Danantara Indonesia Trust Resmi Diluncurkan: Fokus Kesehatan, Beasiswa, dan Literasi Budaya
Danantara Indonesia Trust resmi diluncurkan dengan tiga kemitraan strategis di bidang kesehatan, pendidikan, dan literasi budaya, dengan pendanaan awal USD 100 juta dan alokasi dividen BUMN tahunan.

Pada 25 Mei 2026, Danantara Indonesia secara resmi meluncurkan Danantara Indonesia Trust (DIT), yayasan filantropi independen yang bertujuan memperluas dampak sosial perusahaan. Peluncuran ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan tiga mitra strategis di Kementerian Kesehatan, Karya Salemba Empat, serta Museum dan Cagar Budaya di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta.

Kepala Eksekutif Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan bahwa pendirian DIT bukan hanya tentang pengelolaan investasi negara, melainkan juga misi untuk mendorong pembangunan sosial yang lebih luas. "Melalui Danantara Indonesia Trust, kami memperluas misi kami untuk memperkuat sumber daya manusia dan menjawab tantangan sosial, karena kami percaya bahwa penciptaan nilai jangka panjang harus berjalan seiring dengan dampak nyata bagi masyarakat," ujar Rosan dalam acara peluncuran.
Rosan juga mengungkapkan skema pendanaan yang akan menopang keberlanjutan program DIT. Perusahaan menyiapkan dana awal sebesar USD 100 juta, serta akan menyisihkan setidaknya 1 persen dari total dividen yang diterima dari semua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) setiap tahunnya. Menurut dia, skema ini memastikan program sosial DIT dapat terus berkembang dan memiliki pendanaan jangka panjang yang berkelanjutan.
Program Kesehatan: Menangani Tantangan Kesehatan Ibu dan Anak
Salah satu fokus utama kerja sama perdana DIT adalah sektor kesehatan, yang dilakukan bersama Kementerian Kesehatan. Program ini akan fokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak dengan tiga komponen utama: penyediaan vaksin heksavalen, penguatan rantai dingin vaksin (cold chain), serta distribusi suplemen Multiple Micronutrient bagi ibu hamil.
Program ini disiapkan di tengah berbagai tantangan kesehatan yang masih dihadapi Indonesia. Meski cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai 80,2 persen pada 2025, data menunjukkan masih terdapat hampir 960 ribu anak yang belum memperoleh imunisasi sama sekali atau masuk kelompok zero-dose. Di sisi lain, angka kematian ibu masih tercatat sebesar 189 per 100 ribu kelahiran hidup. Meskipun prevalensi stunting turun menjadi 19,8 persen pada 2024, masalah gizi akut atau wasting masih tetap berada di level 7,4 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masih ada celah besar dalam akses layanan kesehatan ibu dan anak di Indonesia, terutama di daerah terpencil. Oleh karena itu, program DIT bertujuan untuk menutupi celah ini dengan meningkatkan akses ke vaksin dan layanan kesehatan lainnya.
Program Beasiswa: Membantu Mahasiswa Kurang Mampu Meraih Mimpi
Di sektor pendidikan, DIT menggandeng Karya Salemba Empat untuk menyelenggarakan program beasiswa selama tiga tahun kepada sekitar 500 mahasiswa kurang mampu di berbagai wilayah Indonesia. Selain beasiswa finansial, program ini juga dilengkapi dengan pendampingan akademik, pengembangan kepemimpinan, serta kesiapan karier untuk memastikan para penerima beasiswa dapat mengoptimalkan potensi mereka.
Program ini diluncurkan di tengah tingginya jumlah anak muda Indonesia yang tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan (disingkat NEET). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok NEET mencapai sekitar seperlima dari populasi usia 15–24 tahun di Indonesia. Angka NEET yang tinggi menjadi perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan sumber daya manusia di Indonesia, serta meningkatkan risiko ketidaksetaraan sosial. Rosan menambahkan bahwa program beasiswa ini bertujuan untuk mengurangi angka NEET serta memberikan akses pendidikan berkualitas kepada mereka yang kurang beruntung.
Program Literasi Budaya: Memperluas Akses Pengetahuan Budaya
Kerja sama ketiga DIT adalah dengan Museum dan Cagar Budaya, yang difokuskan pada pembangunan Perpustakaan Danantara Indonesia Trust di Museum Nasional. Program ini bertujuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan literasi budaya, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah dengan akses terbatas ke sumber informasi budaya.
Perpustakaan ini diharapkan dapat menjadi pusat pembelajaran yang menyediakan koleksi buku, artefak, dan materi edukasi tentang warisan budaya Indonesia. Selain itu, perpustakaan ini juga akan menyelenggarakan berbagai acara workshop, lokakarya, dan pameran untuk mempromosikan literasi budaya di kalangan masyarakat luas.
Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, Nuraini Razak, mengatakan bahwa setiap kemitraan yang diumumkan pada hari ini dipilih untuk menjawab kebutuhan pembangunan paling mendesak di Indonesia. "Setiap kemitraan yang diumumkan hari ini dipilih untuk menjawab kebutuhan pembangunan paling mendesak di Indonesia, seperti kesehatan ibu dan anak, akses terhadap pendidikan berkualitas serta literasi budaya. Melalui kolaborasi ini, program-program tersebut akan menjadi fondasi DIT sebagai platform yang memobilisasi aksi kolektif, mendorong solusi berskala besar, dan menghadirkan dampak nyata di seluruh Indonesia," ujarnya.
Dengan peluncuran program perdana ini, DIT berharap dapat menjadi pemain kunci dalam upaya pembangunan sosial di Indonesia, dengan menggabungkan kekuatan sumber daya swasta, pemerintah, dan lembaga non-pemerintah untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Melalui pendanaan yang stabil dan kolaborasi yang erat dengan berbagai mitra, DIT bertujuan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun ke depan.