi tersebut mencakup kawasan Stone Garden di RW 9 Girimulya, Liung Gunung, Cigintung, Cihalimun, dan Cicalada.
"Saya tunjukkan ada beberapa titik carik desa. Setelah dilakukan pengecekan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara sebagai penanggung jawab program, yang dianggap paling ideal ya lokasi di Stone Garden," tutur Tarkopa, Selasa (7/7/2026).
PT Agrinas Pangan Nusantara merupakan perusahaan milik negara yang bertugas memverifikasi dan menentukan kelayakan setiap lokasi yang diusulkan oleh pemerintah desa di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Warga Banjarwangi Garrett tunggu perbaikan jalan rusak 3,5 km mulai Oktober 2026
Alasan Utama Lahan Parkir Stone Garden Dipilih
Camat Cipatat, Herman Permadi, membeberkan alasan utama mengapa area parkir Stone Garden akhirnya dipilih. Menurut Herman, aturan program Kopdes Merah Putih mensyaratkan pembangunan harus dilakukan di atas tanah kas desa.
"Di Gunung Masigit sudah tidak punya tanah kas desa lagi selain yang ada di dekat Stone Garden, yang selama ini dipakai sebagai lahan parkir," jelas Herman saat dikonfirmasi, Senin (6/7/2026).
Herman menambahkan, terdapat kriteria teknis yang harus dipenuhi setiap lokasi:
- Harus merupakan tanah kas desa
- Luas minimal 1.000 meter persegi
- Lahan harus datar dan tidak miring
"Akhirnya dipilih lokasi yang memang tersedia, datar, dan memenuhi syarat. Sebenarnya kami juga mencoba mengusulkan lokasi lain, tetapi tidak diterima karena lokasinya miring," katanya.
Progres Pembangunan dan clarifikasi Posisi Gedhung
Tarkopa memastikan bahwa pembangunan Kopdes di kawasan Stone Garden tidak mengganggu aktivitas parkir kendaraan wisatawan. Posisi gedhung berada di bagian bawah lereng Gunung Masigit, bukan di atas puncak gunung kapur.
"Posisinya di bawah Gunung Masigit, di lapang parkir Stone Garden. Dan pembangunan itu tidak mengganggu lapang parkir karena memang diatur jangan sampai posisinya ada di tengah-tengah," tegas Tarkopa.
Saat ini, progres pembangunan sudah mendekati selesai dan siap beroperasi dalam waktu dekat.
Potensi Kolaborasi dengan Pokdarwis dan Pelaku UMKM
Nantinya, Kopdes Merah Putih di Gunung Masigit diharapkan dapat berjalan sinergi dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Stone Garden. Tarkopa optimistis keberadaan Kopdes bisa membantu menyuplai warung-warung di kawasan wisata.
"Harapan saya nanti bisa berkolaborasi dengan pihak Pokdarwis karena Stone Garden itu dikelola oleh Pokdarwis," harap Tarkopa.
Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat ekonomi kreatif dan UMKM lokal di Desa Gunung Masigit.
Tantangan di Wilayah Kecamatan Cipatat
Di tingkat kecamatan, Herman Permadi mengungkapkan bahwa pembangunan Kopdes Merah Putih di 12 desa di Cipatat masih menghadapi hambatan besar. Hanya lima desa yang lahannya sudah siap, yaitu:
- Gunung Masigit
- Kertajaya
- Cipatat
- Ciaruamekar
- Nyalindung
"Yang lain masih terkendala karena tidak memiliki tanah kas desa. Misalnya Rajamandala sudah tidak punya tanah kas desa, begitu juga Mandalamukti," sambung Herman.
Dengan jumlah penduduk Desa Gunung Masigit sekitar 22.000 jiwa yang tersebar di beberapa RW, ketersediaan lahan menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan program ini.