Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dedi Mulyadi: 42 Jembatan Jabar Tak Dirawat 5 Tahun, Berisiko Roboh

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap 42 jembatan milik provinsi berisiko roboh karena 5 tahun tanpa perawatan. Pemerintah menyiapkan dana Rp395 miliar dan rencana pinjaman daerah untuk perbaikan.

Dedi Mulyadi: 42 Jembatan Jabar Tak Dirawat 5 Tahun, Berisiko Roboh

Temuan Mengejutkan Dedi Mulyadi tentang Jembatan Jabar

Pada 4 Maret 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap temukan mengejutkan yang mengkhawatirkan terkait kondisi jembatan milik pemerintah provinsi. Dalam konferensi pers di Bandung, Dedi menyatakan bahwa ia terkejut menemukan bahwa 42 jembatan di seluruh kabupaten dan kota di Jabar tidak pernah diurus selama lima tahun ke belakang, dengan risiko keruntuhan yang tinggi jika tidak segera ditangani. Dia menegaskan bahwa kondisi jembatan tersebut sudah memprihatinkan dan membutuhkan penanganan segera untuk menghindari bencana yang mungkin terjadi.

Deteksi Risiko Kerusakan Jembatan Milik Pemprov Jabar

Menurut data dari Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Jabar, total jembatan milik Pemprov Jabar mencapai 1.381 unit yang tersebar di seluruh ruas jalan provinsi. Kepala BMPR Jabar Agung Wahyudi menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, 1.123 unit jembatan berada dalam kondisi baik dan aman untuk digunakan. Namun, 42 unit lainnya memiliki kerusakan parah yang membuatnya berisiko roboh jika tidak segera diperbaiki atau diganti.

Agung menambahkan bahwa pengecekan rutin jembatan dilakukan setiap tahun, tetapi tidak ada tindakan perbaikan yang diambil selama lima tahun terakhir karena kurangnya alokasi anggaran dan prioritas yang berbeda di kepemimpinan sebelumnya. Hal ini menyebabkan kerusakan jembatan terus menumpuk, sehingga beban perbaikan sekarang menjadi lebih besar dan membutuhkan dana yang signifikan.

Alasan Keterlambatan Perawatan dan Dampaknya

Dedi menyatakan bahwa selama lima tahun kepemimpinannya sebelumnya, tidak ada program perawatan rutin atau pembangunan jembatan baru yang dijalankan, kecuali proyek Sodongkopo Jaya Perkasa di Pangandaran yang tertunda selama setahun dan baru dilanjutkan saat ini. Hal ini menyebabkan kondisi jembatan di Jabar semakin memburuk, dengan banyak jembatan yang mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan seperti retakan, penurunan struktur, dan masalah perpipaan.

"Jembatan yang tidak dirawat akan mengalami kerusakan yang lebih cepat, terutama akibat beban lalu lintas yang terus meningkat dan cuaca ekstrem yang sering terjadi di Jabar," kata Dedi dalam konferensi pers. "Risiko keruntuhan jembatan tidak hanya membahayakan keselamatan pengendara, tetapi juga menghambat konektivitas antarwilayah, yang berdampak pada perekonomian lokal dan akses masyarakat ke layanan publik."

Dia menambahkan bahwa hal ini menjadi beban berat bagi pemerintah provinsi, mengingat kondisi fiskal Pemprov Jabar yang belum membaik, sehingga pemerintah harus mencari cara alternatif untuk membiayai proyek perbaikan jembatan.

Rencana Anggaran dan Pembiayaan Perbaikan Jembatan

Untuk mengatasi masalah ini, Dedi menyatakan bahwa pemerintah provinsi telah mengidentifikasi kebutuhan anggaran sebesar Rp395 miliar untuk rehabilitasi dan penggantian 42 jembatan yang berisiko roboh. Karena kondisi fiskal Pemprov Jabar yang belum membaik, pemerintah berencana mengajukan pinjaman daerah sebesar Rp2 triliun pada tahun 2026, yang sebagian akan digunakan untuk proyek infrastruktur termasuk perbaikan jembatan.

Rencana penggunaan pinjaman daerah ini akan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jabar dalam rapat kerja yang akan diadakan pada bulan April 2026. Dedi menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan memastikan bahwa dana pinjaman digunakan secara efisien dan transparan, dengan pengawasan yang ketat dari pihak terkait.

Tanggapan BMPR Jabar tentang Prioritas Infrastruktur

Dalam kesempatan yang sama, Agung Wahyudi menegaskan bahwa peningkatan kualitas infrastruktur jalan dan jembatan akan tetap menjadi prioritas utama BMPR Jabar. Dia menjelaskan bahwa dinasnya telah merencanakan serangkaian langkah untuk meningkatkan kualitas infrastruktur, termasuk peningkatan frekuensi pengecekan rutin, perbaikan kerusakan segera, dan pembangunan jembatan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Prinsip kami adalah 'jalan mantap untuk pelayanan publik yang mantap'," kata Agung. "Kami bekerja memastikan bahwa setiap ruas jalan provinsi dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat, dunia usaha, dan konektivitas antarwilayah. Kami juga akan berkolaborasi dengan mitra pelaksana dan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa proyek infrastruktur berjalan sesuai rencana dan tepat waktu."

Implikasi dan Harapan Masyarakat

Temuan ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana manajemen infrastruktur Jabar selama lima tahun sebelumnya, mengingat risiko keruntuhan jembatan yang dapat menyebabkan bencana dan kerugian materi yang signifikan. Selain itu, rencana penggunaan pinjaman daerah untuk perbaikan infrastruktur juga menjadi perhatian bagi sebagian masyarakat, yang khawatir tentang beban hutang yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah di masa depan.

Namun, sebagian masyarakat juga mengapresiasi langkah pemerintah provinsi untuk segera menangani masalah ini, mengingat pentingnya infrastruktur yang baik untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Banyak yang berharap bahwa proyek perbaikan jembatan dapat diselesaikan tepat waktu dan sesuai anggaran, sehingga dapat meningkatkan konektivitas antarwilayah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jabar.

Secara keseluruhan, masalah jembatan yang tidak dirawat di Jabar menjadi perhatian serius yang membutuhkan penanganan segera. Dengan rencana anggaran dan pembiayaan yang telah ditentukan, pemerintah provinsi berkomitmen untuk memperbaiki infrastruktur jembatan dan meningkatkan kualitas layanan publik bagi masyarakat. Namun, keberhasilan proyek ini tergantung pada kolaborasi antara pemerintah, DPRD, mitra pelaksana, dan masyarakat untuk memastikan bahwa dana digunakan secara efisien dan proyek berjalan sesuai rencana.