Dedi Mulyadi Ungkap Nilai Pancasila di Desa Saat Hari Lahir Pancasila
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan esensi Hari Lahir Pancasila bukan hanya hafalan teks, melainkan kehidupan sehari-hari yang diwujudkan masyarakat desa melalui gotong royong dan musyawarah.

Konteks Peringatan Hari Lahir Pancasila di Jawa Barat
Pada peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Kota Bandung, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh lapisan masyarakat untuk meneladani pengamalan nilai-nilai ideologi negara dari kehidupan masyarakat pedesaan. Dalam pidatonya pada Senin (1/6), sapaan akrab Dedi Mulyadi yaitu KDM menegaskan bahwa esensi Pancasila tidak terletak pada kemampuan menghafal teks, melainkan pada penerapan nilai-nilai tersebut dalam perilaku sehari-hari.
Esensi Pancasila Bukan Hafalan Teks, Melainkan Perilaku Sehari-hari
"Padahal, dalam diri mereka, justru Pancasila hidup dalam napas, dalam jiwa, dan dalam perbuatan. Kita jangan pernah menggurui mereka yang tidak hafal teks Pancasila, tetapi melaksanakannya dalam kehidupan nyata," ujar Dedi Mulyadi di depan hadirin.
Gubernur Jawa Barat menekankan bahwa masyarakat di pelosok desa dan kampung terpencil telah mempraktikkan ideologi negara tersebut dalam setiap napas dan aktivitas sehari-hari. Meskipun sering dianggap terbelakang atau jauh dari peradaban, lingkungan desa adalah representasi nyata dari pengamalan Pancasila yang autentik.
Nilai Gotong Royong dan Musyawarah sebagai Bentuk Pengamalan
Menurut Dedi Mulyadi, mimpi besar dalam bernegara dan berpancasila adalah terwujudnya kehidupan yang dilandasi nilai ketuhanan serta tenggang rasa antarsesama manusia. Nilai-nilai ini tercermin dengan jelas dari budaya gotong royong yang masih kental di desa, di mana warga bekerja sama untuk mewujudkan harapan keluarga maupun masyarakat. Selain itu, pola hidup masyarakat desa yang gemar berkumpul dan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah adalah bentuk nyata dari asas mufakat. Gubernur Jawa Barat juga menambahkan bahwa distribusi rasa adil, baik secara material maupun imaterial, lebih terasa dan terwujud di lingkungan desa dibandingkan di wilayah perkotaan. "Itulah mimpi dalam kehidupan bernegara dan berpancasila. Seluruh mimpi itu terasa hidup justru di desa, di kampung yang dianggap terpencil, terbelakang, dan kadang direndahkan sebagai masyarakat yang jauh dari peradaban," tandasnya.
Kritik Terhadap Fenomena Seremonial Tanpa Makna
Di sisi lain, Dedi Mulyadi memberikan kritik tajam terhadap fenomena yang terjadi saat ini, di mana banyak pihak—termasuk dirinya sendiri—rutin membacakan teks Pancasila dalam upacara atau menggelar peringatan seremonial, namun perilaku mereka masih jauh dari spirit Pancasila itu sendiri. Gubernur Jawa Barat mengakui bahwa ia juga pernah terlibat dalam aktivitas semacam itu, namun kini menyadari bahwa Pancasila bukanlah hiasan ruang kerja atau ucapan di upacara semata.
Momentum untuk Kesadaran Kolektif
Dedi Mulyadi berharap momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi titik balik kesadaran kolektif bagi seluruh warga negara Indonesia. Ia mengajak semua orang untuk mulai menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya menghafalnya.
"Semoga di Hari Lahir Pancasila menyadarkan kita semua bahwa Pancasila bukan hiasan ruang kerja, Pancasila bukan ucapan di upacara, tapi Pancasila ialah kehidupan yang tumbuh dalam diri dan masyarakat. Semoga kita hidup rukun, berideologi, berfalsafah, berbangsa, dan bernegara Pancasila," tegasnya.
Berita Terkait
- KDM Ancam Sanksi Tegas Jika Ada Pelanggaran Penerimaan Sekolah Maung
- KDM Usul 70 Persen Pajak Tambang Masuk Kas Desa