Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dari Atap Masjid Jadi Kebanggaan Majalengka, Jejak Genteng Jatiwangi Sejak 1905

Jabar · Oleh Raka Permana · · Diperbarui 2 Maret 2026

Industri genteng tanah liat Jatiwangi Majalengka yang berusia lebih dari seratus tahun bukan hanya penggerak ekonomi daerah, tetapi juga simbol budaya. Namun, kini menghadapi tantangan regenerasi pengrajin dan adaptasi teknologi untuk tetap bertahan di era modern.

Dari Atap Masjid Jadi Kebanggaan Majalengka, Jejak Genteng Jatiwangi Sejak 1905

Genteng Jatiwangi Majalengka telah menjadi salah satu pusat produksi genteng tanah liat terbesar di Indonesia selama lebih dari seratus tahun. Industri ini tidak hanya menjadi penggerak ekonomi daerah, tetapi juga telah menanamkan diri sebagai simbol budaya dan jati diri masyarakat setempat. Namun, seiring berjalannya waktu, industri rakyat ini menghadapi tantangan besar dalam regenerasi pengrajin dan adaptasi teknologi untuk tetap relevan di era modern.

Sejarah Panjang Industri Genteng Jatiwangi: Dari Tahun 1905 hingga Masa Kejayaan

Awal mula industri genteng di Jatiwangi dimulai pada tahun 1905, ketika Haji Umar bin Ma’ruf memutuskan mengganti atap masjid yang semula menggunakan rumbia dengan genteng tanah liat. Untuk mewujudkan ide ini, ia mendatangkan seorang pengrajin bernama Barmawi untuk melatih warga setempat dalam pembuatan genteng secara manual.

“Untuk mewujudkan itu, didatangkan seorang perajin bernama Barmawi untuk melatih warga membuat genteng dari tanah liat,” ujar Illa Syukrillah Syarrief (Pak Kadus), Direktur Museum Genteng Jatiwangi, kepada kumparan.

Setelah pembangunan masjid selesai, keterampilan warga dalam pembuatan genteng semakin berkembang. Awalnya, produksi hanya untuk kebutuhan lokal, namun seiring waktu, hasil produksi mulai dipasarkan ke daerah sekitar hingga akhirnya menembus pasar luar pulau.

Masa kejayaan industri genteng Jatiwangi terjadi pada rentang tahun 1980 hingga 2005, ketika produksi mencapai puncaknya dan bahkan berhasil menembus pasar ekspor ke Brunei Darussalam. Permintaan khusus dari Brunei bahkan menciptakan istilah warna Brunei untuk varian genteng yang dibuat sesuai permintaan negara tersebut.

Selama perjalanan sejarahnya, berbagai jenis genteng berkembang di Jatiwangi:

Sebelum penggunaan mesin pres, proses produksi dilakukan secara manual: dicetak dengan cetakan kayu, dibentuk tangan, lalu dibakar dengan tungku sederhana berbahan sampah.

Genteng Bukan Hanya Komoditas, Melainkan Jati Diri Daerah

Bagi masyarakat Jatiwangi, genteng bukan hanya produk ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas daerah yang tak terpisahkan. Illa menyebutkan, keberadaan genteng telah berkontribusi besar dalam pembangunan fasilitas publik di berbagai wilayah Indonesia.

“Genteng Jatiwangi dipakai di sekolah, rumah sakit, hingga bangunan di berbagai wilayah. Kami merasa seperti ‘pahlawan peneduh’,” ungkapnya.

Industri genteng juga memiliki peran sosial yang kuat. Perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama penting dalam proses produksi, banyak ibu yang bisa tetap bekerja sambil mengasuh anak di lingkungan pabrik. Hal ini menjaga hubungan keluarga dan mencegah warga harus merantau ke kota besar.

Selain itu, sebagian besar pekerja genteng juga berprofesi sebagai petani, dengan produksi genteng disesuaikan dengan musim tanam dan panen padi. Hubungan erat antara industri genteng dan pertanian menjadi salah satu ciri khas industri rakyat ini.

Komunitas Jatiwangi juga mengangkat genteng sebagai simbol budaya melalui kegiatan seperti Rampak Genteng, sebuah pertunjukan seni yang menggabungkan gerakan tubuh dengan suara genteng, serta berbagai kegiatan komunitas yang melibatkan pekerja industri genteng.

Tantangan Modern: Regenerasi Pengrajin dan Adaptasi Teknologi

Meskipun masih bertahan, industri genteng Jatiwangi menghadapi tantangan besar di era modern. Kapasitas produksi banyak pabrik mengalami penurunan, dari puncaknya 4 juta keping per hari menjadi sekitar 500 ribu hingga 600 ribu keping per hari saat ini. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor:

Illa menekankan bahwa inovasi produk menjadi kunci utama agar industri genteng Jatiwangi tetap relevan dengan kebutuhan bangunan modern. Ia menyambut baik rencana program nasional yang mendorong penggunaan genteng tanah liat sebagai pengganti atap seng, namun menekankan bahwa hal ini harus diikuti dengan peningkatan kualitas produk dan adaptasi teknologi.

“Harapannya, pengrajin bisa terus berinovasi dan tidak hanya bertahan pada produk lama,” katanya.

Masa Depan Industri Genteng Jatiwangi: Harapan dan Strategi

Untuk menjaga kelangsungan industri genteng Jatiwangi, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak:

Meskipun menghadapi tantangan, industri genteng Jatiwangi masih memiliki potensi besar untuk bertahan dan berkembang. Dengan memadukan warisan budaya dengan inovasi modern, genteng Jatiwangi dapat tetap menjadi simbol kebanggaan daerah dan penggerak ekonomi rakyat di Majalengka.