Dedi Mulyadi Tegas: Optimalkan Dana BOS Sebelum Kembalikan SPP SMA/SMK
Dedi Mulyadi sekolah optimalkan pengelolaan dana BOS terlebih dahulu sebelum reintroduksi SPP di SMA/SMK negeri Jawa Barat, mengingat kesenjangan anggaran masih tinggi.

Seorang pejabat daerah mensyaratkan agar pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dioptimalkan terlebih dahulu sebelum rencana reintroduksi biaya SPP untuk jenjang SMA dan SMK negeri di Jawa Barat.
Mantan Artis Itu Ingin Fokus pada Pengelolaan Dana BOS
Pernyataan tegas sampaikan oleh Dedi Mulyadi menyusul wacana pengembalian pungutan SPP di sekolah-sekolah menengah atas negeri di wilayah Provinsi Jawa Barat. Dirinya menegaskan bahwa saat ini prioritas utama seharusnya adalah memastikan setiap sekolah mampu mengelola dana BOS dengan efektif dan transparan.
Baca Juga: Kejari Purwakarta Tahan Tiga Tersangka Penyalagunaan Kredit Bank BUMN Senilai Rp 3,4 Miliar
"Jadi tahap pertama sekarang saya ingin berfokus sekolah itu mengelola dana BOS dulu dengan baik," katanya dengan tegas.
Kisah Nyata Pengelolaan Dana BOS di Tingkat Lapangan
Dedi Mulyadi mengungkapkan telah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah sekolah SMA dan SMK negeri di berbagai wilayah Jawa Barat. Temuannya cukup menarik perhatian.
Baca Juga: Damkar Kuningan Evakuasi Ular Kobra 1 Meter dari Rumah Guru Ngaji
Ia menemukan kondisi yang kontras antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Di SMAN 1 Depok misalnya, gedung sekolah terlihat rapi dan terawat meskipun hanya dana BOS. Ketika dikonfirmasi, kepala sekolah setempat menjelaskan bahwa keberhasilan itu berakar pada pengelolaan keuangan yang baik.
"Gini, dana BOS itu saya kan sudah mengunjungi setiap sekolah nih. Sekolah ini pakai dana BOS, sekolahnya berantakan. SMA 1 Depok itu pakai dana BOS, sekolahnya rapi," keluh Dedi saat menyampaikan penemuannya.
Skema Pembagian Tanggung Jawab Biaya Sekolah
Dalam konsep yang sampaikan, kekurangan fasilitas sekolah akan menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Sementara dana BOS yang tersedia saat ini sebaiknya dimaksimalkan untuk kebutuhan operasional dasar.
"Nanti ada kekurangan-kekurangan apa, kan gitu. Biasanya kan kekurangannya fasilitas toilet, sekolahnya kurang ruang kelas, sekolahnya kurang pendingin ruangan, sekolahnya kurang sarana ibadah, sekolahnya kurang pagar. Nah itu kita penuhi oleh provinsi," urainya.
"Tapi operasional sekolah itu dipenuhi dulu oleh BOS. Jangan dulu membuka SPP. Saya menghormati usulan itu tetapi juga saya mempertimbangkan aspek publik."
Kesenjangan Biaya Pendidikan yang Belum Terjawab
Di satu sisi, rencana reintroduksi SPP memang muncul dari kebutuhan riil pendidikan. Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Yomanius Untung, memberikan gambaran betapa besar kesenjangan anggaran yang hadapi.
- Kebutuhan biaya layak per siswa SMA: sekitar Rp4,5 juta per tahun
- Kemampuan pemerintah daerah: sekitar 40 persen atau setara Rp1,6 juta
"Kalau pendapatan sekolahnya segitu-segitu saja, hanya 40 persen, bahkan hanya Rp1,6 juta dari kebutuhan Rp4,5 juta itu unit cost-nya," terang Yomanius.
Hal ini bahwa kemampuan pembiayaan pemerintah saat ini masih jauh dari kebutuhan riil operasional sekolah untuk menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas.
Rencana SPP Masih Dalam Tahap Pembahasan
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, memberikan penjelasan bahwa berbagai masukan dan aspirasi dari berbagai pihak masih terus dibahas. Belum ada keputusan final mengenai implementasi rencana tersebut.
"Masih menjadi pembahasan. Jadi nanti kita lihat seperti apa, apakah harapan-harapan yang lahir dari pembicaraan tersebut," kata Purwanto, pertengahan Juli 2026.
Ia menambahkan bahwa salah satu alasan munculnya usulan tersebut adalah karena banyak sekolah negeri membutuhkan tambahan dukungan anggaran agar penyelenggaraan pendidikan dapat berjalan lebih optimal.
Penutup
Pandangan Dedi Mulyadi membawa perspektif pragmatis dalam menyikapi kebutuhan anggaran pendidikan di Jawa Barat. Bagaimanapun, kesenjangan antara kemampuan keuangan pemerintah dengan kebutuhan riil operasional sekolah tetap menjadi tantangan besar yang harus cari solusinya secara komprehensif.
Kualitas pendidikan tidak bisa menunggu, namun kebijakan yang terburu-buru tanpa landasan memadai justru berpotensi memunculkan polemik baru di masyarakat.
Baca juga: Sekolah Negeri di Jawa Barat Ditarget Optimalkan Penggunaan Dana BOS untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan